Perang Topat, Simbol Kerukunan Umat Beragama Saat Lebaran di Lombok Belum ada Bintang

Posted on
foto by kompas.com

Apa tradisi unik menyambut Idul Fitri di daerah anda? Apakah bermain petasan bersama atau berbagi kue lebaran dan ketupat? Setiap daerah tentu memiliki tradisinya masing-masing untuk memeriahkan suasana Idul Fitri.

Di satu daerah bisa jadi ziarah kubur bersama menjadi tradisi yang dilestarikan dari generasi ke generasi.

Ritual berziarah kubur bersama ini rupanya juga terjadi di Lombok. Bedanya disini ziarah makam dilakukan bukan pada hari pertama berlebaran, tetapi 6 hari usai hari lebaran. Bersama keluarga dan tetangga, mereka mendatangi makam Loang Baloq dan Bintaro.

Makam Loang Baloq sendiri terletak di pantai Tanjung Karang, sedangkan makam Bintaro masih masuk kawasan di pantai Bintaro.

Dipimpin oleh tetua adat, mereka akan memanjatkan doa saat berziarah makam. Usai berdoa dan menaburkan bunga, ada ritual unik yang langsung dilakukan oleh masyarakat setempat.

Perang Topat, mereka menyebut perang ketupat di hari lebaran dengan sebutan tersebut. Perang ini bukanlah perang dalam arti sesungguhnya, tetapi sekedar ungkapan kebahagiaan dan toleransi antar umat beragama. Prosesi perang akan melibatkan umat muslim dan Hindu yang berada di Lombok.

Simbol kerukunan beragama yang masih dipertahakan sampai sekarang ini tentu saja mendapat banyak simpati. Bahkan banyak orang menyatakan kalau tradisi tersebut mampu mempererat hubungan persaudaraan, tanpa harus memandangn perbedaan agama diantara mereka.

Ketupat yang dilemparkan ke orang lain dianggap membawa keberkahan bagi si pelempar. Begitu pula dengan pihak lawan, mereka akan mendapat kebaikan hidup pula. Tradisi perang Topat juga merupakan bentuk pengharapan masyarakat agar terkabulnya semua doa yang telah dipanjatkan.

Selama bulan Ramadan, tentu saja ada banyak untaian doa yang selalu dipanjatkan. Di hari fitri inilah umat muslim berharap, semua doa-doa tersebut diijabah oleh Allah. Perang Topat juga diikuti oleh tradisi Nyangkar atau arak-arakan cidomo berisi ketupat yang hendak digunakan.

BacaJuga:  Yuk Intip Potret Indahnya Pantai Cemara Lombok

Cidomo dihias semenarik mungkin dan diarak dari daerah Karang Pule menuju Loang Baloq. Cidomo adalah kereta yang ditarik oleh kuda layaknya delman di tanah Jawa.

Alat trasnportasi tradisional tersebut sedikit sulit ditemukan di hari-hari biasa, tetapi dipergunakan pada hari-hari penting, seperti lebaran.

Sepanjang perjalanan, masyarakat akan melantunkan shalawat nabi sembari membawa dulang yang diisii ketupat.

Tradisi nyangkar sendiri sudah ada sejak zaman nenek moyang suku Sasak di Lombok. Setelah iring-iringan tiba di makam Loang Baloq, barulah prosesi berdoa dan berzikir bersama dilaksanakan.

Prosesi tersebut diikuti oleh pemotongan ketupat yang telah dibawa dengan cidomo. Ketupat akan dikomsunsi bersama-sama di area sekitar makam. Usai makan bersama, beberapa pria akan mengambil ancang-ancang untuk perang Topat dengan umat Hindu yang telah berkumpul.

Kemeriahan terlihat jelas dari perayaan perang Topat ini. Setiap wajah mengulas senyum dan mengucap rasa syukur kepada Allah. Perayaan ini tentu saja menimbulkan rasa haru sekaligus bahagia yang tiada terkira diantara satu dan lainnya.

Berawal dari tradisi unik, perayaan perang Topat dan Nyangkar rupanya menarik minat para wisatawan.

Meskipun dilakukan di hari lebaran, ternyata banyak wisatawan yang berlomba-lomba menghadiri acara tersebut. Momen tahunan yang tentu sangat sayang dilewatkan, mengingat tak semua daerah melakukannya.

Tak ayal bila menjelang lebaran jumlah wisatawan lokal maupun asing akan melonjak tajam. Mereka terkesima dengan perang Topat yang mampu menyatukan dua perbedaan diantara masyarakat. Tak ada yang merasa tersakiti atau terlukai dengan tradisi turun-temurun tersebut.

Mengkaji pelaksanaan perang Topat yang telah ada sejak ratusan tahun lalu ini, ada beberapa nilai kehidupan yang bisa diambil.

Jika dilihat dari sisi agama, tentu saja tradisi ini sangat kental nilai keagamaannya, sebab sepanjang pelaksanaannya melibatkan doa, zikir dan salawat nabi yang dilantunkan.

BacaJuga:  10 Foto Desa Sembalun Lawang Lombok, Pusuk, Kebun Apel, Jalan Menuju Bukit Rinjani, Air Terjun

Bila melihat dari sisi sosialnya, kehidupan umat beragama terasa sangat rukun dan damai dengan perayaan tersebut. Tak ada satu orang yang membedakan agama satu dengan yang lain, mereka membaur di perayaan tersebut.

Bukan hanya dua sisi tersebut, momen ini kerap dimanfaatkan sebagai cara berbagi. Mereka yang telah hidup berkecukupan dan lebih membuat haul tahunan di momen fitri.

Berapa Bintang yang Pantas Untuk Tempat Diatas?

Ada yang salah? Punya kritik dan saran? Sampaikan di kolom komentar dibawah ini ya kakak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.