10 Gambar Benteng Pendem Ngawi, Sejarah Misteri Angker + Asal Usul Lokasi Alamat Peta

Posted on
Benteng pendem ngawi sejarah angker misteri gambar asal usul mula lokasi alamat foto keangkeran uji nyali peta wikipedia jawa timur tempo jaman dulu dunia lain artikel van den bosh berdirinya biaya masuk cerita mistis tentang horor gps jatim jalur jalan masih kota kisah keindahan rute letak legenda taman labirin mitos makalah makam menuju prewedding penampakan prewed penghuni profil hantu dari sragen selamatkan sumur terbentuknya singkat tempat tiket wisata video youtube mister tukul
Pintu Masuk Benteng Pendem Ngawi. Foto: pinterest.com

Lokasi: Jl. Untung Suropati, Pelem, Kec. Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur 63211, Indonesia
Maps: Klik Disini
HTM: Rp. 5.000
Buka/Tutup: 08.00 – 17.00 WIB
Telepon: +62 351 744466

Indonesia menjadi salah satu negara yang dahulu dijajah oleh pemerintah kolonial Belanda. Hal ini tentu saja memberikan peran penting kepada sektor arsitektur dan juga tata kota di Indonesia. Hal ini terlihat dengan sejarah yang berhubungan erat dengan kondisi tata kota di beberapa kota besar di Indonesia.

Sebut saja Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya dan juga di luar pulau Jawa yang memiliki bangunan heritage yang menjadi salah satu bukti bagaimana Belanda pada tempo dulu pernah menjajah dan memimpin pemerintahan Indonesia pada masa tersebut. Hampir di setiap kota di Indonesia bangunan peninggalan jaman Belanda bisa ditemukan. Salah satunya di kota Ngawi Jawa Timur atau Jatim yang memiliki bangunan bersejarah yang komplit dengan kisah mistis dan juga keangkerannya tersebut. Benteng Pendem Van Den Bosch atau biasa disebut Fort Van Den Bosch menjadi saksi sejarah

Taman di Benteng Pendem Ngawi. Foto: tripadvisor.com

Asal Usul Benteng Pendem Van Den Bosch

Benteng Pendem Van Den Bosch ini menjadi salah satu bangunan bersejarah yang cukup terkenal di kota Ngawi. Lokasi dan alamat dari benteng ini terletak di daerah Komplek Angicipi Batalyon Armed 12 yang berada di antara pertemuan jalan utama Diponegoro yang berada di area timur dengan Jalan Untung Suropati yang berada di sebelah barat.

Alamat lengkap dari benteng ini ada di RT/RW 07/02, Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupatan Ngawi. Bangunan heritage ini diambil dari nama Johannes Graaf Van Den Bosch yang merupakan awal mula dari pemberian nama dari benteng tersebut. Nama Benteng Van Den Bosch ini memang diambil dari nama beliau yang memang mempunyai peran penting di Kabupaten Ngawi pada masa tersebut. Terbentuknya benteng tersebut digunakan untuk melawan para pejuang Indonesia ini dibangun pada tahun 1839 – 1845.

Benteng ini menjadi saksi bisu bagaimana Belanda mengalami kesulitan menghadapi pasukan dari Pangeran Diponegoro yang menyerang Belanda dalam Perang Jawa di tahun 1825 – 1830 pada jaman dulu. Ketika itu pasukan yang dipimpin oleh Wirotani menurut cerita dari Buku De Java Oorlog milik P.J.F. Louw yang terbit di Tahun 1894 membuat para pasukan Belanda ini kesulitan.

Bangunan Utama Benteng Pendem. Foto: kempor.com

Benteng ini berada di area dengan luas ± 1 Hektar. Di sebelah benteng ini bisa terlihat adanya sungai Bengawan Solo yang mengalir di sebelah utara  dari benteng tersebut. Sementara untuk area selatan ini bisa terlihat dengan jelas sungai Bengawan Madiun. Tembok dari benteng ini memiliki bentuk persegi panjang dengan bagian ujung terdapat Bastion atau Seleka. Lalu di sekeliling dari benteng tersebut sudah terdapat parit dan juga gundukan tanah. Praktis benteng ini sangat efektif untuk menahan serangan pasukan Diponegoro pada masa itu.

Pada masa tersebut kota Ngawi ini memiliki status yaitu Onder-Regentschap. Lalu statusnya diubah menjadi Regentschap atau setara dengan Kabupaten di dalam Karesidenan Madiun. Ketika itu dipimpin oleh Bupati Raden Adipati Kertonegoro di tahun 1834. Pemilihan kota Ngawi sebagai salah satu kota pemerintahan Belanda disebabkan letak dari kota tersebut yang sangat strategis dan juga memberikan potensi yang bisa menguntungkan untuk pemerintahan kolonial Belanda pada saat itu.

Di tahun 1962 usai kemerdekaan Indonesia akhirnya benteng ini menjadi markas serta gudang amunisi untuk Batalyon Armed 12. Sebelumnya Batalyon Armed 12 ini letaknya berada di Kecamatan Rampal, Malang. Kemudian dipindahkan ke benteng ini yang dialih fungsikan pula sebagai latihan perang.

Hanya 8 tahun benteng difungsikan sebagai markas. Pada tahun 1970 – 1980 akhirnya gudang dipindahkan ke Jalan Siliwangi. Dan benteng ini kosong tidak berpenghuni. Hal ini yang membuat suasana di benteng tersebut cukup angker bahkan pernah masuk ke dalam acara Dunia Lain serta uji nyali. Di tahun 2011 akhirnya pemerintah setempat membuka kembali Benteng Van Den Bosch yang bisa dikunjungi oleh masyarakat umum. Setelah sebelumnya kosong dan ditutup tidak boleh dikunjungi, di tahun 2012 Pemerintah Kabupaten Ngawi melakukan sejumlah perombakan dan juga renovasi untuk membangun kawasan wisata sejarah dan edukasi kepada masyarakat Ngawi.

Bird View Benteng Pendem Ngawi. Foto: jawapos.com

Melewati Pintu Gerbang Utama

Sebelum para pengunjung memasuki benteng, diharuskan terlebih dahulu untuk melapor kepada petugas yang ada di bagian depan pintu gerbang utama yang memiliki bentuk seperti pos penjaga militer. Para pengunjung harus meninggalkan identitas dan mengisi buku tamu. Di sini para wisatawan bisa melihat beberapa mobil militer yang terparkir di halaman depan.

Benteng Van Den Bosch seperti namanya benteng pendem memang terlihat terpendam ke dalam tanah. Hal ini disebabkan adanya gundukan tanah yang berfungsi untuk tanggul agar menghalau banjir dari luapan air yang ada di kedua sungai yang mengapit benteng tersebut yaitu Bengawan Solo dan juga Bengawan Madiun. Selain itu tentu saja untuk menghadapi serangan lawan pada masa itu.

Para pengunjung juga bisa menemukan parit dengan lebar sekitar ± 5 meter. Dahulu di parit ini terdapat buaya buas yang difungsikan untuk menghadapi musuh yang terjatuh ke parit. Dan tentu saja untuk mencegah para tawanan dan juga para pekerja untuk melarikan diri dari benteng tersebut.

Di sini pula para wisatawan juga bisa menemukan pondasi dari jembatan angkat yang dahulu digunakan untuk akses masuk ke benteng dari area luar. Dan masih ada pula katrol yang digunakan untuk mengangkat jembatan. Sayangnya semuanya sudah tidak berfungsi sebagai mana mestinya.

Untuk tiket masuk atau htm, para wisatawan harus membayar tiket dengan harga 5 ribu. Sementara untuk parkir dikenakan biaya terpisah. Jam operasional dari benteng ini dibuka pada pukul 8 pagi dan akan ditutup pada pukul 5 sore WIB setiap hari.

Usai melewati pos penjagaan, para wisatawan bisa menemukan tulisan tahun 1839 – 1845 yang ada di atas pintu utama. Tahun ini menunjukkan pembangunan dari benteng pendem Van Den Bosch tersebut. Gaya arsitektur klasik Eropa dengan corak Indische bisa terlihat dengan jelas dan masih dipertahankan sampai sekarang. Biasanya di sini kerap dijadikan tempat untuk foto prewedding atau prewed selain taman labirin yang ada di area tengah.

Bermain dengan burung di Benteng. Foto: yukpiknik.com

Mengunjungi area makam KH Muhammad Nursalim

Setelah pintu utama, para pengunjung bisa melihat salah satu bangunan kantor yang memiliki gaya arsitektur yang cukup kental dengan aroma Romawi. Di sini pula terdapat barak yang digunakan oleh para tentara atau perwira dengan pangkat yang lebih tinggi. Dan ada pula makam dari KH Muhammad Nursalim.

Kyai ini merupakan tokoh dakwah agama Islam pertama yang ada di Kabupaten Ngawi tersebut. Selain itu ada pula makam-makam dari para pengikut dari Pangeran Diponegoro yang gugur di dalam pertempuran akibat ditangkap oleh Belanda dan disiksa di benteng tersebut.

Ada cerita tersendiri mengenai KH Muhammad Nursalim ini. Ketika beliau tertangkap oleh Belanda, tokoh dakwah Islam in ternyata kebal terhadap bacokan dan juga tembakan. Hal ini membuat Belanda merasa frustasi. Akan tetapi pasukan Belanda tidak kehilangan akal. KH Muhammad Nursalim akhirnya dikubur hidup-hidup dengan keadaan posisi terikat dengan kencang hingga akhirnya meninggal. Kisah heroik yang menggugah hati.

Di tahun 1992 atau tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1992, pemerintah Indonesia melakukan pemugaran makam beliau. Dan diperbaharui untuk menjadi salah satu kisah sejarah perjuangan Indonesia menghadapi penjajahan Belanda pada masa itu.

Pintu Gerbang utama Benteng. Foto: radardjowo.com

Sisi angker dari Sumur

Sementara di bagian selatan dari Benteng Pendem Van Den Bosch ini terdapat sebuah sumur yang berada di dekat kantor umum. Terdapat 2 buah sumur yang pada masa tersebut digunakan oleh Belanda guna membuang jenazah dari para tahanan dan juga pekerja rodi yang tewas akibat melakukan perlawanan dan juga melanggar peraturan di benteng tersebut.

Di sumur pertama ini terdapat tembok pembatas dengan kedalaman ± 100 – 200 meter. Sementara di sebelah barat terdapat sumur kedua yang tidak ada tembok pembatas. Dan hanya ada bekas pondasinya saja. Sumur ini menjadi salah satu area angker dan juga misteri yang ada di benteng tersebut.

Bahkan area ini pula sempat masuk ke acara Mister Tukul dan kerap terjadi penampakan yang sering diunggah di Youtubedalam bentuk video. Informasi mengenai benteng ini sendiri sudah cukup banyak. Bisa ditemui di wikipedia atau artikel serta makalah mengenai sejarah dan juga kisah yang terjadi di benteng ini.

Di area sumur dan makam ini pula kabarnya kerap muncul hantu dan penampakan lainnya. Meski begitu tidak heran jika para wisatawan kerap mengambil foto atau gambar di sekitar benteng dan juga sumur tersebut. Ada banyak cerita tentang kisah horor dan mitos yang muncul di benteng ini.

Bird View Benteng Pendem Ngawi. Foto: ciricara.com

Bangunan bekas pemboman Jepang

Benteng Van Den Bosch ini memang tidak lepas dari pemboman Jepang ketika Perang Dunia II. Benteng yang diambil dari nama profil Johannes Van Den Bosch ini memiliki bangunan yang merupakan bekas dari bom Jepang. Letaknya berada di bagian selatan. Ukurannya sendiri tidak terlalu besar dan terdiri dari 2 lantai. Salah satu gedung yang memiliki fungsi sebagai asrama dan juga barak bagi para tentara Belanda ini memang sebagian sudah runtuh. Terutama di area atap dan juga tembok.

Di sini pula terdapat cerita legenda mengenai penampakan yang kerap muncul di kalangan masyarakat Ngawi. Berdirinya bangunan dan gedung tersebut pada waktu itu untuk mengumpulkan para tentara guna menghadapi serangan para pejuang kemerdekaan. Dan juga digunakan sebagai para pengawas untuk istirahat setelah mengawasi para pekerja rodi.

Foto di Benteng Pendem. Foto: tempatwisataindonesia.com

Mengunjungi Ruang Penjara

Di benteng Van Den Bosch ini juga terdapat area atau ruang penjara yang digunakan untuk menawan para pejuang Indonesia yang melawan pemerintahan Kolonial Belanda pada waktu itu. Selain itu difungsikan untuk menahan para pekerja rodi yang berusaha melarikan diri namun gagal.

Ruang penjara ini sangat sempit dan tidak ada udara sedikitpun di sini. Tidak heran jika sekarang ini dipercaya masih ada penghuninya yang berada di dalam ruang tersebut. Biasanya para tawanan  yang ada di dalam ruangan ini tidak bisa terselamatkan. Pasalnya minim udara dan pasokan makanan. Rata-rata penjara ini hanya persinggahan singkat atau sementara sebelum dieksekusi.

Tampilan Benteng Pendem Ngawi. Foto: liputan6.com

Gudang Amunisi dan Barak Tentara di benteng Van Den Bosch

Berdekatan dengan penjara dan juga dengan Bastion ini para pengunjung bisa menemukan gudang yang biasa digunakan untuk menyimpan amunisi. Hal ini bisa dilihat dari tingkat kelembaban yang sangat pas guna menyimpan amunisi dengan aman. Gudang ini pula yang digunakan oleh Batalyon Armed 12 sebelum akhirnya pindah ke Markas Kostrad.

Tidak jauh dari gudang amunisi tersebut terdapat bangunan dengan 3 lantai yang berfungsi sebagai asrama dan juga barak bagi serdadu Belanda yang memiliki pangkat rendah. Dan barak ini mengelilingi bangunan utama dengan fungsi untuk melindungi para perwira tinggi. Tentu saja hal tersebut digunakan untuk melawan para pejuang kemerdekaan.

Bermain bersama burung di Benteng. Foto: tempatwisataindonesia.com

Rute menuju ke Benteng Van Den Bosch

Untuk menuju ke benteng ini dan menikmati keindahan bangunannya, para wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Bisa pula menggunakan gps yang akan memudahkan untuk mengakses peta dengan mudah. Jalur atau jalan utama menuju ke benteng ini bisa diakses dari Sragen, Surabaya dan juga Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *