Sejarah Serta Filosofi Lebaran Ketupat di Jawa

Diposting pada
Sejarah Serta Filosofi Lebaran Ketupat di Jawa
5 (100%) 1 vote[s]
Lebaran Ketupat di jawa, foto: femaleradio.co.id

Kalau kamu orang Jawa, pastilah tahu tentang lebaran ketupat. Selain merayakan hari pertama lebaran, masyarakat Jawa seminggu kemudian juga merayakan lebaran ketupat. Jadi, pada saat hari pertama idul fitri masyarakat Jawa tidak membuat ketupat, tapi baru seminggu kemudian.

Memang bukan tidak dilarang, tapi kebiasaannya begitu. Tradisi ini turun temurun di jaga sampai sekarang. Bahkan ada ritual khusus sebelum merayakan lebaran ketupat yang melibatkan perangkat desa atau orang-orang penting dalam pemerintahan.

filosofi kupat lepet, foto: today.line.me

Makna tradisi lebaran sangat dalam bagi masyarakat Jawa serta mengandung filosofi kehidupan tersendiri. Tujuannya sebenarnya sama dengan melaksanakan hari raya idul fitri yakni saling memaafkan serta bersilaturahmi yang biasa disebut Halal Bihalal.

Makna dari Lebaran Ketupat di Jawa

Sejarah Makna dan Filosofi Ketupat dalam Tradisi Lebaran, foto: islamidia.com

Tradisi lebaran ketupat ini dilaksanakan pada hari ke-7 pada bulan syawal yang juga dikenal sebagai hari raya kecil. Mengapa disebut demikian, karena pelaksanaannya setelah melakukan puasa syawal 6 hari.

Sebagaimana sunnah rasul, setelah merayakan Idul fitri, satu hari setelahnya disunahkan berpuasa sampai 6 hari.  Sehingga, pada hari ke-7 itu disebut dengan hari raya kecil atau lebaran ketupat.

Lebaran berasal dari istilah Jawa yakni Lebar artinya selesai atau sudah berlalu. Maksudnya, lebar adalah telah berlalunya bulan ramadhan atau selesainya pelaksanaan puasa wajib sampai tibalah bulan syawal. Awal bulan syawal itulah pelaksanaan hari raya idul fitri.

Lebaran Ketupat di Gorontalo, foto: netralnews.com

Kalau orang Jawa menyebutnya dengan Bodho atau Riyaya. Riyaya adalah singkatan dari kata hari raya. Sedangkan bodho dari istilah arab yakni ba’da yang artinya selesai. Jadi Bodho atau Riyaya sama artinya.

Sementara makna ketupat adalah sajian khas Asia Tenggara yang terbuat dari beras, lalu dibungkus dengan janur atau daun kelapa berbentuk anyaman. Masyarakat Jawa sering menyebut ketupat dengan kupat.

BacaJuga:  Lakukan 9 Persiapan Penting Ini Untuk Menyambut Hari Lebaran di Rumah

Terdapat dua bentuk ketupat yaitu jajaran genjang dan kepal (umumnya), masing-masing mempunyai alur anyaman berbeda. Janur pembuat ketupat dipilih yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Negara tetangga seperti Brunei, Singapura serta Malaysia juga tahu tentang ketupat.

Ketupat disajikan bersama opor ayam, sambal goreng, rendang dan beberapa masakan-masakan yang mengandung santan sesuai khas daerah masing-masing.

Sejarah Tradisi Lebaran Ketupat di Jawa

tradisi lebaran ketupat, foto: merdeka.com

Asal muasal lebaran ketupat atau kupatan atau syawalan atau bodho kupat di Jawa ini sejak jaman pemerintahan Sultan Paku Boewono IV. Dilaksanakan pada hari ke-7 bulan syawal. Di lebaran ketupat inilah masyarakat Jawa membuat ketupat, opor serta hidangan khas lebaran lainnya.

Selain ada ketupat, ada juga lepet yang terbuat dari ketan dan parutan kelapa. Selain untuk dimakan sendiri, sajian itu juga sebagai hidangan penyambutan tamu yang ingin melakukan halal bi halal di rumah kita.

Sebelum memulai kegiatan, di pagi harinya setelah subuh ada upacara sedekah laut seperti larung kepala kerbau. Upacara tersebut mungkin berbeda pada setiap daerah. Upacara larung ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur karena Tuhan sudah memberikan rejeki kepada masyarakat dari lautnya.

Lebaran Ketupat Durenan, foto: antaranews.com

Upacara tersebut diikuti oleh warga terutama para nelayan yang bekerja mencari hasil laut. Selanjutnya semua orang kembali ke rumah masing-masing. Setelah itu, mushola di daerah sekitar juga mengadakan shodakohan.

Semua warga sekitar mushola boleh membawa makanan atau minuman, lalu dibacakan doa dan tahlil bersama. Setelah itu, dimakan bersama-sama. Kegiatan yang dilakukan saat lebaran ketupat di Jawa adalah silaturahmi atau berkunjung ke sanak saudara.

Setelah meminta maaf dan bersilaturahmi, biasanya dilanjutkan dengan berwisata. Bisa berwisata ke destinasi dalam kota ataupun luar kota. Umumnya pergi ke daerah seperti pantai. Semua masyarakat Jawa sangat antusias merayakan lebaran ketupat ini.

BacaJuga:  Jenis-Jenis Penginapan dan Pengertiannya
Olahan Masakan dengan Ketupat, foto: budayanusantara.web.id

Bahkan tempat-tempat wisata dipadati oleh pengunjung dari pagi sampai sore hari. Perayaan hari raya kecil meriah sekali, disambut penuh kegirangan oleh masyarakat Jawa baik anak-anak sampai orang dewasa.

Filosofis Lebaran Ketupat di Jawa

Selain Sultan Paku Boewono IV, tokoh yang populer dalam mengenalkan budaya ini adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga merupakan tokoh yang pertama kali memperkenalkan ketupat. Ketupat atau kupat berasal dari singkatan kata ngaku lepat, artinya mengakui kesalaha.

Tradisi Membuat Ketupat, foto: kompasiana.com

Sesama muslim sebaiknya mau mengakui kesalahan, saliang memafkan serta melupakan semua kesalahan dengan bersama-sama menyantap ketupat. Karena itulah mengapa ketupat dipilih sebagai sajian pada waktu idul fitri.

Makan ketupat merupakan sarana mencairkan suasana, sehingga bisa melupakan semua kesalahan dan damailah sesama muslim. Sebenarnya masih banyak filosofi mengenai ketupat ini.

Bungkus kupat yang terbuat dari janur kuning merupakan lambang penolak balak. Janur berarti sejatine nur (cahaya) menyimbolkan bahwa pada hari memakan ketupat kondisi manusia telah kembali dalam keadaan suci setelah memperoleh pencerahan selama ramadhan.

Sementara bentuk segi empatnya, menyiratkan prinsip dari kiblat papat lima pancer berarti bahwa kemanapun manusia pergi, pasti nantinya kembali menuju Allah. Kiblat papat lima pancer juga menggambarkan 4 macam nafsu dunia.

Persiapan Lebaran Ketupat, foto: antarafoto.com

4 Macam nafsu tersebut adalah nafsu emosional, nafsu untuk memuaskan rasa lapar (aluamah), nafsu dalam memiliki sesuatu yang indah (supiah) dan nafsu memaksa diri (mutmainah). Keempat nafsu tersebut telah berhasil kita takhlukkan selama berpuasa ramadhan.

Sedangkan anyaman ketupat, menyiratkan kesalahan-kesalahan manusia. Warna putihnya juga mencerminkan kebersihan dan kesucian yang akan diraih setelah memohon maaf. Beras sebagai isi ketupat melambangkan kemakmuran setelah hari raya idul fitri.

Tradisi Grebeg Kupat, foto: tirto.id

Tak hanya itu, kupat disajikan bersama opor ayam beserta sambal goreng. Makna dari opor ayam yang terbuat dari santan juga mempunyai arti tersendiri. Santan dalam bahasa Jawa disebut santen memiliki arti pangapunten atau memohon maaf.

BacaJuga:  Lebaran di Mana Ya? Rumah Orang Tua Atau Rumah Mertua? Baca Dulu 5 Tips ini

Sekarang kamu sudah tahukan tentang lebaran ketupat di Jawa. Tentu takkan penasaran lagi.

Semua catatan di atas adalah data terakhir pada saat tulisan ini dibuat. Jika ada perubahan terbaru yang Kamu ketahui, silakan informasikan kepada kami pada kolom komentar di bawah ini ya. Begitu juga jika ada yang salah, punya kritik dan saran. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.