10 Gambar Masjid Agung Jawa Tengah MAJT Semarang, Hotel Dekat Lokasi + Sejarah Menara

Posted on
Masjid agung jawa tengah majt semarang sejarah menara gambar alamat photo hotel dekat foto convention hall lokasi letak berdirinya profil takmir klaten denah peta demak wikipedia payung malam hari adalah arsitektur adzan arah dari simpang lima aula asal usul artikel tentang brebes biografi bentuk bedug jam buka bekam imam besar badan pengelola cara ke cerita dimana kapan dibangun terletak dibuka elektrik fasilitas fungsi filosofi gedung sewa google map geografis shalat gerhana perpustakaan gaya harga tiket indonesia interior remaja islam
Halaman Masjid Agung Jawa Tengah. Foto: pinterest.com

Lokasi: Jalan Gajah Raya, Sambirejo, Gayamsari, Kota Semarang, Jawa Tengah 50613, Indonesia
Maps: Klik Disini
HTM: Gratis
Buka/Tutup: 24 Jam
Telepon: +62 24 6725412

Muslim menjadi kaum mayoritas di Indonesia. Oleh sebab itu tidak salah jika banyak mesjid bisa ditemui ketika berada di Indonesia. Dimanapun berada tentu saja masjid tidak akan luput dari pandangan para wisatawan ketika mengunjungi kota-kota di Indonesia. Bahkan di setiap kota sendiri memiliki masjid agung yang sangat megah. Di Jakarta ada Istiqlal, di Jogja ada Kauman dan juga Syuhada, begitu juga di kota kecil seperti Klaten, Brebes hingga Demak.

Sementara di Jawa Tengah atau Semarang ini memiliki salah satu masjid agung yang sangat besar dan juga megah. Masjid Agung Semarang Jawa Tengah atau biasa disebut MAJT ini menjadi salah satu masjid kebanggaan masyarakat Semarang. Apalagi gaya asitektur dan juga filosofi dari masjid ini cukup unik dan juga menarik. Salah satu hal yang membuat masjid yang beralamat di jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang ini cukup menarik adalah adanya payung yang sangat mirip dengan payung di Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi.

Tentu saja para wisatawan akan dibuat kagum dengan bentuk dan juga keindahan masjid tersebut yang sangat kokoh dan juga megah. Ditambah lagi keelokan dan juga pesona dari masji ini dilengkapi dengan gaya arsitektur yang sangat indah. Keindahannya tentu saja bisa membuat para wisatawan yang berkunjung dan beribadah di sana akan sangat senang. Apalagi jika gemar dengan wisata religi, Masjid Agung ini bisa menjadi salah satu kawasan wisata reliji yang cukup menawan.

Bird View MAJT. Foto: wikipedia.com

Gaya arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid yang letak dan lokasinya ini berada di pusat kota Semarang atau lebih tepatnya berdekatan dengan Simpang Lima ini memang cukup unik. Suara adzannya bisa terdengar hingga ke pelosok yang cukup jauh dengan adanya menara tersendiri. Dan terdengar hingga berbagai arah.

Untuk sejarah pemilihan gaya arsitekturnya sendiri memang diambil dari perpaduan antara Jawa dan juga Arab serta Romawi atau Yunani. Hal ini bisa terlihat dengan jelas dari bentuk bangunan dan juga interior dari masjid tersebut. Di bagian atap masjid ini serta dasar dari tiang dibuat dengan adanya motif batik dengan mencerminkan ciri khas dari Jawa dan Indonesia.

Sementara di bagian dinding ini para pengunjung bisa melihat sentuhan kaligrafi yang indah. Lalu ada kubah besar yang dikelilingi oleh menara yang terdiri dari 4 buah. Masjid yang didesain dan juga dirancang oleh Ir. H. Ahmad Fanani yang juga dari PT Atelier Enam Jakarta ini memang ditunjuk sebagai pemenang dalam lomba atau sayembara untuk desain dari masjid MAJT tersebut.

Bergerak ke arah desain di area pelataran dari masjid yang ada di sisi depan ini para pengunjung bisa melihat pilar-pilar tersebut memiliki gaya khas arsitektur Romawi atau biasa ditemukan di Colosseum Roma. Jika dihitung terdapat sekitar 25 pilar yang ada di sekitar pelataran masjid. Di sini melambangkan jumlah Nabi dan Rasul yang dipercaya oleh umat Islam.

