Candi Cetho Karanganyar Yang Sejuk dan Cantik

Diposting pada
4.3
03
Peninggalan Kerajaan, foto by @anisadheaa

Lokasi: Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah
Map: Klik Disini
HTM: Rp.7.000
Jam Buka: 07.00 – 17.00 WIB

Bagi penggemar wisata sejarah utamanya berkunjung ke bangunan-bangunan yang menjadi peninggalan jaman kerajaan pada masa lampau seperti candi, Jawa Tengah merupakan surganya karena di provinsi ini terdapat puluhan candi yang tersebar di segala penjuru, seperti Borobudur yang megah, Prambanan yang eksotis, Kalasan, Mendut, Kompleks Candi Sewu, Plaosan, Sari, Dukuh, Gedung Sanga, Canggal, Lumbung, Bubrah dan masih banyak lagi candi yang lain.

Diantara sekian banyak candi yang ada di Jateng tersebut, nama Candi Cetho memang kurang begitu dikenal disebabkan karena letaknya yang cukup sulit dijangkau serta terbatasnya akses transportasi, infrastruktur dan fasilitas yang ada di sekitar kawasan wisata.

Namun demikian, dari sisi keunikan bangunan, Cetho sebenarnya memiliki nilai lebih dibanding candi yang lain, karena struktur, bentuk dan ornamen bangunan yang ada di Cetho berbeda dengan candi lainnya yang ada di Jateng, Jatim dan di DIY, kecuali Sukuh yang letaknya berdekatan dengan Cetho.

Medan jalan menuju lokasi, gambar by @monkey_diaryy

Sehingga bagi pemerhati bangunan bersejarah atau mereka yang memiliki minat khusus terhadap disiplin ilmu arkeologi, Cetho merupakan objek yang tidak boleh dilewatkan untuk diteliti, dipelajari sekaligus dinikmati.

Tidak hanya itu, lokasinya yang berada di kaki Gunung Lawu, menjadikan kawasan di sekitar Cetho menyajikan pemandangan yang menawan berupa hamparan Perkebunan Teh dan persawahan milik penduduk setempat dengan latar belakang perbukitan serta gunung-gunung yang menjulang tinggi.

Lingkungan di kompleks wisata pun menyuguhkan keindahan yang memanjakan mata, sehingga siapapun bakal betah untuk berlama-lama di sekitarnya.

Selain itu, di sekitar Cetho juga terdapat berbagai objek wisata yang menarik untuk dikunjungi, seperti Candi Sukuh, Air Terjun Jumog, Taman Hutan Raya yang menjadi lokasi ideal untuk picnic party, memetik pucuk-pucuk teh di Perkebunan Teh Kemuning, serta singgah di Rumah Teh Ndoro Dongker untuk menikmati berbagai jenis teh dengan harga yang terjangkau, seperti Teh Hijau Kemuning, Teh Putih, Teh Raja, Teh Herbal, Teh Hitam Donker, Teh Aroma Inggris dan beberapa jenis yang lain.

Kompleks yang Eksotis, photo by @ulia_arigalit

Buat para pendaki gunung yang ingin menuju ke Puncak Gunung Lawu, dapat pula singgah ke Cetho, karena di sekitar kawasan ini juga terdapat basecamp serta rute bagi para pendaki yang ingin menuju ke Puncak Gunung Lawu.

Sejarah Singkat

Meski laporan ilmiah tentang Candi Cetho telah ditulis oleh van de Vlies pada tahun 1842, namun ekskavasi atau penggalian dengan tujuan rekonstruksi terhadap Cetho baru dilakukan untuk pertama kalinya ditahun 1928 oleh Commissie vor Oudheiddienst (Dinas Purbakala Hindia Belanda).

Pada penelitian selanjutnya, A.J. Bernet Kempers menyimpulkan bahwa Cetho didirikan pada masa pemerintahan Majapahit sekitar tahun 1373 Saka atau tahun 1451 Masehi. Hal tersebut berdasarkan sebuah sengkalan yang bunyinya “Welut wiku anakut iku” dan diperkuat keberadaan batu-batu berhiaskan “Surya Majapahit” yang menjadi lambang kebesaran Majapahit.

Bangunan yang diperkirakan didirikan pada masa pemerintahan Raja Brawijaya V ini, saat pertama kali diketemukan, berupa reruntuhan batu berbentuk punden/teras yang terdiri atas 14 teras.

