Harga Tiket Masuk Gunung Bromo + Jalan Menuju Rute Lokasi Letak Berada di Jawa Timur

Diposting pada
Harga Tiket Masuk Gunung Bromo + Jalan Menuju Rute Lokasi Letak Berada di Jawa Timur
3 (60%) 7 vote[s]
Harga tiket masuk gunung bromo jalan menuju rute lokasi letak berada di jawa timur malang hari ini probolinggo dimana peta indonesia ketinggian barat sunrise ada tour tengger adalah doel sumbang upacara surabaya terdapat provinsi relatif semeru saat wallpaper weather bersalju maps dan jatim berapa mdpl dalam pegunungan hotel berasal dari hd 1974 daerah mana yogyakarta youtube siaga 1 ditutup aktif atau tidak sunset observasi status februari jogja letaknya
Gunung Bromo (foto: umrohmalang.com)

Lokasi:  Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur
Map: KlikDisini
HTM:  Gratis
Buka/Tutup: 24 Jam

Bromo adalah nama yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, karena gunung ini tidak hanya menjadi primadona pariwisata Provinsi Jawa Timur tapi juga objek wisata unggulan Indonesia. Keindahan Bromo sudah sejak lama dikenal lewat foto dan video yang terpajang di berbagai media, baik cetak maupun online, menghiasi sampul-sampul buku, kalender, menjadi wallpaper monitor CPU, smartphone serta menginspirasi sejumlah seniman dalam menghasilkan karya-karya seni, salah satu diantaranya sebuah lagu berbahasa Sunda dengan judul “Gunung Bromo” yang diciptakan Doel Sumbang.

Keindahan sunrise Gunung Bromo yang sulit untuk diungkap dengan kata-kata ditambah sejumlah objek wisata yang ada di kawasan pegunungan Tengger itulah yang membuat Bromo tidak pernah sepi dari pengunjung. Tercatat dalam sehari, pengunjung yang memadati kawasan Bromo sekitar 2.000 – 5.000 orang pada hari-hari biasa dan sekitar 10.000 – 15.000 orang pada akhir pekan serta pada musim liburan.

Jumlah itupun diperkirakan masih akan terus mengalami peningkatan, terlebih dengan adanya kejadian ekstrim pada bulan Juli 2019 yang lalu. Kejadian ekstrim tersebut berupa fenomena alam yang membuat Lautan pasir yang terhampar di kawasan Bromo bersalju. Salju yang terlihat jelas di kubangan pasir ini terbentuk dari embun disebabkan karena cuaca Bromo yang berubah ekstrim dengan suhu berada di bawah 0 derajat celcius.

Perkiraan akan terus melonjaknya jumlah pengunjung itulah yang membuat Pihak Pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) merasa perlu melakukan pembatasan jumlah wisatawan, dengan tujuan untuk lebih menjamin faktor keamanan dan kenyamanan, memudahkan pengawasan sekaligus untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian ekosistem.

Lewat kebijakan pembatasan jumlah wisatawan yang saat ini sudah mulai disosialisasikan dan akan dilaksanakan pada tahun 2019 yang akan datang, jumlah wisatawan nantinya akan dibatasi paling banyak 5.000 orang perhari, sehingga dalam 1 tahun maksimal hanya menerima sebanyak 1,5 juta pengunjung.

Itulah hebatnya Bromo, disaat tempat-tempat wisata lain harus berbenah diri dengan melakukan penambahan dan peningkatan sejumlah fasilitas untuk dapat menarik perhatian wisatawan,  Bromo justru diserbu wisatawan dengan kondisi yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya.

Panorama Kaldera Tengger dan Segara Wedi (Lautan Pasir) (foto: wikipedia)

Sekilas Tentang Gunung Bromo

Gunung Bromo adalah sebuah gunung berapi aktif yang memiliki ketinggian 2.329 mdpl dan menjadi bagian dari kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Bromo terbentuk dari pertautan lembah dan ngarai serta kaldera atau lautan pasir dengan luas sekitar 10 km2. Sebuah kawah menghiasi salah satu bagian dari gunung ini yang memiliki diameter sekitar 800 meter2 membujur dari Utara ke Selatan serta 600 meter2 yang membujur dari Timur ke Barat. Sedang daerah berbahaya dari kawah tersebut berbentuk lingkaran yang mana memiliki jari-jari 4 km dari pusat kawah yang dalam.

Menurut penelitian, Gunung Bromo serta pegunungan yang ada di sekitarnya berasal dari letusan dahsyat Gunung Tengger yang memiliki ketinggian 4.000 mdpl dan merupakan gunung tertinggi sekaligus terbesar pada saat itu. Letusan tersebut menciptakan kaldera dengan diameter berukuran lebih dari 8 km sedang material vulkanik yang dimuntahkan berubah menjadi lautan pasir yang konon pernah tertutup oleh air. Dampak lainnya dari letusan dahsyat tersebut adalah munculnya lorong magma yang membuat gunung-gunung baru terbentuk.

Gunung-gunung yang terbentuk tersebut terbagi atas 2 area pegunungan. Pertama terhampar di lautan pasir sangat luas yang terdiri dari: Gunung Bromo (2.392 mdpl), Gunung Batok (2.440 mdpl), Gunung Watangan (2.601 mdpl), Gunung Widodaren (2.614 mdpl) dan Gunung Kursi (2.581 mdpl). Kedua menjadi dinding kaldera yang sangat terjal dan mengelilingi lautan pasir dengan tinggi 200 – 600 meter dan kemiringan sekitar 60 – 80 derajat. Pegunungan yang ada di sekeliling kaldera tersebut antara lain: Gunung Penanjakan (2.770 mdpl), Gunung Cemoro Lawang, Gunung Pundak Lembu (2.635 mdpl), Gunung Ider-ider (2.527 mdpl), Gunung Lingker (2.278 mdpl), Gunung Mungai (2.480 mdpl) dan Gunung Jantur (2.705 mdpl).

Sepanjang abad XX – XXI, Gunung Bromo sudah berulangkali meletus. Letusan paling besar terjadi pada tahun 1974 dan letusan terakhir terjadi pada tahun 2015, tepatnya pada bulan Desember. Menariknya, interval waktu meletusnya gunung ini terjadi secara teratur yakni setiap 30 tahun sekali. Lebih menarik lagi, meski BMKG telah mengumumkan status siaga 1 dan jalur menuju gunung ini ditutup dari segala arah, namun masyarakat Tengger tidak ada satupun yang mengungsi. Mereka lebih mempercayai keyakinan mereka daripada hasil observasi BMKG. Bahkan saat Bromo meletuspun mereka tetap tinggal di rumah masing-masing.

Suku Tengger yang merupakan penduduk asli pegunungan ini mempercayai bromo sebagai sebuah gunung yang suci. Kepercayaan itulah yang membuat masyarakat Tengger setiap tahun tepatnya pada tanggal 14 atau 15 bulan kesepuluh (kasodo) menurut penanggalan Jawa  menggelar upacara Yadnya Kasada atau Upacara Kasodo . Upacara yang digelar pada tengah malam sampai dini hari di bulan purnama tersebut diselenggarakan di sebuah pura yang letaknya di bawah kaki Gunung Bromo dan diteruskan hingga ke puncak Bromo.

Dengan kepercayaan yang dianut tersebut, masyarakat Tengger justru merasa bersyukur saat Bromo meletus. Karena letusan tersebut dianggap bahwa nenek moyang mereka yang bersemayam di Gunung Bromo sedang menyapa cucu-cucunya dan akan selalu melindungi serta memberi berkah kepada mereka melalui abu vulkanik yang akan memberi kesuburan bagi tanah di perkebunan mereka.

Sejarah dan Legenda Gunung Bromo

Kawah Gunung Bromo dengan Air Kawah (foto: wikipedia)

Masyarakat Tengger yang mendiami kawasan Bromo mempercayai bahwa Bromo adalah gunung yang suci, karena itulah disebut Gunung Bromo yang diambil dari kata Brahma yang dalam agama Hindu merupakan sebutan untuk Dewa Pencipta. Mereka juga percaya bahwa asal-usul nama Tengger berasal dari legenda tentang Roro An”teng” dan Joko Se”ger”.

Konon, dahulu ada seorang pemuda bernama Joko Seger, putra dari seorang brahmana yang menjalin hubungan asmara dengan seorang gadis berwajah cantik bernama Roro Anteng yang tinggal di sekitar Gunung Pananjakan. Begitu cantiknya wajah Roro Anteng membuat banyak raja dan pangeran terpikat dan ingin mempersuntingnya. Tidak terkecuali seorang perampok sakti yang datang langsung untuk melamar.

Mendapat lamaran dari perampok yang sakti dan jahat, Roro Anteng tidak berani menolak namun juga tidak kuasa untuk menerima, karena dia sudah jatuh hati pada Joko Seger. Maka untuk tidak membuat sakit hati sang perampok, dia mengajukan syarat yang tidak masuk diakal, agar dapat menolak lamaran. Syarat tersebut adalah meminta dibuatkan lautan di tengah-tengah gunung dalam waktu semalam.

Perampok yang merasa yakin dengan kesaktiannya, menyanggupi permintaan tersebut. Begitu matahari tenggelam dia langsung menggali pasir dengan menggunakan batok (tempurung kelapa) untuk membuat lautan. Menjelang pagi, pekerjaan tersebut hampir selesai. Rara Anteng yang tidak ingin dinikahi perampok, berusaha menggagalkannya dengan cara menumbuk padi menggunakan alu dan lesung (alat penumbuk padi tradisional).

Mendengar suara alu dan lesung beradu, tidak berapa lama kemudian ayam-ayam jago yang mengira fajar sudah datang, seketika berkokok, dan suara kokok ayam merupakan pertanda bahwa hari sudah pagi, sementara pekerjaan sang perampok membuat lautan masih belum selesai. Terbawa oleh rasa marah, perampok itu melemparkan batok pengeruk pasir dan jatuh tertelungkup. Seketika batok itu berubah menjadi gunung yang kini bernama Gunung Batok yang letaknya bersebelahan dengan Gunung Bromo.

BacaJuga:  Pantai Dampar, Hamparan Pasir Hitam nan Bersih

Setelah perampok gagal mempersunting Roro Anteng, gadis itu kemudian menikah dengan Joko Seger. Mereka membangun pemukiman dan memerintah kawasan Tengger. Joko Seger sendiri selanjutnya mendapat sebutan Purbowasesa Mangkurat ing Tengger yang artinya “Penguasa Tengger yang Budiman”. Nama Tengger selain diambil dari nama Roro Anteng dan Joko Seger juga memiliki maksud “Tengering Budi Luhur” yang artinya “Pengenalan Moral Budi”.

Dibawah kepemimpinan Joko Seger, masyarakat Tengger hidup dalam kemakmuran. Namun sayang, pernikahan Joko Seger dengan Roro Anteng tidak dikaruniai keturunan. Karena itulah mereka menuju ke puncak Gunung Bromo dan bersemedi di sana untuk meminta kepada Dewata agar dikaruniai anak.

Saat bersemedi itulah terdengar suara ghaib yang mengabulkan permintaan mereka, namun dengan syarat, apabila kelak mendapat keturunan, maka anak terakhir harus dikorbankan dengan dimasukkan  ke dalam kawah Gunung Bromo. Tanpa berpikir panjang, persyaratan itupun disanggupi.

Debu vulkanik menyembur dari kawah Gunung Bromo di Desa Cemorolawaang,

Beberapa tahun kemudian, mereka dikaruniai 25 anak. Pada saat itu Dewa mengingatkan agar mereka memenuhi janji yang telah diucapkan. Sebagai orang tua, mereka tidak tega untuk mengorbankan anak bungsu mereka. Karena mengingkari janji, Dewa pun marah dan menimpahkan prahara berupa semburan api dari Gunung Bromo. Jilatan api dari Gunung Bromo membuat anak bungsu Jaka Tengger dan Roro Anteng yang bernama Kusuma hilang.

Bersamaan dengan hilangnya jasad Kusuma, terdengar suara ghaib, “Saudara-saudaraku yang tercinta, untuk menyelamatkan nyawa kalian semua, orang tuaku telah mengorbankan aku kepada Hyang Widi. Agar hidup kalian semua dapat selalu tenteram dan damai, sembahlah Hyang Widi dan lakukan upacara di bulan Kasada hari ke-14 dengan memberikan sesaji berupa hasil bumi kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo. “

Karena pesan dari Kusuma itulah, hingga kini masyarakat Tengger secara rutin menggelar upacara Yadnya Kasada atau Upacara Kasodo pada bulan kesepuluh hari ke-14 atau ke-15 disaat bulan sedang purnama. Upacara tersebut dilakukan dengan mendaki Gunung Bromo sambil membawa saji. Dalam sesaji terdapat bunga, beras, sayuran, buah-buahan dan juga hewan ternak. Sesaji tersebut selanjutnya dilempar ke dalam kawah Gunung Bromo. Meski upacara tersebut cukup berisiko, namun masyarakat Tengger selalu melaksanakannya, karena menurut kepercayaan mereka, barang-barang yang dikorbankan akan membawa keberuntungan.

Rute Menuju Gunung Bromo

Meski merupakan wisata gunung, untuk menuju ke Gunung Bromo atau saat berada di lautan pasirnya yang seluas 5.920 hektar, Anda tidak perlu membawa peta atau terus menerus melihat maps pada GPS di layar smartphone, karena akses jalan menuju lokasi banyak ditandai dengan papan penunjuk arah sehingga sangat mudah untuk dijangkau. Begitu juga saat berada di lokasi, banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Bromo, apalagi pada saat liburan, akan membantu Anda menemukan tempat yang dituju tanpa perlu khawatir akan tersesat.

Bromo yang menjadi bagian dari empat kabupaten yaitu Probolinggo, Malang, Lumajang dan Pasuruan, membuat lokasinya dapat diakses dari empat kabupaten yang berada di provinsi Jawa Timur ini, sebab masing-masing kabupaten memiliki pintu masuk sendiri-sendiri yang menuju ke lokasi wisata. Meski dapat diakses dari berbagai arah, namun semua jalan yang dilalui memiliki kondisi yang tidak jauh berbeda, yaitu jalan yang relatif terjal dengan pemandangan alam yang menawan, berupa hijaunya pepohonan dan hamparan persawahan.

Pintu masuk pertama yang paling banyak digunakan oleh para wisatawan adalah pintu masuk melalui Kabupaten Probolinggo, tepatnya di Desa Wonotoro, Desa Jetak dan Desa Cemoro Lawang yang berada di Kecamatan Ngadisari. Para wisatawan yang datang dari arah Barat seperti dari Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya banyak yang memilih lewat sini karena selain lokasinya paling dekat juga didukung dengan fasilitas yang lengkap, seperti hotel, penginapan, homestay, warung-warung yang menjual berbagai jenis makanan dan minuman, penyewaan jeep, biro tour & travel serta yang lain.

Untuk menuju ke ketiga desa yang ada di Ngadisari, wisatawan yang menggunakan angkutan umum dapat naik mobil jenis colt dari Terminal Probolinggo hingga sampai di lereng perbukitan Cemoro Lawang. Tiga desa yang penduduknya mayoritas beragama Hindu dan memegang teguh adat istiadat ini dikelilingi oleh pegunungan. Sisi sebelah Barat dibatasi Gunung Bromo, Gunung Batok dan lautan Pasir, Sisi Utara hingga Timur tampak berjajar Gunung Ringgir, Brak Lengkong dan Gunung Lingga (Penanjakan). Sedang sisi Selatan berbatasan dengan Gunung Pundak Lembu Menjulang.

Kompleks pegunungan di Kaldera Tengger saat matahari terbit (foto: wikipedia)

Pintu masuk berikutnya melalui Malang, Tumpang, Gubukklakah hingga Ngadas, kemudian berlanjut ke Jemplang sebelum akhirnya tiba di kawasan Bromo yang jaraknya sekitar 53 km. Jalur terjal yang harus dilewati menjadi sedikit terlupa saat menuju ke lokasi, karena pemandangan di sepanjang perjalanan sangat memukau. Terlebih saat memasuki desa kecil bernama Gubukklakah yang dikenal sebagai penghasil buah apel, dimana kebun-kebun apel terhampar luas di pinggir jalan yang dilalui.

Wisatawan yang melewati rute ini pada umumnya berasal dari arah Barat seperti dari Jogja dan Jawa Tengah serta dari kabupaten-kabupaten di Jatim yang ada di kawasan Barat seperti Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Magetan, Madiun dan Ponorogo. Mereka yang mengambil rute ini akan mendapatkan bonus wisata air terjun Coban Pelangi yang dapat dijumpai setelah melewati Ngadas. Saat berada di Pertigaan Jemplang, wisatawan akan menemukan jalur lurus menuju Ranu Pani  yang menjadi titik awal pendakian menuju Gunung Semeru, sedang jika ingin ke Bromo maka harus berbelok ke arah kiri.Perjalanan dari Ngadas menuju Pananjakan membutuhkan waktu sekitar satu jam.

Pintu masuk ke Bromo melalui jalur Pasuruan dapat ditempuh dengan 2 akses yaitu melewati Purwodadi menuju Nongkojajar, Tosari hingga sampai Gunung Bromo atau lewat Warungdowo menuju Ranggeh, Pasrepan, Puspo, Tosari dan Bromo. Jika melalui Purwodadi, jalan yang harus dilewati berada tepat di Selatan Kebun Raya, dan akan melintasi perkebunan strowberry, bunga krisan, buah naga, durian, paprika, sayur mayur, kebun apel dan peternakan sapi perah.

Saat masuk ke wilayah Tosari, selain akan bertemu dengan jalan yang diapit hutan, wisatawan juga akan menjumpai ladang sayur yang dibudidayakan masyarakat setempat serta ladang percontohan gandum yang merupakan upaya pengembangan budidaya tanaman gandum di Indonesia.

Pintu masuk ke Bromo melalui Lumajang adalah akses yang paling jarang dilalui, karena jalur ini sebenarnya untuk para pendaki yang akan menuju ke Gunung Semeru. Jadi tujuan ke Bromo hanya merupakan tujuan tambahan. Jalur ini khusus untuk mereka yang menggunakan kendaraan pribadi dengan terlebih dahulu menuju ke Kecamatan Senduro yang jaraknya sekitar 20 km dari Kota Lumajang. Di sini wisatawan dapat singgah sejenak di Pemandian Alam Selokambang yang harga tiketnya sangat murah sebelum melanjutkan perjalanan.

Untuk mereka yang tiba di Senduro pada sore hari dapat menginap di homestay atau hotel sambil beristirahat dan menyaksikan wisata religi yakni Pura Mandara Giri. Keesokan harinya perjalanan dapat dilanjutkan menuju Ranu Pani dengan melewati kawasan Hutan Ireng-Ireng. Di sinilah wisatawan dapat mengawali pendakian menuju Gunung Semeru. Namun jika tujuannya ke Bromo, maka harus meneruskan perjalanan ke Njemplang. Sesampai di pertigaan yang mempertemukan akses dari Malang dengan akses dari Lumajang, Anda tinggal mengikuti papan penunjuk arah yang menuju ke Bromo dan sampailah Anda di Watu Kutho yakni hamparan padang ialalang yang memiliki letak di sebelah Selatan Bromo.

Daya Tarik Gunung Bromo

Gunung Bromo memang tidak memiliki pesona sunset sebagaimana yang dijual tempat-tempat wisata pada umumnya. Namun sunrise yang disuguhkan Bromo memiliki pesona luar biasa dan tidak dijumpai di tempat-tempat wisata yang lain. Keindahan sunrise yang eksotis itulah yang membuat Bromo dijuluki “The Famous Sunrise” dan mengundang para wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Kebun Strawberry di Gunung Bromo (foto: yoshiwafa.com)

Untuk berburu sunrise di Gunung Bromo, tidak perlu melakukan pendakian yang sangat melelahkan sebagaimana berwisata di gunung-gunung lainnya. Bahkan dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat dengan lama perjalanan sekitar 12 jam jika ditempuh dari Surabaya. Karena itulah traveller yang menyukai wisata praktis selalu memasukkan Bromo ke dalam daftar kunjungan mereka.

BacaJuga:  Harga Tiket Masuk Coban Rondo Malang

Untuk melakukan kunjungan singkat ke Gunung Bromo, perjalanan dapat dilakukan lewat pintu Barat dengan masuk ke Desa Tosari menuju ke Lautan Pasir menggunakan mobil Jeep yang dapat disewa dari pengelola wisata. Bagi yang membawa kendaraan roda dua dapat melewati pintu Utara di daerah Tongas Probolinggo menuju Desa Cemoro Lawang karena medan yang dilalui untuk menuju ke Lautan Pasir tidak terlalu curam.

Perjalanan menjempur sunrise tersebut dapat diawali pada jam 00.00 agar dapat tiba di lokasi sekitar pukul 02.00 – 03.00 WIB dan dapat beristirahat sejenak sekaligus menyiapkan kamera dan berbagai peralatan yang lain. Selama beristirahat, Anda dapat mengisi perut dan menghilangkan rasa haus karena di sekitar Lautan Pasir banyak dijumpai para penjual makanan dan minuman.

Selesai beristirahat Anda dapat memulai pendakian dengan menaiki anak tangga sejumlah 250 dan melewati Pura Mandara Giri yang digunakan untuk melaksanakan Upacara Kasada. Dipuncak Gunung Bromo inilah dapat disaksikan sunrise yang keindahannya sanggup membelalakkan mata. Begitu indahnya lukisan alam tersebut, pada saat sang surya mulai menampakkan wujudnya, tidak jarang disambut dengan tepuk tangan oleh para wisatawan. Bersamaan dengan itu, kamera-kamera pun beraksi mengabadikan terbitnya sang surya dari ufuk Timur.

Puas menikmati sunrise, Anda dapat menyaksikan indahnya panorama Lautan Pasir berlatarbelakang pegunungan sampai dengan jam 09.00 pagi. Setelah itu dapat turun dari Puncak Bromo dan kembali ke kota keberangkatan.

Pesona Gunung Bromo

Bukan hanya sunrise saja yang menjadi daya tarik dari Gunung Bromo, tapi juga sejumlah pesona yang lain. Pesona yang sanggup memikat para wisatawan tersebut diantaranya adalah:

1. Masyarakat Tengger yang Ramah

Suku Tengger yang merupakan penduduk lokal kawasan Bromo dikenal sebagai suku yang ramah, hangat dan murah senyum kepada siapapun termasuk para pendatang asing. Mereka akan dengan senang hati membantu memberikan informasi kepada siapapun yang membutuhkan.

2. Akses Mudah, Transportasi Murah

Meski sebagian jalan yang harus dilalui relatif terjal, namun masih terbilang mudah untuk ukuran wisata adventures. Selain jalan, sarana transportasi umum juga mudah didapat, sehingga bukan suatu keharusan untuk membawa kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan angkutan umum, kendaraan akan berhenti di sekitar kaki gunung, dilanjutkan dengan menyewa jeep pada pihak pengelola.

3. Fasilitas yang Memadai

Meski tidak sekomplit tempat-tempat wisata modern, fasilitas dan sarana yang tersedia di Gunung Bromo cukup lengkap, mulai dari penjual makanan dan minuman, penyewaan kuda dan Jeep, penginapan, homestay serta yang lain.

4. Kearifan Lokal dan Upacara Adat

Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo (foto: yoshiwafa.com)

Adat istiadat dan tradisi yang masih terpelihara serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat Tengger memberi sisi yang berbeda dari pemahaman masyarakat global dan hal tersebut menciptakan keunikan serta daya tarik bagi siapapun. Keunikan tersebut menjadi semakin kuat dengan diimplementasikan tradisi lewat pelaksanaan upacara adat yang puncaknyan terjadi pada Upacara Kasada.

5. Fenomena Alam yang memukau

Pesona sunrise yang fenomenal hanya salah satu dari sekian banyak keindahan alam yang dipersembahkan Bromo kepada wisatawan. Banyaknya fenomena alam yang memukau membuat Bromo menjadi magnet bagi wisatawan yang belum pernah datang ke gunung ini dan tetap memberikan daya tarik yang tidak pernah membosankan bagi mereka yang telah berulangkali datang berkunjung.

Tempat Wisata di Gunung Bromo yang Wajib Dikunjungi

Daya pikat Gunung Bromo tidak hanya tersaji di satu tempat, tapi memenuhi setiap sudutnya, sehingga objek wisata yang satu ini tidak pernah membosankan untuk dikunjungi. Berikut beberapa tempat wisata di Gunung Bromo yang siap menyambut wisatawan dengan keindahan alamnya sekaligus keunikan yang tidak bakal ditemui di tempat lain:

1. Penanjakan 1

Tempat tertinggi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini merupakan lokasi terbaik untuk menikmati sunrise. Karena letaknya di sebelah Barat Pegunungan Tengger, untuk dapat mencapainya harus menggunakan kendaraan 4WD seperti hardtop atau jeep sebab akses menuju lokasi penuh dengan tikungan yang tajam dan curam. Penanjakan 1 juga dapat ditempuh dengan motor sepanjang tidak menggunakan motor matic.

Sebagai view point sunrise terbaik di Bromo dan karena sasaran utama mereka yang datang ke sini adalah untuk melihat indahnya matahari terbit, maka usahakan untuk tiba di lokasi sekitar pukul 03.00 agar tidak sampai kehilangan momen penting yaitu terbitnya matahari di ufuk Timur.

2. Penanjakan 2

Meski tidak setenar Penanjakan 1, tempat ini juga bisa dijadikan sebagai alternatif untuk menikmati sunrise bagi wisatawan yang  datang lewat rute Probolinggo. Meski Penanjakan 2 yang juga dikenal dengan sebutan View Point Seruni ini tidak setinggi penanjakan 1, namun keindahan sunrisenya tidak kalah menarik.

Kelebihannya, tempat ini lebih mudah diakses dan tidak perlu harus menggunakan mobil 4WD, tapi cukup dengan mobil biasa dan berbagai jenis sepeda motor. Kekurangannya, keindahan sunrise yang luar biasa hanya dapat dinikmati pada bulan-bulan tertentu yakni sepanjang bulan September – Mei atau pada musim hujan. Pada bulan-bulan yang lain atau pada musim kemarau, munculnya sunrise terlihat agak lambat sehingga mengurangi daya tarik yang disuguhkan.

3. Bukit Mentigen

Spot view sunrise yang ideal lainnya adalah Bukit Mentigen. Meski tidak sesempurna keindahan sunrise yang dilihat dari Penanjakan 1 dan di View Point Seruni, matahari terbit yang dilihat dari Bukit Mentigen juga cukup dapat memanjakan mata. Menariknya, untuk menuju ke puncak bukit, wisatawan tidak perlu harus membawa kendaraan, tapi cukup dengan berjalan kaki dari penginapan, homestay, villa atau hotel, karena jaraknya memang cukup dekat. Hanya saja bukit ini hanya bisa dikunjungi oleh wisatawan yang mengambil start pendakian di daerah Cemoro Lawang.

4. Padang Rumput Savana

Lokasi padang rumput ini berada di Lembah Jemplang atau di sisi Selatan Timur Gunung Bromo, tepatnya di sebuah lembah hijau berpagar tebing-tebing yang menjulang tinggi dan bebukitan. Melihat hamparan rumput yang sangat luas dengan nuansa hijau yang menyelimuti sekeliling, membuat siapapun akan merasa tidak sedang berada di kawasan Gunung Bromo, karena pemandangan yang tersaji berbalik 180 derajat dari kondisi Bromo secara keseluruhan yang didominasi oleh pasir dan bebatuan.

Untuk menuju ke Padang Rumput Savana akses terdekat dan termudah jika menggunakan sepeda motor atau mobil biasa adalah lewat Lumajang atau Malang. Ukuran mudah yang dimaksud bukan berarti jalan yang dilalui mulus, namun tetap terjal, hanya saja masih manusiawi. Itu sebabnya butuh ketrampilan berkendara di atas rata-rata jika ingin menuju ke lokasi.

5. Bukit Teletubies

Bukit Teletubbies Gunung Bromo (foto: yoshiwafa.com)

Bebukitan yang ada di kawasan ini sebagaimana gambar bukit-bukit yang ada dalam film kartun Teletubies, karena itu diberi nama yang sama dengan judul film kartun tersebut.  Keindahan Bukit Teletubies dapat dinikmati dengan cara menyusuri jalan yang sama dengan rute menuju Padang Rumput Savana, karena letaknya di sebelah Selatan Gunung Bromo.

6. B 29 Argosari

Karena belum begitu lama dikelola, membuat Puncak B 29 Argosari kurang begitu dikenal. Itu sebabnya masih banyak yang menyebut puncak tertinggi di kawasan wisata Bromo adalah Penanjakan 1, padahal B 29 Argosari inilah yang paling tinggi. Tidak heran jika tempat favorit untuk menggelar camping ini senantiasa diselimuti udara dingin dan dihiasi dengan berbagai jenis tumbuhan khas dataran tinggi. Di ketinggian B 29 inilah dapat dinikmati pemandangan yang sangat menawan dengan latar belakang Gunung Bromo dan pegunungan di kawasan Tengger lainnya.

B 29 terletak di Desa Argosari, Kecamatan Senduro yang jaraknya sekitar 40 km dari Kota Lumajang. Akses termudah untuk menuju ke lokasi adalah melewati Jalur Selatan, Senduro – Lumajang. Karena medan yang harus dilalui cukup berat lewat jalan terjal dan menanjak serta memiliki banyak tikungan tajam bersebelahan dengan jurang yang membentang, membuat wisatawan harus menggunakan motor trail atau mobil 4WD. Bagi pengunjung yang tidak membawa kendaraan sendiri tidak perlu berkecil hati, karena cukup banyak jasa ojek yang siap mengantar hingga sampai ke puncak B 29.

BacaJuga:  Seru-Seruan di Malang, Jangan Lupa Hangout Ke Tempat Ini. Bisa Jadi Moodbooster Lho!

7. Pasir Berbisik

Istilah “Pasir Berbisik” mulai populer semenjak beredarnya film yang dibintangi Dian Sastro Wardoyo, Christine Hakim dan Slamet Rahardjo pada tahun 2001. Film yang meraih banyak penghargaan di beberapa ajang Festival Film Internasional tersebut memang mengambil tempat shooting di Lautan Pasir Gunung Bromo. Namun bukan berarti, istilah “Pasir Berbisik” diambil dari judul film tersebut, tapi judul film itulah yang menyadur istilah yang populer di kalangan masyarakat Tengger dan wisatawan yang kerap berkunjung ke Gunung Bromo.

Disebut “Pasir Berbisik” karena lautan pasir yang tidak dimiliki oleh gunung berapi manapun kecuali Bromo, pada saat angin bertiup memperdengarkan suara-suara desiran yang khas layaknya sseseorang yang sedang berbisik. Lautan Pasir ini menghadirkan pemandangan yang khas dan memukau dengan latar belakang lereng-lereng kalendra serta hijaunya hutan Gunung Bromo.

Pasir Berbisik di Gunung Bromo (foto: yoshiwafa.com)

8. Air Terjun Madakaripura

Wisata air terjun ini berada di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo. Untuk menuju ke lokasi dapat dilakukan dengan membelokkan kendaraan di daerah Tongas, Probolinggo dan menyusuri jalan yang mulus menggunakan kendaraan roda 2 atau roda 4 hingga tiba di pelataran parkir area wisata.

Dengan membayar tiket masuk yang relatif murah, pengunjung sudah dapat menyaksikan keindahan air terjun berketinggian 200 meter, sekaligus menikmati sejuknya air pegunungan yang tercurah dari atas ketinggian. Air Terjun Madakaripura berada tepat di bawah kaki Gunung Bromo.

9. Bromo Milky Way

Bromo Milky Way bukan nama tempat, melainkan foto dengan latar belakang gugusan bintang. Karena itulah dinamakan Milky Way yang merupakan nama lain dari Galaksi Bima Sakti. Istilah “Bromo Milky Way” pernah ngetrend di tahun 2013 – 2014, setelah ada salah seorang turis asing yang mengupload video HD di youtube tentang keindahan milky way dari kawasan Bromo. Sejak saat itulah banyak fotografer dari berbagai belahan dunia yang melakukan hunting foto Bima Sakti di Gunung Bromo.

Untuk mengabadikan Milky Way di Gunung Bromo hanya dapat dilakukan pada malam hari saat cuaca cerah, tanpa adanya kabut, mendung dan awan. Karena itu hanya dapat dilakukan pada musim kemarau atau sekitar bulan Mei – September, dan hampir tidak bisa dilakukan sepanjang bulan Desember – Februari karena seringnya turun hujan serta langit yang kerap tertutup awan. Ketika cuaca sedang cerah, saat itulah waktu terbaik untuk melakukan walking weather, mencari spot-spot terbaik yang kondisinya dalam keadaan gelap sempurna tanpa ada satu titikpun cahaya lampu. Selain kemampuan dalam membaca kondisi alam, untuk dapat menghasilkan foto Bromo Milky Way harus digunakan software Stellarium.

Itulah sejumlah tempat yang membuat Gunung Bromo menjadi salah satu primadona pariwisata di Indonesia yang dari waktu ke waktu semakin banyak dikunjungi para wisatawan, baik dari dalam negeri maupun turis mancanegara.

Tips Berkunjung ke Gunung Bromo

Menjelajah dan mendaki gunung dimanapun tempatnya, tidak terkecuali di Gunung Bromo, tidak semudah berkunjung ke tempat-tempat rekreasi lainnya. Butuh sejumlah persiapan khusus, agar kunjungan wisata yang Anda lakukan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Jika persiapan khusus tersebut tidak dilakukan, bukan tidak mungkin kegembiraan yang Anda inginkan justru berubah menjadi malapetaka. Berikut beberapa tips yang perlu diperhatikan saat berkunjung ke Gunung Bromo:

Kaki Gunung Bromo (foto: wikipedia)
  • Pilih waktu yang tepat saat mengadakan kunjungan, karena pada waktu-waktu tertentu Bromo dibanjiri para wisatawan yang dapat berdampak pada sulitnya mencari penginapan. Lakukan kunjungan pada musim kemarau, karena pada musim hujan medan yang harus dilewati menjadi lebih berat. Selain itu, di musim hujan langit seringkali tertutup awan, sehingga keindahan sunrise yang diharapkan tidak dapat dinikmati.
  • Jika terpaksa harus melakukan kunjungan pada akhir pekan atau pada musim liburan, sebaiknya melakukan booking penginapan / hotel dan memesan kendaraan beberapa hari sebelum keberangkatan, karena besar kemungkinan Anda akan sulit mencari penginapan dan juga kendaraan apabila tidak melakukannya pemesanan sejak awal.
  • Meski tidak sesulit mendaki gunung-gunung yang lain, butuh fisik yang prima sebelum berangkat ke Bromo, karena bagaimanapun juga Anda harus mengeluarkan tenaga ekstra, minimal untuk mendaki anak tangga sejumlah 250 buah menuju ke puncak Bromo. Belum lagi jika harus berkunjung ke objek wisata lainnya yang ada di kawasan Bromo.
  • Untuk yang membawa kendaraan pribadi, jangan lupa memeriksa kondisi kendaraan, bila perlu menservisnya terlebih dahulu, karena medan yang harus dilewati memiliki banyak kelokan dan tanjakan dan yang pasti lebih berat dibandingkan medan yang biasa ditempuh oleh kendaraan tersebut. Jangan lupa pula untuk memeriksa bahan bakar, karena semakin dekat dengan kawasan Bromo, semakin jarang penjual bensin eceran.
  • Bawa perlengkapan yang memadai, seperti jaket dan celana panjang tebal, sarung tangan, syal, kupluk, sepatu hiking, flashlight, kacamata, masker dan juga kamera untuk mengabadikan sunrise dan keindahan pemandangan alam. Bawa pula makanan dan minuman yang cukup, sebab meskipun di lokasi wisata banyak ditemui penjual makanan dan minuman, namun harganya 3 kali lipat lebih mahal.
  • Siapkan uang tunai yang cukup untuk berbagai kebutuhan selama berada di kawasan Bromo, karena di sekitar lokasi wisata tidak terdapat satupun mesin ATM.
  • Bagi yang baru pertamakali berkunjung ke Bromo, sebaiknya menyewa tour guide atau membeli Paket Wisata Gunung Bromo, agar perjalanan wisata Anda lebih aman, menyenangkan, efektif dan efisien.
  • Tidak harus membawa kendaraan pribadi untuk berkunjung ke Bromo, karena di sekitar pintu masuk menuju lokasi wisata banyak ditemukan tempat-tempat persewaan motor dan jeep. Jika harus menyewa kendaraan, hitung jumlah rombongan agar dapat lebih berhemat. Apabila datang hanya berdua dengan pasangan, lebih baik menyewa motor seharga Rp.80.000 perhari belum termasuk bensin, dan apabila rombongan lebih dari 4 orang sebaiknya menyewa jeep seharga Rp.1.250.000.
  • Jangan mencoba menawar tarif sewa kendaraan, karena akan percuma. Sebab para pemilik kendaraan yang disewakan tersebut bersatu dibawah naungan paguyuban Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan telah membuat acuan harga yang sama, sehingga tidak ada yang memberikan harga lebih murah atau lebih mahal.
  • Bagi yang ingin bermalam, sebaiknya tidak menyewa kamar hotel di sekitar pintu gerbang wisata, karena harganya tidak ada yang murah. Penginapan yang cocok bagi para backpackers dapat ditemui di pusat Kota Malang, seperti Tya Backpackers dengan tarif Rp.50.000, Kavie Hostel seharga Rp.75.000 serta Hotel Malang yang memasang tarif Rp.100.000. Tarif penginapan murah lainnya adalah menyewa homestay di sekitar lokasi wisata dengan harga sewa Rp.125.000.
  • Pada saat melakukan perjalanan di tengah kegelapan malam di area Lautan Pasir menuju lokasi parkir yang ada di sekitar Pura, jadikan patok dari beton sebagai pedoman, karena patok tersebut sengaja dipasang untuk dijadikan sebagai petunjuk ke area pura. Jika dalam perjalanan ternyata tersesat, jangan panik dan hentikan perjalanan apabila kabut dalam keadaan tebal. Tunggu beberapa saat karena sekitar pukul 02.00 – 03.00 biasanya akan lewat beberapa penunggang kuda sewaan di sekitar area Lautan Pasir.
  • Agar perjalanan wisata Anda lebih berwarna dan lebih berkesan, gunakan rute yang berbeda pada saat berangkat dan pada saat pulang. Dengan cara tersebut akan banyak lokasi di sekitar kawasan Bromo yang dapat Anda nikmati.

Demikian beberapa tips yang perlu diperhatikan, sebelum dan pada saat melakukan kunjungan wisata ke Gunung Bromo, agar perjalanan Anda menjadi lebih menyenangkan dan lebih berkesan. (*)

Semua catatan di atas adalah data terakhir pada saat tulisan ini dibuat. Jika ada perubahan terbaru yang Kamu ketahui, silakan informasikan kepada kami pada kolom komentar di bawah ini ya. Begitu juga jika ada yang salah, punya kritik dan saran. Terima kasih.

One thought on “Harga Tiket Masuk Gunung Bromo + Jalan Menuju Rute Lokasi Letak Berada di Jawa Timur

  1. bagus banget infonya sangat berguna bagi kami yg blm pernah k bromo.terima kasih infonya semoga anda dimudahkan segala urusan oleh ALLAH swt.amiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.