10 Gambar Wisata Alam Kalibiru Kulon Progo Jogja, Harga Tiket Masuk + Jalan Menuju Lokasi

Posted on
Kalibiru jogja kulon progo malang lawang karanganyar ambarawa raja ampat pujon papua 2017 alamat jam buka tiket masuk berapa harga lokasi rute dari malioboro yogyakarta wates maps diy denah wikipedia youtube losmen kali biru wisata lembang solo kebumen kaliurang titi kamal klaten kokap goa biak di tour tarif tempat transportasi unik istimewa outbound peta penginapan pesona pemandangan paket puncak pantai letak kota koordinat arah alam jarak jalan juni juli htm hotel hutan gambar foto festival dimana menuju desa dunia dukun sunset sejarah akses bukit menoreh national park biaya backpacker waduk sermo taman regency special region hargowilis rumah pohon tips indonesia obyek operasional pariwisata gardu pandang cara ke jalur homestay gps gabus jembatan gantung godean gowes goyang pindul flying fox foursquare fasilitas foto2 entrance fee full spot jasa danau toba bandung daerah dengan mobil dekat dusun dieng jayapura dimanakah download trek downhill semarang salatiga sumatera utara simarjarunjung sunrise sore hari samigaluh semin senja sekitar searah suroloyo sukoharjo sungai antri adalah ada apa aja magelang medan memotret mangunan munggang asal mula murah sewa motor bantul banyuwangi banten bayar bekasi beach berita latar belakang naik angkutan umum opening hours nya bogor borobudur boyolali view video villa visit via village caption cottage camping curug cerita camp com canting mas lindung atas panorama picture
Kalibiru (foto: wisataku.net)

Lokasi: JL. Waduk Sermo, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 55653
Map: KlikDisini
HTM: Rp.5.000
Buka/Tutup: 07.00 – 17.00 WIB
Telepon: 0813 9294 7249

Bukan tanpa alasan jika Jogja senantiasa mampu bersanding dengan Bali sebagai primadona pariwisata di Indonesia. Selain dianugrahi alam dengan panorama yang indah serta adat istiadat dan budaya lokal yang terjaga kelestariannya, Jogja juga selalu berbenah. Berkunjung ke Yogyakarta menjadi tidak membosankan, karena tempat-tempat wisata yang ada selalu menyuguhkan sesuatu yang baru dalam bentuk penambahan fasilitas dan sarana untuk lebih memanjakan wisatawan.

Selain itu, provinsi yang menjadi sentral dari Budaya Jawa ini juga  terus menambah destinasi wisata yang ada, baik dengan membangun destinasi yang benar-benar baru, maupun dengan melakukan alih  fungsi area, dari semula untuk aktifitas lain dirubah menjadi kawasan wisata.

Tidak hanya itu, seluruh potensi yang ada juga diberdayakan semaksimal mungkin untuk bersama-sama ikut mendukung industri pariwisata, mulai dari instansi yang ada di pemerintahan sampai dengan masyarakat.

Pemandangan Alam yang Memukau di Kalibiru (foto: pakettourjogja.com)

Contoh nyata dari upaya pemberdayaan masyarakat bisa dilihat dari keberhasilan pemerintah DIY dalam melakukan pembinaan terhadap masyarakat yang berdomisili di kawasan sekitar hutan melalui LMDH (Lembaga masyarakat Desa Hutan), sehingga kawasan hutan Kalibening yang awalnya gersang karena kasus pembalakan liar dapat kembali dihijaukan dengan rangkaian program reboisasi yang dilakukan oleh masyarakat setempat dengan bantuan dari pemerintah.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, kawasan hutan yang kembali hijau selanjutnya diberdayakan untuk objek wisata, dengan menjual keindahan alam yang berada di kawasan hutan lindung yang notabene berada di atas bukit dengan latar belakang landskap Perbukitan  Menoreh dan Waduk Sermo yang terhampar di kejauhan, serta suasana ala pedesaan di Desa Wisata Kalibiru.

Untuk menambah daya tarik bagi wisatawan, penduduk desa juga membangun sejumlah fasilitas dengan dana swadaya dan tidak bergantung pada pemerintah. Kesadaran tersebut muncul setelah pemerintah memberikan sosialisasi serta pemahaman, dan setelah Kalibiru menjadi salah satu destinasi wisata yang hits di Jogja, penduduk kini dapat menikmati hasilnya lewat bertambahnya sumber penghasilan dan meningkatnya taraf ekonomi dari sektor pariwisata.

Sunrise di Kalibiru (foto: yogjo.com)

Tidak heran jika peningkatan demi peningkatan terus dilakukan di kawasan Desa Wisata Kalibiru untuk dapat lebih memberikan kenyamanan bagi wisatawan yang semua dilakukan oleh masyarakat. Sehingga Kalibirupun kini tidak hanya dikenal oleh wisatawan lokal dan domestik tapi juga dikunjungi wisatawan dari mancanegara.

Keindahan Kalibiru yang memukau semakin dikenal luas, karena banyak situs-situs Pariwisata yang memberikan review dalam bentuk artikel beserta foto tentang Kalibiru, serta banyaknya mereka yang berkunjung mengupload foto dan video panorama Kalibiru di sejumlah media sosial seperti Instagram, Youtube, Facebook, serta yang lain.

Mengenal Sekilas Desa Wisata Kalibiru

Kalibiru adalah kawasan hutan lindung yang berdiri di atas perbukitan dengan tanah bergelombang dan berada pada ketinggian 450 meter dari atas permukaan laut dengan titik koordinat 7,8°LU dan 110,12°BT. Hutan lindung ini dikelola oleh masyarakat dan sebagian areanya dimanfaatkan untuk kawasan wisata dengan tujuan untuk melestarikan kawasan hutan sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat.

Salah Satu Sudut Kalibiru yang Rindang dan Romantis (foto: noyvesto.net)

Dalam sejarah tercatat bahwa sebelum tahun 1930 Kalibiru merupakan kawasan perkampungan yang telah dihuni oleh penduduk secara turun temurun selama ratusan tahun. Bahkan, Pangeran Diponegoro dalam perlawanannya melawan VOC pernah menjadikan Kalibiru sebagai tempat persembunyian. Penduduk yang tinggal di sini mayoritas bermatapencaharian sebagai petani dengan luas lahan yang terbatas.

Sekitar tahun 1930 – 1945, Pemerintah Hindia Belanda mengambil alih Kalibiru untuk dijadikan kawasan hutan penghasil kayu. Sehingga penduduk dilarang beraktifitas di lahan yang semula mereka miliki, bahkan mereka diusir secara paksa oleh penjajah Belanda tanpa diberikan kompensasi. Karena dalam posisi yang lemah dan tidak mampu melawan, pendudukpun tidak bisa beruat apa-apa kecuali mencari tempat tinggal yang baru.

Pada tahun 1945 – 1949, Pemerintah Indonesia mengambilalih penguasaan kawasan hutan Kalibiru dan menetapkannya sebagai “Hutan Negara” dengan luas 1.047 hektar yang sebagian besar berupa lahan berbukit yang membentang di sepanjang Perbukitan Menoreh.

Pusat Jajanan di Bagian Depan Kalibiru (foto: noyvesto.net)

Sekitar tahun 1949 – 1964, kawasan hutan terpelihara dengan baik dan berfungsi sebagaimana yang diharapkan, sehingga memiliki tangkapan air yang sangat baik dan membuat kawasan sekitar tidak pernah mengalami kekeringan, banjir maupun tanah longsor. Hal tersebut membuat masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar hutan merasa nyaman karena kebutuhan hidup mereka dapat terpenuhi dari lahan-lahan pertanian.

Keadaan berbeda terjadi antara tahun 1964 – 2000. Kondisi politik yang kacau balau akibat pemberontakan PKI, berdampak pada sosial ekonomi masyarakat, dan membuat sebagian masyarakat memilih jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka dengan cara mencuri kayu dihutan. Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya penjaga hutan yang justru tidak berusaha untuk mengamankan hutan, tapi justru ikut terlibat dalam pembalakan liar.

Puncak dari rusaknya hutan di Kalibiru terjadi pada periode 1997 – 2000 atau pada saat terjadinya krisis global, dimana kontrol terhadap sumberdaya hutan yang dilakukan pemerintah sangat lemah, sehingga pembalakan liar semakin membabibuta dengan dilakukannya penebangan liar secara besar-besaran yang membuat kawasan hutan menjadi hamparan tanah kosong yang hanya ditumbuhi pohon perdu dan umbi-umbian.

Akibat kerusakan hutan tersebut, selain membawa dampak ekologis yang parah berupa kekeringan pada musim kemarau dan banjir serta tanah longsor pada musim penghujan, perekonomian masyarakat juga jatuh pada titik terendah karena lahan pertanian mereka seringkali gagal panen.