Pilar-pilar tersebut sangat besar dan mencerminkan kekokohan persatuan umat Islam di dunia. Dibalut pula dengan warna putih dan ungu serta emas yang berpadu dengan cantik. Sementara di pintu gerbang tersebut bertuliskan dua kalimat Syahadat dan juga huruf Arab Melayu yang berbunyi “Sucining Guno Gapuraning Gusti.”

Seperti yang sudah disebutkan di awal bahwa Masjid Agung Jawa Tengah atau MAJT ini memang sangat mirip dengan Masjid Nabawi yang berada di kota Madinah, Arab Saudi. Apalagi dengan adanya 6 payung elektrik atau elektronik yang bekerja secara otomatis dengan bentuk dan juga ukuran raksasa. Hal ini memang diakui terinspirasi dan mencontoh Masjid Nabawi. Payung yang tersedia di sini terdiri dari 6 buah payung yang melambangkan ada 6 Rukun Iman bagi kaum Muslim.

Payung elektrik ini dibuka hanya saat-saat tertentu saja. Kapan payung ini akan dibuka ? Yaitu pada salat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha serta Maulid Nabi dan juga shalat gerhana. Akan tetapi dengan catatan bahwa ketika cuaca dan juga angin tidak lebih dari 200 knot. Sementara jika para pengunjung berkeinginan untuk melihat bagaimana payung tersebut mengembang bisa langsung menghubungi takmir atau badan pengelola dan pengurus dari Masjid tersebut. Akan tetapi payung tersebut akan dibuka jika kapasitas masjid ini sangat banyak. Apalagi payung ini bisa melindungi para jamaah lebih dari 10 ribu jamaah.

Payung Elektrik MAJT. Foto: javaloka.com

Sisi menarik dari Masjid Agung Jawa Tengah

Para wisatawan bisa mengunjungi area dalam dari masjid tersebut. Di sini para wisatawan bisa mengabadikan gambar, photo atau foto dan video selama berkeliling di sekitar masjid. Asalkan tidak mengganggu proses ibadah.

Di sini ada banyak sisi menarik dan juga spot yang bisa memanjakan para wisatawan akan wisata reliji. Ketika memasuki area masjid para pengunjung akan diperlihatkan Al Quran raksasa yang memiliki ukuran sekitar 145 x 95 cm. Al Quran ini sangat istimewa dan juga mempunyai sejarah dan juga cerita historis tersendiri. Bukan di sebabkan ukurannya yang cukup besar, akan tetapi Al Quran raksasa ini merupakan salah satu hasil karya dari penulis kaligrafi Hayatudin yang merupakan lulusan Universital Sains dan Ilmu Al Quran Wonosobo. Kabarnya membutuhkan waktu sekitar 3 tahun guna membuat dan juga menyelesaikan Al Quran tersebut.

Salah satu pesona yang dimiliki oleh Masjid Agung Jawa Tengah ini adalah adanya menara Asmaul Husna atau Menara Al Husna yang biasa disebut sebagia Al Husna Tower. Di sini menara ini memang sangat menonjol. Menara ini menggambarkan Asmaul Husna dimana menara ini mempunyai tinggi sekitar 99 meter dan terdiri dari 19 lantai. Tinggi 99 meter ini memang mewujudkan 99 nama Asmaul Husna.

Area teras dari MAJT. Foto: pinterest.com

Sedangkan di area dasar dari menara tersebut terdapat Studio Radio Dais yang menjadi sarana untuk dakwah Islam. Lalu di lantai 2 dan 3 para wisatawan bisa mengunjungi Museum Kebudayaan Islam yang akan dikupas habis di sini mengenai sejarah dan budaya Islam kepada khalayak ramai.

Bergerak ke area puncak menara para wisatawan bisa melihat keindahan kota Semarang dari ketinggian. Dari sini para wisatawan bisa melihat pusat perbelanjaan, hotel, convention hall, hingga bangunan-bangunan lainnya seperti Tanjung Perak. Sedangkan di lantai 18 ini para wisatawan bisa menemukan restoran atau kafe yang bisa berputar hingga 360 derajat. Tentu saja menjadi salah satu pesona utama yang cukup menarik.

Di lantai 19 dari Menara Asmaul Husna ini para wisatawan bisa melihat keindahan kota Semarang dan juga langit lebih detail lagi. Pasalnya di sini sudah disediakan 5 teropong yang bisa digunakan secara bergantian. Untuk masuk ke menara ini para wisatawan harus membayar harga tiket masuk sebesar 3 ribu per orang untuk jam 8 hingga 17.30. Untuk jam 17.30 hingga 21.00 tiket naik seharga 4 ribu. Sementara teropong bisa digunakan dengan membayar harga  sebesar 500. Menara ini dibuka sejak jam 8 pagi hingga 21.00 WIB.

Pintu Masuk MAJT. Foto: kemenag.go.id

Profil dan Biografi Sejarah Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah ini memiliki asal usul dan juga sejarah yang cukup panjang. Informasi dan juga artikel mengenai sejarah ini bisa didapatkan di Wikipedia. Fungsi dari masjid ini memang bukan hanya sebagai tempat ibadah saja. Melainkan tempat untuk mengenalkan lebih dalam mengenai dunia Islam dan juga kebudayaannya kepada masyarakat di Indonesia pada umumnya dan Semarang pada khususnya. Fungsi sebagai perpustakaan Islam memang terlihat di masjid ini.

Masjid Agung Semarang ini letaknya berada di area sekitar 10 hektar. Bangunan utama ini memiliki luas sekitar 7.669 meter persegi. Untuk luas halaman sendiri sekitar 7.500 meter persegi. Pembangunan masjid ini membutuhkan waktu hingga 5 tahun. Sejak tahun 2001 hingga pada bulan November tahun 2006 ini masjid dibangun. Presiden yang menjabat kala itu yaitu Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY meresmikan pembukaan masjid tersebut pada tanggal 14 November 2006.

Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa masjid ini bukan hanya untuk ibadah saja. Hal ini dibuktikan dengan digunakannya masjid ini pada awal Ramadhan tahun 1427 H dimana teropong masjid ini akhirnya digunakan untuk pertama kali guna melihat Rukyatul Hilal yang dilakukan oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dan juga Imam besar MAJT tersebut. Teropong yang digunakan merupakan hibah dari Observatorium Boscha.

Payung Elektrik di MAJT. Foto: hidayatullah.com

Sejarah awal Masjid Agung Jawa Tengah

Ternyata pembangunan dan juga pencetus dari Masjid Agung Jawa Tengah ini memang tidak bisa lepas dari Masjid Besar Kauman Semarang. Pembangunan dari MAJT ini diawali dengan tanah harta benda atau wakaf milik Masjid Besar Kauman Semarang ini yang kembali setelah tidak diketahui nasibnya cukup lama.

Keberadaan bangunan masjid ini tak lepas dari Masjid Besar Kauman Semarang. Pembangunan MAJT berawal dari kembalinya tanah banda (harta) wakaf milik Masjid Besar Kauman Semarang yang telah sekian lama tak tentu rimbanya.

Hal ini disebabkan adanya proses tukar guling tanah wakaf yang melibatkan tanam dari Masjid Besar Kauman Semarang dengan luas 119.127 Ha yang ketika itu dikelola oleh Badan Kesejahteraan Masjid yang dibentuk oleh Bidang Urusan Agama Depag Jawa Tengah. Alasannya ketika itu tanah tersebut tidak produktif dan di tukar guling dengan tanam milik PT Sambirejo yang ada di Demak yang memiliki luas sekitar 250 Ha. Selanjutnya berpindah tangan ke PT Tensindo yang merupakan milik Tjipto Siswoyo.

Perjuangan guna mengembalikan tanah benda wajaf Masjid Besar Kauman Semarang ini akhirnya memberikan hasil dan juga berbuah manis. Dan akhirnya di salah satu tanah wakaf tersebut akhirnya Masjid Agung Jawa Tengah ini dibangun untuk memberikan fungsi sebagai salah satu penyebar ajaran dakwah Islam di Semarang. Apalagi di dalam masjid ini juga ada gedung yang bisa di sewa dan juga digunakan untuk keperluan dakwah lainnya.

Pintu gerbang MAJT. Foto: suaramasjid.com

Gedung yang terletak di pusat kota dan dibangun dengan cerita sejarah yang panjang ini secara geografis memang berada di kota Semarang. Akan tetapi masjid ini menjadi milik umat Islam di seluruh Indonesia.

Berdirinya masjid ini ditandai dengan pembentukan Tim Koordinasi Pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah oleh Gubernur Jawa Tengah pada tanggal 6 Juni 2001 tersebut. Hal ini tentu saja guna mengatasi masalah-masalah yang ada di sekitar pembangunan tersebut. Baik yang mendasar dan juga teknis.

Tim tersebut bekerja dengan cepat yang berhasil merampungkan beberapa keputusan pokok seperti status tanah dan juga pembiayaan pembangunan masjid tersebut dari APBD yang diajukan kepada DPRD Jawa Tengah. Selain itu proses pemilikan lahan dan juga program ruang juga diselesaikan dengan baik.

Pembangunan masjid sendiri dimulai pada hari Jumat pada tanggal 6 September 2002. Hal ini ditandai dengan pemasangan dari tiang pancang untuk pondasi. Ketika itu Menteri Agama RI yang sedang menjabat yaitu Prof. Dr. H. Said Agil Husen Al Munawar, KH. MA Sahal Mahfudz dan juga Gubernur Jawa Tengah Mardianto menjadi pemasangan pertama tiang pancang tersebut.

Area teras MAJT. Foto: ragamtempatwisata.com

Bukan hanya tokoh dari Indonesia saja, ada 7 duta besar dari negara-negara muslim sahabat seperti Qatar, Arab Saudi, Kuwait, Palestina, Mesir dan juga Abu Dhabi serta Uni Emirat Arab juga hadir untuk menyaksikan dibangunnya Masjid Agung Jawa Tengah tersebut.

Membutuhkan waktu sekitar 5 tahun hingga peresmian pada tanggal 14 November 2006 untuk mewujudkan masjid yang siap menggodok remaja Islam menjadi pendakwah ulung guna mengajarkan dan menyebarkan ajaran agama Islam ke seluruh pelosok Indonesia dan juga Semarang.

Meski secara resmi baru dibuka pada tahun 2006, akan tetapi masjid ini ternyata sudah lebih dulu digunakan untuk beribadah jauh sebelum itu. Pada tanggal 19 Maret 2004 masjid ini sudah digunakan untuk ibadah shalat Jumat yang diisi oleh Khatib Drs. H. M. Chabib Thoha, MA yang merupakan Kakanwil Depag Jawa Tengah.

Suasana MAJT pada malam hari. Foto: brobali.com

Rute menuju ke Masjid Agung Jawa Tengah

Letak Masjid Agung Jawa Tengah ini berada di pusat kota dan berdekatan dengan Simpang Lima. Tentu saja cara untuk menuju ke sini sangat mudah. Para wisatawan bisa menggunakan aplikasi Google Map untuk menampilkan denah dan peta kota Semarang sehingga memudahkan menuju ke pusat kota Semarang dan MAJT tersebut.

Suasana MAJT di sore hari. Foto: pinterest.com

Fasilitas di Masjid Agung Jawa Tengah

Di Masjid Agung Jawa Tengah ini terdapat berbagai macam fasilitas yang tentu saja bisa digunakan oleh para pengunjung. Salah satunya adalah penginapan. Di kawasan Masjid Agung ini para pengunjung bisa menginap di wisma penginapan yang menyajikan 23 kamar dengan aneka kelas yang bisa dipilih. Biasanya digunakan oleh para peziarah yang hendak bermalam di sini.

Sementara di Masjid Agung Jawa Tengah ini juga terdapat perpustakaan yang dilengkapi dengan aneka buku-buku Islam dari penjuru dunia tentang dunia Islam. Lalu ada auditorium dan juga ruang akad nikah serta pemandu wisata yang siap mengantarkan para pengunjung mengelilingi kawasan masjid ini. Lalu ada pula Museum Kebudayaan Islam di area Menara Al Husna.

Masih ada pula kios-kios cenderamata dan juga buah-buahan yang bisa dikunjungi oleh para wisatawan. Lalu ada pula sarana bekam untuk kesehatan badan bagi para pengunjung di sini. Untuk sarana hiburan sendiri di MAJT ini sudah ada air mancur dan juga arena bermain anak-anak serta kereta kelinci yang siap mengantarkan para pengunjung berkeliling masjid tersebut. Apalagi di malam hari masjid ini cukup indah.

Di sini ada pula bedug raksasa yang memiliki ukuran sekitar 310 cm dengan diameter 220 cm. Bedug ini adalah replika dari bedug Pendowo Purworejo. Dan bedug tersebut dibuat oleh santi dari pesantren Alfalah, Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas yang merupakan asuhan dari KH Ahmad Sobri. Bedug ini dibuat memakai kulit dari lembu Australia. Sementara tongkat khatib MAJT ini adalah pemberian dari Sultan Brunei Darussalam yaitu Sultan Hassanal Bolkiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *