Berpetualang ke Bukit Lawang Kabupaten Langkat Sumatera Utara

Diposting pada
. Bukit lawang medan ecolodge indonesia jungle trekking banjir bandang hotel gambar garden inn indah trek sejarah langkat travel sumatra tour hill resort sumatera utara ecotravel cottages junia guesthouse accommodation weather sumbar photos lokasi jalan menuju national park eco lodge map misteri orang utan orangutan tripadvisor padang terletak di provinsi sumut adventure cottage villa guest house barat ecotourism trust thomas retreat unterkunft rehabilitation desa reservation wikipedia wikitravel wetter alamat letak dimana lake toba homestay planet parapat guide rindu alam rafting restaurants
Bukit Lawang (foto: duniaamerahh.blogspot.co.id)

Lokasi: Desa Perkebunan Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara
Map: Klik Disini
HTM: Rp.5.000
Buka Tutup: 24 Jam

Bagi para pecinta alam atau mereka yang menyukai wisata adventure, Bukit Lawang dapat menjadi pilihan terbaik, karena selain menyuguhkan berbagai aktifitas menarik untuk mereka yang suka berpetualang.

Objek wisata ini juga memiliki daya tarik lebih berupa panorama hutan hujan tropis yang menawan, aneka flora termasuk beberapa jenis tumbuhan langka seperti raflessia Arnoldi serta kehidupan natural dari berbagai jenis satwa liar.

Termasuk salah satu hewan langka yang menjadi maskot Provinsi Sumatera Utara dan menjadi kebanggaan Indonesia, yaitu Orangutan.

Begitu besarnya daya tarik Bukit Lawang, sehingga tidak hanya wisatawan lokal saja yang mengunjungi kawasan ini, tapi banyak juga yang datang dari berbagai belahan dunia.

Banyaknya turis mancanegara tersebut tidak lepas dari program yang diusung Frankfurd Zoological Society dan WWF pada tahun 1973 yang menjadikan Bukit Lawang sebagai Rehabilitation Center Orang Utan.

Meski saat ini Pusat Rehabilitasi Orangutan tersebut hanya tinggal nama dan bekas bangunan yang terbengkalai, namun karena selama puluhan tahun menjadi pusat perhatian dunia, membuat kawasan ini masuk dalam daftar kunjungan pada buku-buku panduan wisata dunia seperti Lonely Planet.

Tidak heran jika wisatawan dari manca negara yang ingin mengetahui wujud asli dan kehidupan Orangutan di habitat aslinya, menjadikan Bukit Lawang sebagai tujuan.

Sayangnya, seiring dengan berjalannya waktu kondisi Bukit Lawang bukannya semakin baik, tapi justru sebaliknya.

Kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap sisi keamanan dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dan kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke Bukit Lawang menjadikan kondisi objek wisata unggulan yang satu ini berbanding terbalik dengan Danau Toba yang juga menjadi bagian dari Provinsi Sumut.

Jika Danau Toba terus berbenah dan mempercantik diri, Bukit Lawang justru sebaliknya.

Indahnya Panorama Alam di Bukit Lawang (foto: tekooo.com)

Puncak dari kurangnya perhatian pemerintah tersebut terjadi pada tahun 2003. Tepat pada tanggal 2 Nopember, kawasan Bukit Lawang diterjang banjir bandang yang menyeret ribuan batang kayu hasil dari pembalakan liar.

Air bah, lumpur dan juga gelondongan kayu itu menghantam ratusan rumah warga, penginapan dan berbagai fasilitas yang ada di sepanjang aliran arus sungai.

Akibatnya, 300 nyawa menjadi korban, harta benda senilai milyaran rupiah lenyap dan selama kurang lebih 2 tahun aktifitas pariwisata lumpuh, dimana pada saat itu Bukit Lawang sepi dari pengunjung.

Sejarah kelam yang seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi para pembuat kebijakan tersebut ternyata tetap tidak merubah sikap dan kebijakan mereka. Pasca terjadinya banjir bandang, upaya rehabilitasi yang dilakukan oleh pemerintah terkesan setengah hati.

Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya program-program dan janji-janji pemerintah kepada korban banjir yang tidak direalisasikan, seperti keterbatasan tempat ibadah, lampu penerangan jalan yang kurang memadai bahkan banyak yang tidak berfungsi, serta rumah-rumah bantuan untuk korban banjir yang kurang layak sehingga banyak yang tidak ditempati atau dijual dengan harga murah.

Jika kondisi Bukit Lawang saat ini berangsur-angsur pulih sebagaimana dulu saat masih menjadi objek dari program WWF, hal tersebut lebih disebabkan karena inisiatif dari masyarakat setempat yang ditunjang oleh peran dari para investor swasta.

Kondisi ini menjadikan perkembangan Bukit Lawang sebagai salah satu primadona pariwisata di Indonesia terkesan sangat lambat dan tertinggal oleh Danau Toba serta objek-objek wisata lainnya di Indonesia.

Tentang Bukit Lawang

Jika Lake Toba memiliki Parapat sebagai pintu gerbangnya, maka Gunung Leuser National Park menjadikan Bukit Lawang sebagai pintu gerbang sebelum menjelajah kawasan hutan tropis seluas 1.094.692 hektar tersebut.

Itu sebabnya kawasan seluas 200 hektar ini diberi nama “Bukit Lawang” yang artinya “Pintu Menuju Bukit” dan bukit yang dimaksud adalah Gunung Leuser yang areanya membentang di wilayah Provinsi Aceh dan Sumut.

Menghimpun berbagai data yang tertulis di wikipedia dan wikitravel, tercatat bahwa nama Bukit Lawang mulai menjadi pusat perhatian dunia sejak tahun 1973, tepatnya setalah dijadikan sebagai Pusat Rehabilitasi Orangutan oleh Frankfurd Zoological Society dan WWF yang dirintis Monica Barner dan Regina Frey.

Memberi Makan Orangutan di Bukit Lawang (foto: wisataterindah.net)

Awalnya Pusat Rehabilitasi tersebut hanya dikunjungi konservasionis dan para peneliti. Namun dalam perkembangan berikutnya, banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia yang berkunjung ke Bukit Lawang untuk dapat melihat secara langsung keberadaan Orangutan.

Sepanjang tahun 1972 – 2001, tercatat sebanyak 229 Orangutan yang disita dari perdagangan satwa liar direhabilitasi di tempat ini untuk selanjutnya dilepaskan kembali ke habitat aslinya. Map dari penyebaran Orangutan saat dikembalikan ke habitat aslinya tersebut diantaranya di Tapanulis, Batang Toru, Tangkahan, Bukit Tiga Puluh di Jambi, dan di beberapa kawasan hutan yang ada di Padang, Sumbar.

Setelah program Pusat Rehabilitasi tersebut tidak lagi dilanjutkan, kawasan ini berubah menjadi Viewing Centre atau Pusat Pengamatan Orangutan, sekaligus menjadi salah satu objek wisata unggulan di Sumatera Utara.

Bukit Lawang masih menjadi primadona pariwisata Indonesia, karena di tempat ini para wisatawan bisa melakukan pengamatan secara langsung terhadap kehidupan Orangutan di dalam kawasan hutan, sekaligus mengamati berbagai flora dan fauna langka lainnya.

Satu hal yang perlu dicatat, Bukit Lawang adalah bagian dari wilayah Taman Nasional Gunung Leuser, sehingga berbagai jenis flora dan fauna yang ada di Taman Nasional ini, meski tidak setiap waktu mendiami kawasan Bukit Lawang, namun terkadang dapat dijumpai para wisatawan.

BacaJuga:  10 Gambar Danau Linting Medan, Alamat Deli Serdang Tiga Juhar, Misteri Sejarah Wisata + Jalan Menuju Lokasi

Berbagai hewan langka selain Orangutan (Pongo Pygmaeus Abelii) yang ada di kawasan ini diantaranya adalah: Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae), Badak Sumatera (Dicerorhinus Sumatrensis), Gajah Sumatera (Elephas Maximus), Ajag ( Cuon Alpinus), Beruang Madu (Helarctos Malayanus) Rangkong Papan (Buceros Bicornis), Siamang ( Hylobates Syndactylus) dan beberapa satwa langka lain.

Tercatat sebanyak 130 jenis mamalia, 89 diantaranya merupakan spesies langka dan 325 jenis burung yang menempati kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang sewaktu-waktu dapat muncul di kawasan Bukit Lawang.

Belum lagi fauna jenis Reptilia dan Amphibia yang didominasi buaya dan ular serta berbagai jenis ikan. Salah satunya adalah ikan endemik yang bernama Ikan Jurung yang panjangnya bisa mencapai 1 meter.

Bukit Lawang juga memiliki berbagai jenis flora yang beberapa diantaranya hanya dapat dijumpai di kawasan ini.

Beberapa flora yang menghiasi hutan Bukit Lawang diantaranya adalah: Rafflessia Arnoldi atau Bunga Bangkai, Anggrek Hutan, Cendawan Harimau, Damar Laut, Kantong Semar, Keruing, Meranti, dan masih banyak lagi tumbuh-tumbuhan yang lain.

Weather condition di Bukit Lawang kelembaban nisbinya antara 80 – 100 persen dengan suhu udara rata-rata 21,1OC – 27,5OC, membuat musim hujan di kawasan ini terjadi secara merata disepanjang tahun tanpa mengenal musim kemarau.

Curah hujan yang ada di kawasan ini rata-rata 2.000 – 3.200 mm/tahun. Sedang topografi kawasan berbentuk landai dan perbukitan dengan tingkat kemiringan yang bervariasi antara 45 – 90 persen.

Bekas Tempat Penangkaran Orang Utan di Bukit Lawang (foto: medanwisata.com)

Masyarakat Bukit Lawang memiliki budaya heterogen dan terdiri dari berbagai suku, seperti Melayu, Jawa, Karo dan Batak, serta dan tidak ada satu sukupun yang dominan.

Mereka mayoritas bermatapencaharian sebagai petani dan pedagang. Seiring dengan berjalannya industri pariwisata di kawasan ini, tidak sedikit masyarakat yang mengais rejeki dari dunia pariwisata.

Seperti menyewakan rumah mereka untuk homestay, berdagang makanan dan minuman untuk wisatawan sampai dengan menjadi guide yang mengantar wisatawan menjelajah kawasan Hutan Bukit Lawang.

Rute Menuju Lokasi

Alamat Bukit Lawang yang berada di Desa Perkebunan Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara dan menjadi bagian dari Gunung Leuser National Park cukup jauh jika ditempuh dari Kota Medan, yaitu sekitar 120 km dan berjarak sekitar 68 km jika ditempuh dari Barat Laut Kota Binjai.

Namun demikian untuk masalah transportasi sama sekali tidak sulit, baik dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum.

Perjalanan yang berawal dari Kota Medan, setelah keluar dari Bandara Kualanamu atau dari hotel-hotel tempat menginap yang ada di Medan, bisa dilakukan dengan menyewa mobil seharga Rp.400.000 – Rp.500.000 (sudah termasuk sopir, tapi tanpa bahan bakar) tergantung dari jenis mobil yang disewa.

Atau menuju ke Terminal Bus Pinang Baris dan naik bus jurusan Pinang Baris – Bukit Lawang dengan tarif sebesar Rp.50.000.

Tidak perlu gengsi berwisata ke Bukit Lawang dengan menumpang bus, karena tidak sedikit turis asing alias para backpacker yang berbekal buku panduan wisata Lonely Planet, lebih memilih naik bus daripada menyewa mobil.

Di Terminal Pinang Baris, bus yang menuju ke Bukit Lawang tersedia antara pukul 09.00 – 17.00. Perjalanan dengan menggunakan transportasi umum ini akan berakhir di Terminal Gotong Royong yang ada di Bukit Lawang dengan lama perjalanan sekitar 2,5 – 3 jam.

Perjalanan yang berawal dari Kota Binjai dapat dilakukan dengan melewati Persimpangan Jalan Gatot Subroto dan menyusuri jalan Binjai – Kuala.

Dalam perjalanan, Anda akan melewati 7 jembatan besi sebelum sampai di Bukit Lawang. Selama perjalanan, usahakan untuk senantiasa berhati-hati dan menjaga kecepatan, karena di beberapa titik kondisi jalan bergelombang serta tidak jarang ada lembu-lembu milik masyarakat yang berdiri menutup jalan.

Pintu Gerbang Taman Nasional Gunung Leuser (foto: wisatapriangan.co.id)

Untuk perjalanan dengan menggunakan bus, jarak tempat pemberhentian terakhir dengan pintu masuk Bukit Lawang masih sekitar 1 km. Perjalanan menuju ke lokasi dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki atau naik bentor dengan tarif Rp.5.000 perorang.

Sedang perjalanan yang menggunakan mobil pribadi atau mobil rental, baik berangkat dari Medan maupun Binjai akan melewati gapura atau pintu gerbang PT Langkat Nusantara Kepong.

Di sini akan Anda jumpai persimpangan dan pilih jalan yang menuju Rindu Alam Hotel – Bukit Lawang lalu berbelok ke kanan untuk sampai di area parkir kendaraan.

Setelah memarkir kendaraan dan membayar tarif sebesar Rp.10.000, Anda dapat menuju ke lokasi. Di sanalah Anda akan disambut suara air sungai yang menderu, deretan toko souvenir, serta warung-warung dan restoran sebelum sampai di jembatan penyeberangan.

Untuk melintasi jembatan penyeberangan, setiap orang dikenakan tarif sebesar Rp.2.000. Menariknya, di sini tidak hanya ada satu jembatan, tapi ada beberapa buah jembatan, karena masing-masing pengelola tempat penginapan, membangun jembatan sendiri-sendiri sebagai tempat menyeberang tamu-tamu mereka.

Beberapa dari jembatan penyeberangan tersebut diantaranya dibangun oleh Ecolodge Bukit Lawang dengan lokasi di sebelah Rindu Alam Hotel serta Jembatan Wisma Leuser yang terletak di depan area parkir kendaraan umum.

Sementara jembatan penyeberangan yang didirikan Pemkab Langkat sendiri justru jarang dilewati para pengunjung dengan kondisi kurang terawat, besi-besi pipa galvanis penyangga kabel dan pagar jembatan serta kayu pegangan sebagian ada yang hilang, dan lebih parah lagi banyak dihiasi coretan grafitti yang mengganggu pemandangan.

BacaJuga:  10 Gambar Jalan Kampung Keling Madras di Medan dan Sejarah Kehidupan serta Kuliner Masyarakat Little India

Berpetualang Menjelajah

Salah satu aktifitas wajib saat berkunjung ke Bukit Lawang adalah Jungle Trekking, karena menjelajah hutanlah yang menjadi suguhan utama dari objek wisata yang satu ini. Jadi, pastikan Anda memiliki fisik yang prima dan membawa peralatan yang lengkap untuk melakukan tracking.

Selanjutnya tentukan lamanya waktu dalam menjelajah hutan. Jika hanya melakukan trekking singkat dengan menjelajah kawasan sekitar Bukit Lawang saja, Anda bisa melakukannya sendiri tanpa harus didampingi guide.

Tapi jika Anda ingin mendapatkan sensasi lebih dengan melakukan perjalanan selama dua hari dan berkesempatan bertemu dengan Orang utan serta satwa-satwa liar yang lain, maka Anda tidak boleh melakukannya sendiri alias bersama rombongan serta harus didampingi seorang pemandu wisata.

Mayoritas masyarakat Bukit Lawang memahami setiap sudut hutan yang ada di kawasan tempat tinggalnya. Namun untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya menyewa guide yang profesional.

Karena bagaimanapun juga yang akan dijelajahi adalah kawasan hutan yang masih diselimuti sejuta misteri, dan bukan mall atau pusat keramaian.

Tarif pemandu wisata yang akan mengantar Anda menjelajah kawasan hutan, paling murah sebesar Rp.70.000, tergantung dari lamanya waktu penjelajahan dan jauh dekatnya jarak yang akan ditempuh.

Selama melakukan penjelajahan, Anda tidak perlu segan-segan untuk memberitahu guide tentang jenis hewan atau tumbuhan apa saja yang ingin Anda lihat, agar dia dapat membawa Anda ke lokasi yang dituju.

Sebab ada tempat-tempat tertentu yang menjadi tempat hidup beberapa jenis tumbuhan dan kerap dijadikan tempat persinggahan hewan-hewan tertentu.

Mengingat kawasan hutan Bukit Lawang luasnya mencapai 200 hektar, petualangan yang dilakukan oleh satu wisatawan dengan wisatawan lain kemungkinan besar akan berbeda. Namun, untuk memberi ilustrasi singkat tentang perjalanan yang akan Anda lakukan berikut gambaran singkatnya.

Orangutan Sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser (foto: wisatapriangan.co.id)

Saat memasuki area hutan, jalan yang menanjak dan menurun dengan suasana sekeliling diselimuti semak belukar dan berbagai jenis pepohonan akan menjadi pemandangan utama yang terhampar sepanjang mata memandang.

Anda juga akan menjumpai lokasi berikut bangunan yang dulu dijadikan tempat penangkaran orang Utan. Untuk menuju ke lokasi tersebut terdapat anak-anak tangga dari beton.

Dulu, saat tempat tersebut masih beroperasi, tidak sulit untuk bisa melihat Orang Utan, karena tempat itulah yang dijadikan feeding site untuk memberi makan puluhan ekor Orang Utan.

Namun saat ini, orangutan-orangutan yang masih tersisa tersebar di segala penjuru Hutan Bukit Lawang, sehingga cukup sulit untuk melihat keberadaannya. Disinilah peran guide sangat dibutuhkan.

Dengan pengalamannya keluar masuk hutan selama bertahun-tahun, pemandu wisata tersebut akan dapat mengetahui keberadaan dari binatang yang dilindungi tersebut.

Ajak guide untuk mengunjungi Gua Kelelawar, dan puaskan keingintahuan Anda dengan menjelajahi gua tersebut. Singgahi pula air terjun yang ada di dalam hutan untuk mengistirahatkan badan usai melakukan perjalanan panjang yang melelahkan.

Berbagai Aktifitas Menarik

Selain menikmati keindahan hutan hujan tropis dengan berbagai tumbuhan dan satwa langka di dalamnya, terdapat berbagai aktifitas menarik dan menenyenangkan yang dapat dilakukan wisatawan selama berada di Bukit Lawang.

Utamanya mereka yang menyukai wisata petualangan. Beberapa aktifitas tersebut diantaranya adalah:

1. Jungle Trekking

Aktifitas wajib selama berada di Bukit lawang ini akan memberikan pengalaman yang tidak terlupakan, karena yang Anda jelajahi adalah kawasan hutan hujan tropis yang memiliki koleksi alam berupa ratusan spesies tumbuhan dan hewan, beberapa diantaranya masuk dalam kategori langka dan dilindungi.

Beberapa vegetasi yang ada di sini memiliki ukuran yang besar, sehingga suasana rimba raya menjadi sangat terasa.

Trekking di kawasan hutan ini juga bakal memberikan tantangan tersendiri karena kondisi medan cenderung basah dan berlumpur dengan kontur tanah yang naik turun dan beberapa trek diantaranya becek serta licin.

Tubuh kotor dan baju yang penuh dengan lumpur menjadi hal yang lumrah saat membelah Hutan Bukit Lawang.

2. Rafting dan River Tubing

Aktifitas lain yang dapat memacu adrenalin di Bukit Lawang adalah Rafting dan River Tubing menyusuri Sungai Bahorok dengan arusnya yang deras dan melewati batu-batu sungai berukuran besar.

Untuk melakukan aktifitas ini, Anda dapat menyewa peralatan rafting berupa perahu karet dan dayung atau ban truk besar untuk river tubing seharga Rp.50.000 – Rp.75.000 tergantung dari hasil tawar menawar.

River Tubing di Bukit Lawang (foto: wego.co.id)

Setelah itu Anda harus melakukan trekking terlebih dahulu dengan membelah hutan, lalu menceburkan diri di derasnya aliran Sungai Bahorok.

Berbeda dengan aktifitas rafting dan river tubing di berbagai tempat wisata yang lain, di sini wisatawan yang menyusuri aliran sungai dengan menggunakan perahu karet maupun ban besar tidak dibekali sama sekali dengan alat pengaman, baik berupa helm maupun jaket pelampung.

Hasilnya, adrenalin menjadi naik dua kali lipat.

3. Melihat Satwa di Habitat Aslinya

Menyaksikan satwa di kebun binatang atau di taman safari merupakan hal yang biasa. Tapi melihat binatang liar di habitat aslinya, terlebih di tengah hutan tentu akan memberikan sensasi tersendiri.

Apalagi, jika binatang-binatang buas tersebut muncul tiba-tiba di dekat Anda saat sedang beristirahat. Rasa takut, penasaran bercampur rasa senang pasti bercampur aduk menjadi satu.

Jika Anda bersama pemandu wisata, dia pasti akan segera menenangkan agar Anda tidak takut dan tidak membuat gerakan-gerakan yang mengejutkan.

Selama binatang-binatang liar tersebut tidak merasa diganggu, sedekat apapun jarak Anda dengan binatang tersebut, dia tidak akan menyerang.

BacaJuga:  Lebaran Seru di Medan, Open House Ala Kesultanan Deli Hingga Makanan Khasnya

Jadi satu-satunya yang bisa Anda kerjakan adalah menikmati tingkah polah binatang-binatang liar tersebut dari kejauhan atau mengeluarkan kamera dan mengabadikannya dalam bingkai foto.

4. Berinteraksi dengan Orangutan

Tidak adanya tempat penangkaran dan feeding station yang digunakan sebagai tempat untuk memberi makan Orangutan, membuat wisatawan yang datang ke Bukit Lawang saat ini harus memiliki kesabaran ekstra agar dapat bertemu dan berinteraksi dengan binatang langka tersebut.

Namun demikian, jika guide yang menjadi pemandu Anda menjelajah hutan masuk kategori guide profesional., dia akan bisa menebak, di sebelah mana kemungkinan besar kawanan Orangutan berada.

Saat bertemu dengan Orangutan, Anda pun tidak selalu dapat berinteraksi karena seringkali mereka tetap bergelayutan di atas pepohonan, meskipun telah dipancing dengan menyodorkan makanan.

Tapi ada juga sebagian yang dapat diajak berinteraksi. Begitu disodori makanan, mereka akan turun dari atas pohon dan mengambil makanan tersebut dengan malu-malu.

Saat binatang tersebut mengambil makanan dari tangan Anda, ada perasaan puas dan sensasi tersendiri yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.

5. Caving

Goa Kelelawar di Bukit Lawang (foto: wisatapriangan.co.id)

Aktifitas susur gua alias caving juga dapat dilakukan di Bukit Lawang, karena tidak jauh dari pintu masuk Bukit Lawang tepatnya dengan berjalan kaki selama 15 menit, dapat Anda jumpai Goa Kelelawar yang besar dan berisi ribuan ekor kelelawar.

Di dalam goa yang gelap gulita tersebut dapat Anda saksikan ribuan kelelawar yang bergelantungan di langit-langit gua serta interior gua yang cantik berhiaskan ornament stalagtit yang usianya sudah puluhan bahkan ratusan tahun karena memiliki ukuran yang besar.

Untuk melihat bagian dalam gua, tentunya harus dengan bantuan alat penerangan, seperti lampu senter.

6. Mandi Dibawah Air Terjun

Berbasah-basahan di bawah guyuran air terjun juga tidak boleh ditinggalkan, karena segarnya air yang menjadi sumber dari aliran Sungai Bahorok ini bakal menembus ke dalam hati dan menghilangkan rasa letih usai menjelajah luasnya hutan.

Selain itu, air terjun yang bentuknya bertingkat ini juga menghadirkan view yang menawan untuk dijadikan latar belakang foto. Jadi jangan lewatkan untuk berfotoria dengan background air terjun Bukit Lawang dan unggah di lini media sosial Anda.

Air Terjun di Bukit Lawang (foto: wego.co.id)

Harga Tiket Masuk

Untuk ukuran sebuah objek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan asing, harga tiket masuk dan tarif berbagai fasilitas yang tersedia di Bukit Lawang relatif murah.

Untuk tiket masuk, pengunjung hanya dikenakan tarif sebesar Rp.5.000. Jika membawa kendaraan pribadi atau mobil rental, ongkos parkir hanya sebesar Rp.20.000, tidak berbeda jauh dengan tempat wisata pada umumnya.

Sedang untuk melewati jembatan penyeberangan, pengunjung harus membayar sebesar Rp.2.000 kepada pemilik jembatan tersebut.

Dengan biaya yang relatif murah, Anda dapat menikmati berbagai macam fasilitas yang cukup lengkap di tempat ini, mulai dari fasilitas umum yang disediakan pemerintah, memanfaatkan fasilitas yang menjadi milik pribadi masyarakat atau menggunakan fasilitas yang ada di penginapan.

Karena accomodation yang ada di sini, baik hotel, villa maupun cottage semuanya dilengkapi dengan fasilitas yang komplit, mulai dari guesthouse sampai dengan restoran.

Merujuk pada data yang terdapat di tripadvisor, beberapa penginapan yang ada di Bukit Lawang diantaranya adalah Ecolodge Bukit Lawang Cottagges, Bugis Inn, Ida Guest House & Restaurants, Thomas Retreat Bukit Lawang, Rindu Alam Hotel, Rainforest Guesthouse, Junia Guest House, Bukit Lawang Hill Resort, Kupu-Kupu Garden Guest House & Cafe, Bukit Lawang Indah, Ecotravel Cottages, Back to Nature Ecotoursm dan masih banyak lagi yang lain.

Tarif kamar dihampir semua penginapan tersebut antara Rp.150.000 – Rp.500.000 permalam tergantung dari ukuran dan fasilitas yang tersedia.

Menariknya, hampir semua penginapan yang ada di sini, mengusung konsep Eco Lodging, maksudnya, tempat penginapan tersebut dibuat menyatu dengan alam.

Contoh dari konsep eco lodging ini salah satu misal adalah tempat tidur yang dibuat menggantung dan ditempatkan di bagian beranda sehingga pada saat sedang istirahat dapat melihat langsung hijau dan asrinya kawasan Bukit Lawang.

Salah Satu Hotel di Bukit Lawang (foto: info-indoku.blogspot.co.id)

Diantara sekian banyak hotel dan penginapan yang ada di sini, yang paling banyak menerima tamu wisatawan dari mancanegara adalah Ecolodge Bukit Lawang Cottagges yang letaknya di belakang Penginapan Rindu Alam.

Penginapan milik YEL (Yayasan Ekosistem Lestari) ini begitu digandrungi turis wisman karena mengusung konsep naturan dan ekowisata lewat desain bangunan, makanan sampai dengan sampah yang mengandung muatan dan unsur lingkungan hidup.

Tidak hanya itu, YEL melalui PPLH (Pusat pendidikan Lingkungan Hidup) Bahorok juga memberikan pendidikan tentang lingkungan kepada penduduk sekitar yang terbuka untuk umum.

Beberapa materi yang disampaikan PPLH diantaranya adalah menumbuhkan keperdulian terhadap lingkungan hidup melalui berbagai macam cara dan terbagi dalam beberapa paket program seperti Paket Wisata Hutan Tropis, Wisata Lintas Kampung, Pengamatan Gua, Wisata Ecotrail, dan sebagainya.

Satu catatan untuk wisatawan yang ingin berkunjung ke Bukit Lawang pada saat musim liburan, utamanya menjelang tahun baru adalah melakukan reservation hotel dan penginapan terlebih dahulu, setidaknya seminggu sebelum hari berkunjung.

Jika tidak, besar kemungkinan Anda tidak akan mendapatkan kamar, karena semua penginapan sudah terisi penuh.

Semua catatan di atas adalah data terakhir pada saat tulisan ini dibuat. Jika ada perubahan terbaru yang Kamu ketahui, silakan informasikan kepada kami pada kolom komentar di bawah ini ya. Begitu juga jika ada yang salah, punya kritik dan saran. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.