Kompleks bangunan yang memanjang dari dataran paling rendah di sebelah Barat menuju dataran yang paling tinggi di sebelah Timur, saat ini hanya terdiri atas 13 teras dan yang selesai dipugar baru 9 teras.

BacaJuga:  Wisata Bukit Barede Borobudur, Spot Sunrise di Magelang
jalan menuju lokasi #Repost @thoriqaljabar

Dengan struktur punden berundak (berteras-teras), kuat dugaan akan pengaruh sinkretisme pada Cetho yaitu perpaduan antara unsur Hinduisme dengan kultur asli Nusantara.

Apalagi ikonografi atau gambar relief-relief candi memiliki bentuk menyerupai wayang, dimana hal tersebut merupakan ciri dari masa akhir Hindu – Buddha, menjadikan pengaruh sinkretisme tersebut menjadi semakin terasa.

Hal yang sama juga dapat dilihat pada Sukuh yang lokasinya tidak jauh dari Cetho, yaitu di Kecamatan Ngargoyoso yang juga berada di kawasan lereng Gunung Lawu.

Pasca kemerdekaan Indonesia, pemugaran untuk pertama kalinya dilakukan pada tahun 1970 oleh asisten pribadi Presiden Soeharto, yaitu Sudjono Humardani.

Namun, banyak arkeolog yang mengkritik pemugaran ini, karena struktur asli bangunan banyak yang dirubah disebabkan tidak adanya study yang mendalam sebelum dilaksanakannya pemugaran.

Akibatnya terdapat sejumlah objek baru yang diperkirakan tidak original, seperti gapura megah di depan kompleks, patung-patung Brawijaya V, Sabdopalon dan Nayagenggong, bangunan berbentuk kubus di puncak punden serta bangunan-bangunan bermaterialkan kayu untuk tempat pertapaan.

Kondisi tersebut semakin diperparah saat Bupati Karang Anyar dijabat oleh Rina Iriani (2003 – 2008), karena dengan seenaknya menambahkan arca berbentuk Dewi Saraswati pada sisi Timur kompleks bangunan.

Arca sumbangan dari kab. Gianyar tersebut ditempatkan di kompleks Cetho dengan alasan untuk menghidupkan gairah keberagamaan, tanpa mempertimbangkan struktur asli candi yang penting untuk study arkeologi.

Medan Jalan Menuju Lokasi

Jalan Menuju Objek (foto: tempatwisatakeren.com)

Alamat Candi Cetho yang berada di kaki Gunung Lawu, tepatnya di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, membuat lokasinya cukup sulit dijangkau karena rute yang harus dilalui tidak dilewati sarana transportasi umum, kecuali ojek.

Kendaraan pribadipun harus dalam kondisi prima dengan ketrampilan mengemudi di atas rata-rata jika ingin sampai ke tujuan, karena jalan yang harus dilewati meskipun sudah beraspal halus namun cukup sempit dengan kondisi jalan berliku-liku dan memiliki tanjakan yang tajam.

Bagi wisatawan yang berangkat dengan menggunakan mobil pribadi, baik dari Jogja, Semarang, Sragen atau dari Ngawi dan Madiun yang ada di Jawa Timur, jalur yang harus ditempuh adalah dengan menuju ke arah Solo.

Sesampai di Kota Solo, arahkan kendaraan menuju Terminal Karang Pandan dan bawa terus kendaraan menyusuri jalan utama yang melintang di depan terminal tersebut sampai bertemu dengan gapura besar.

Setelah melewati gapura bertuliskan “Kawasan Wisata Sukuh Cetho”, Anda akan sampai di Kemuning dan di sana akan Anda jumpai rambu petunjuk jalan menuju ke lokasi wisata. Apabila masih merasa bingung atau takut tersesat, aktifkan saja google maps pada layar smartphone.

Kebun Teh Kemuning Dilihat dari Candi Cetho, foto by hijrahmuslimahjourney.wordpress.com

Untuk wisatawan yang menggunakan sarana transportasi umum, Cetho dapat diakses dari Stasiun Solo Balapan dengan naik ojek atau becak menuju Terminal Tirtonadi, selanjutnya naik bus jurusan Solo – Tawangmangu.

Sesampai di Terminal Karang Pandang, Anda harus turun untuk berganti bus kecil jurusan Karang Pandan – Kemuning lalu turun di Pertigaan Nglorog. Sesampai di Nglorog sudah tidak ada lagi sarana transportasi umum kecuali ojek yang akan mengantar Anda menuju Cetho dengan jalan menanjak sejauh kurang lebih 12 km.

Meski jalan yang harus dilalui menanjak dan berliku-liku, mata Anda akan dimanjakan oleh pemandangan di kanan kiri jalan yang dihiasi hamparan persawahan berlatar belakang bukit dan pegunungan serta luasnya “Perkebunan Teh Kemuning Ngaroyoso” yang hijau.

BacaJuga:  Indahnya Waduk Gajah Mungkur Wonogiri

Belajar Masa Lalu

Asal usul dari nama candi yang berdiri di atas ketinggian 1496 mdpl ini, diambil dari nama desa yang menjadi tempat berdirinya bangunan tersebut, yaitu Desa Cetho. Kata “Cetho” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya “Terlihat dengan jelas”.

Dinamakan Desa Cetho, karena di desa ini, siapapun akan dapat melihat dengan jelas keindahan pemandangan yang terhampar di bawahnya dan di kejauhan berupa hamparan Perkebunan Teh Kemuning yang hijau, persawahan milik penduduk setempat dan pemandangan indah berlatarbelakangkan Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Punggung Gunung Lawu dan sejumlah perbukitan serta anak gunung lainnya.

Itulah legenda tentang asal usul nama candi dan nama desa Cetho menurut penuturan warga sekitar.

Jam buka, gambar by @iamhidayattaufik

Pemandangan yang indah dengan udara sejuk khas daerah pegunungan inilah yang bakal membuat betah wisatawan untuk berlama-lama di tempat ini.

Apalagi lingkungan di kawasan kompleks candi juga menghadirkan panorama yang instagenic, membuat banyak spot yang menarik untuk dijadikan latar belakang foto dan dipamerkan di akun facebook, instagram serta lini media sosial yang lain.

Selain keindahan panorama yang disajikan, misteri yang menyelimuti kawasan kompleks candi serta mitos-mitos yang berkembang di tengah-tengah masyarakat juga menjadi daya tarik tersendiri.

Hal tersebut tidak lepas dari keberadaan candi yang hingga kini masih dimanfaatkan sebagai tempat ibadah dan tempat berziarah oleh Umat Hindu, digunakan untuk tempat bertapa atau bersemedi oleh penganut aliran kepercayaan, serta dipakai untuk menggelar upacara rutin setiap tanggal 1 Syuro serta setiap 6 bulan sekali pada peringatan Wuku Medangsia.

Berbagai aktifitas spiritual tersebut dilakukan di kompleks wisata, karena candi ini konon dibangun dengan tujuan untuk dipakai sebagai tempat Upacara Ruwatan, yaitu upacara adat untuk penyucian diri dari kehinaan disebabkan karena penyakit, perbudakan, kutukan, kesengsaraan hidup serta lainnya.

Jadi misteri yang menyelimuti kawasan ini tidak ada kaitannya dengan cerita hantu, melainkan lebih kepada suasana magis yang dipancarkan oleh aura bangunan.

Arca di lokasi, foto by nurindah97.wordpress.com

Terletak di kaki Gunung Lawu, membuat Cetho juga kerap dikunjungi para pendaki, karena tidak jauh dari kompleks candi terdapat basecamp bagi para pendaki yang ingin menuju ke Puncak Gunung Lawu. Jalur dan map menuju Puncak Lawu via Cetho ini memang lebih jauh, yang mana memiliki jarak sekitar 10 km.

Bandingkan dengan jalur Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang yang hanya berjarak sekitar 6 km. Namun bagi pendaki yang ingin menikmati suasana yang berbeda, jalur Cetho ini kerap dijadikan sebagai pilihan.

Diantara berbagai aktifitas menarik yang dapat dilakukan di kompleks wisata, aktifitas utama yang tidak boleh dilewatkan adalah belajar tentang sejarah masa lalu lewat relief-relief, arca-arca, ornamen-ornamen dan berbagai hal yang menyelimuti bangunan.

Bagi pengunjung yang pernah melihat kompleks Candi Sukuh akan melihat beberapa kesamaan pada Candi Cetho, yaitu bentuk bangunannya yang berundak atau berteras-teras dan berderet dari Barat ke Timur atau dari bagian yang paling rendah menuju ke bagian yang paling tinggi dengan letak pintu masuk pada bagian yang paling rendah.

Selain itu, kesamaan lainnya adalah adanya tatanan batu berbentuk lingga yoni yang sepintas lalu terkesan vulgar dan berkonotasi pornografi namun sebenarnya merupakan simbol dari kesuburan, batu berbentuk kura-kura yang merupakan simbol penciptaan alam, serta arca-arca bergaya pra-sejarah dengan bentuk yang sederhana.

BacaJuga:  10 Foto Curug Benowo Semarang + Rute Alamat Lokasi Letak Wisata Alam di Lereng Gunung Ungaran

Ciri dari kedua candi tersebut tidak terdapat pada candi lain yang ada di Provinsi Jatim, Jateng maupun di DIY.

Tiket masuk, foto by @dykap21

Teras di Candi Cetho berjumlah tujuh buah teras yang melambangkan kehidupan manusia, yang dalam kepercayaan Hindu memiliki tujuh tingkatan. Ketujuh tingkatan tersebut meliputi Bhurloka, Bhuvarloka, Svarloka, Caturloka serta Janaloka, Tapaloka dan Saptaloka.

Antara teras yang satu dengan yang lain dihubungkan oleh dua jalan dan satu pintu masuk. Teras terendah melambangkan derajat manusia yang masih rendah karena dikuasai oleh hawa nafsu sedang teras tertinggi dianggap suci dan paling penting karena melambangkan manusia yang sudah terbebas dari hawa nafsu sehingga dapat terlepas dari hukum karma.

Pada pintu gerbang sebelah Timur, dapat dijumpai gapura berhiaskan arca batu bernama Arca Nyai Gemang Arum, pada sisi Selatan teras pertama terdapat bangunan tanpa dinding atau hanya pondasi dengan ketinggian 2 meter. Di dalamnya terdapat susunan batu-batu dan bekas sesajian yang menandakan kalau tempat ini masih digunakan sebagai tempat berziarah dan pemujaan.

Di dalam kompleks bangunan, pengunjung juga dapat menjumpai beberapa arca yang sebagian besar kondisinya sudah tidak utuh lagi serta relief-relief yang mengusung kisah Sudamala dan Garudeya. Kisah tersebut mengandung makna tentang semangat manusia untuk dapat membebaskan diri dari malapetaka yang dialaminya.

Harga Tiket Masuk

Untuk memasuki area candi, pengunjung akan dikenakan HTM sebesar Rp.7.000 ditambah ongkos parkir sebesar Rp.2.000 untuk motor dan Rp.5.000 untuk mobil. Jam buka mulai pukul 09.00 – 17.00.

Setelah bayar tiket masuk, Anda akan diberi pinjaman sekaligus dibantu untuk mengenakan Kain Poleng pada bagian pinggang oleh petugas yang berjaga di pintu gerbang.

Kain Poleng yang Wajib Dikenakan Pengunjung, gambar by @radiska_putri

Larangan

Mengenakan kain bermotif kotak-kotak berwarna hitam dan putih ini wajib dilakukan oleh pengunjung, karena Cetho hingga kini masih dimanfaatkan sebagai tempat beribadah oleh umat Hindu. Sehingga berbagai anjuran dan larangan yang berlaku di kompleks candi harus dipatuhi oleh wisatawan yang datang berkunjung.

Jangan berharap fasilitas yang lebih saat berada di lokasi wisata, karena selain tempat ini merupakan tempat ibadah juga karena letak candi yang berada di lereng gunung.

Namun kalau hanya untuk mengisi perut atau menghilangkan dahaga, di sekitar area parkir dapat dijumpai beberapa warung yang menjual makanan dan minuman.

Begitu juga untuk wisatawan yang bermaksud menginap di sekitar kawasan wisata, tidak ada satupun hotel atau penginapan mewah kecuali hanya dua pondok wisata yang menyediakan kamar dengan tarif Rp.50.000 semalam.

Dengan tarif yang cukup murah tersebut, fasilitas yang disediakan adalah tempat tidur berukuran sedang dengan kamar mandi di dalam, plus air panas gratis untuk mandi jika tamu penginapan jumlahnya banyak. Jika tamu yang datang sedikit, tidak ada bonus air panas dari pengelola pondok wisata, sehingga tamupun harus mandi dengan menggunakan air dingin.

Bagi wisatawan yang bermaksud menginap, pastikan telah menyiapkan makanan dan minuman untuk santap malam, karena di kawasan sekitar candi tidak ada warung satupun yang buka pada malam hari, kecuali satu dua toko kelontong yang begitu adzan maghrib berkumandang sudah tidak lagi melayani pembeli.

Semua catatan di atas adalah data terakhir pada saat tulisan ini dibuat. Jika ada perubahan terbaru yang Kamu ketahui, silakan informasikan kepada kami pada kolom komentar di bawah ini ya. Begitu juga jika ada yang salah, punya kritik dan saran. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.