Pintu Masuk Kalibiru (foto: noyvesto.net)

Untuk mengatasi persoalan tersebut, sekitar tahun 1999 – 2008 pemerintah menggalang kerjasama dengan LSM Yayasan Dinar untuk memberdayakan masyarakat melalui LMDH dengan titik tekan pada Pengelolaan Lembaga, Pengelolaan Kawasan dan Pengelolaan Usaha. Langkah awal tersebut disusul dengan terbitnya Surat Ijin Sementara HKm (Hutan Kemasyarakatan) pada tahun 2003 sebelum akhirnya menjadi Ijin Tetap (Definitif) HKm pada tahun 2007.

Untuk mendorong keberhasilan HKm, pemerintah memberikan bantuan dalam berbagai bentuk seperti bibit tanaman buah-buahan dan perkebunan sebagai tanaman sela, bibit empon-empon sebagai tanaman bawah tegakan, bantuan modal untuk mendirikan koperasi, bantuan sosial dalam bentuk indukan sapi, dan berbagai bentuk bantuan lainnya guna meningkatkan sektor perekonomian masyarakat.

Sedang untuk membantu masyarakat dalam menyukseskan program pemerintah melalui HKm,  dibentuk lembaga yang memiliki peran sebagai pendamping dengan nama Komunitas Peduli Lingkungan Alam Lestari (Komunitas Lingkar). Melalui Komunitas Lingkar itulah program pelestarian hutan terus dikembangkan, hingga akhirnya disepakati bersama untuk menjadikan kawasan hutan lindung di Kalibiru sebagai wanawisata dan Desa Kalibiru sendiri dijadikan Desa Wisata.

Rute Perjalanan Menuju Desa Wisata Kalibiru

Jalan Menuju Desa Wisata Kalibiru (foto: mrhomestay.com)

Sebagaimana tertera pada gambar peta serta google map, secara administratif tempat wisata alam Kalibiru berada di JL. Waduk Sermo, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 55653. Jarak antara lokasi wisata ini dengan pusat kota Jogja sekitar 45 km yang dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dengan lama perjalanan sekitar 1 – 1,5 jam.

Adapun rute untuk menuju ke lokasi dapat ditempuh melalui beberapa jalur, diantaranya:

– Rute Sermo – Kalibiru

Rute ini merupakan jalur favorit dan paling banyak dilalui para wisatawan, karena disepanjang perjalanan dapat menikmati keindahan Bendungan Sermo yang juga menjadi salah satu objek pariwisata di Jogja.

Jalur Sermo akan dapat lebih cepat ditempuh jika melewati Sentolo yakni dengan melintasi Jembatan Bantar hingga tiba di Stasiun Sentolo. Disitu akan Anda temui papan petunjuk jalan yang menuju ke arah Pengasih. Ikuti jalan tersebut hingga melewati Pengasih, alun-alun Wates, RSUD Wates dan Beji, baru kemudian ke Sermo sebelum akhirnya sampai di Kalibiru.

– Rute Clereng – Kalibiru

Dibandingkan dengan rute yang melewati Bendungan Sermo, rute ini relatif lebih cepat dan lebih mudah ditempuh, karena medan yang harus dilewati memang tidak beberat rute Sermo. Jika mengambil rute Clereng, bawa kendaraan Anda menuju ke Pasar Clereng dan sekitar 300 meter dari pasar akan Anda jumpai jembatan yang letaknya persis berada di sebuah tikungan. Lewati jembatan tersebut dan sekitar 20 meter kemudian akan Anda jumpai papan petunjuk arah menuju Kalibening.

Gardu Pandang di Kalibiru (foto: sobatjogja.com)

– Lewat Malioboro

Anda juga dapat menuju ke Kalibiru dengan melewati Malioboro. Caranya yaitu dengan mengambil jalur yang menuju ke arah Purworejo. Ikuti terus jalan tersebut hingga tiba di Terminal Wates. Setelah melewati terminal, akan Anda jumpai papan petunjuk jalan yang menuju ke Sermo dan Kalibiru.

Menikmati Keindahan Desa Wisata Kalibiru

Bagi Anda yang tinggal di wilayah perkotaan, suasana berbeda akan langsung menyambut kehadiran Anda begitu memasuki Kalibiru yang kental dengan nuansa pedesaan lewat rindangnya pepohonan serta udara yang sejuk dan segar juga pemandangan hutan dan bebukitan. Namun itu hanya sajian awal saja yang disuguhkan Desa Wisata ini, karena keindahan yang benar-benar memanjakan mata akan Anda temukan saat berada di puncak bukit.

Untuk itu Anda harus berjalan melewati jalan mendaki yang cukup menguras tenaga hingga tiba di depan pintu masuk. Sebelum membeli tiket dan melanjutkan perjalanan, pulihkan dulu tenaga dengan mampir di warung-warung yang berjajar tidak jauh dari tempat penjualan tiket masuk. Cukup dengan membeli minuman seharga Rp.3.000-an, Anda bisa ngobrol dengan penjualnya sekaligus memulihkan stamina.

Salah Satu Wahana Outbond yang Memacu Adrenalin (foto: njogja.com)

Setelah tenaga dirasa sudah pulih kembali, lanjutkan langkah hingga sampai ke puncak dan nikmati pesona keindahan alam yang disuguhkan Kalibiru lewat landskap berlatar belakang hamparan air berwarna kebiru-biruan di Bendungan Sermo serta Perbukitan Menoreh yang didominasi warna hijau pepohonan.

Untuk dapat memperoleh sudut pandang yang paling ideal, Gardu Pandang yang terdapat di beberapa sudut lokasi menjadi tempat yang paling pas, meski untuk menuju ke Gardu Pandang tersebut harus berjalan melalui jalan setapak yang mendaki, karena semua berada di lokasi yang lebih tinggi dan di dekat lereng bukit.

Keindahan panorama Kalibiru tersebut akan mencapai puncaknya pada pagi dan sore hari, karena sunrise dan sunset yang tersaji di sini, memancarkan keindahan yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Selain menikmati keindahan alam, aktifitas yang menjadi favorit pengunjung saat berada di sini adalah berfoto ria dengan memanfaatkan lima spot utama yang disediakan pihak pengelola.  Kelima spot tersebut berbayar dan memiliki harga yang berbeda-beda. Tiga spot yaitu spot 1, spot panggung dan spot bundar bertarif Rp.15.000, sedang spot 2 dan spot love bertarif Rp.10.000.

Meski berbayar, pengunjung yang ingin berfoto di spot-spot tersebut harus rela antri karena tidak hanya 1 – 2 orang yang ingin memanfaatkannya, utamanya spot 1 dan spot panggung. Bahkan, pada saat musim liburan, untuk dapat berfoto di spot 1 dan spot panggung, lama antrean bisa satu jam lebih. Untungnya di sekitar spot foto tersebut disediakan bangku-bangku yang bisa dipakai untuk menunggu sambil menikmati pemandangan dan segarnya udara sakitar.

Aktifitas lain yang tidak kalah seru di Kalibiru adalah memacu adrenalin lewat beberapa permainan outbond, seperti wooden bridge, spider web, climbing, sling dan flying fox dengan ketinggian sekitar 6 – 7 meter dari atas permukaan tanah. Untuk dapat menikmati permainan outbond tersebut Anda cukup membayar seharga Rp.35.000. Harga tersebut sudah termasuk peminjaman alat pengaman berupa helm dan full body harness.

Spot Foto di Kalibiru (foto: lookjogja.blogspot.co.id)

Harga Tiket Masuk dan Fasilitas di Desa Wisata Kalibiru

Objek wisata alam yang baru seumur jagung ini memasang harga tiket masuk untuk setiap pengunjung sebesar Rp.5.000 perorang ditambah ongkos parkir sebesar Rp.2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp.5.000 untuk kendaraan roda empat.

Dengan harga tiket yang cukup murah tersebut, pengunjung tidak hanya dapat menikmati keindahan alam sambil berfoto ria, tapi juga dapat memanfaatkan beberapa fasilitas yang disediakan pengelola. Beberapa fasilitas yang ada di tempat wisata ini diantaranya adalah kamar mandi dan toilet, mushollah, outbond area, camping ground dan area parkir yang luas.

Untuk mengisi perut dan menghilangkan dahaga, tersedia warung-warung yang menjual berbagai jenis makanan dan minuman di depan pintu masuk serta di dalam kawasan lokasi wisata. Harga makanan yang mereka jual juga tidak terlalu mahal, hanya sekitar Rp.10.000 perporsi.

Begitu juga untuk pengunjung yang ingin menghabiskan malam di kawasan wisata agar bisa menikmati sunrise pada pagi hari, tersedia camping ground untuk mendirikan tenda, serta cottage dan pendopo yang disewakan. Harga sewa cottage permalam sebesar Rp.120.000 – Rp.125.000, sedang harga sewa pendopo sebesar Rp.150.000.

Jika Anda bermaksud bermalam pada musim liburan, usahakan untuk reservasi terlebih dahulu, mengingat banyaknya pengunjung yang juga ingin menikmati malam di Kalibiru. Sebab, jika tidak booking tempat terlebih dahulu, ada kemungkinan Anda tidak kebagian tempat menginap. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *