10 Gambar Museum Angkut Batu Malang, Harga Tiket Masuk Wisata + Lokasi Buka Jam?

Posted on
Museum angkut malang tiket masuk batu harga gambar buka jam wisata rute sejarah lokasi alamat foto jakarta malam hari surabaya wikipedia letak bandung jatim peta jawa timur jogja angkutan isi jalan menuju denah berapa tmii park kota google map adalah htm review voucher 2017
Museum Angkut (foto: simplypoetz.blogspot.co.id)

Lokasi: JL. Terusan Sultan Agung Atas No.2, Desa Ngaglik, Kecamatan Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, 65315
Map: Klik Disini
HTM: Weekdays Rp.70.000/orang, Weekend Rp.100.000/orang
Buka/Tutup: 12.00 – 20.00 WIB
Telepon: (0341) 597777

“Transportasi Menembus Ruang dan Waktu” itulah tagline yang diusung Museum Angkot Malang. Ungkapan tersebut tidak salah, karena sarana transportasi bukan hanya sekedar gaya hidup tapi juga bisa menjadi salah satu simbol peradaban. Perkembangan peradaban manusia yang dipotret dari sarana transportasi itulah yang coba dihadirkan di museum ini.

Pendirian Museum Angkut sendiri merupakan gagasan yang unik, kreatif dan inovatif. Tidak semua orang memiliki pemikiran ke arah sana, dan kalaupun memikirkannya cenderung terkotaki oleh sebuah gambaran tentang keberadaan museum sebagaimana yang ada selama ini, yaitu sebuah bangunan yang menyimpan benda-benda berharga namun kurang begitu dihargai oleh masyarakat karena hanya didatangi oleh sekelompok kecil masyarakat.

Image museum yang tidak laku dijual tersebut ditepis jauh-jauh oleh Museum Angkut. Sejak pertama kali dibuka untuk umum hingga kini, museum ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Padahal, harga tiket masuk ke Museum Angkut lebih dari sepuluh kali lipat mahalnya dibandingkan tiket di museum-museum pada umumnya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu yang digarap dengan maksimal dan dikelola secara profesional, akan memberikan nilai lebih di mata masyarakat. Nilai lebih itulah yang membuat Museum Angkut tidak saja mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit bagi pihak  pengelola tapi juga mengangkat dunia pariwisata di Kota Batu bahkan dunia pariwisata di Jawa Timur, karena pengunjung museum yang umurnya belum genap 4 tahun ini datang dari seluruh penjuru tanah air, bahkan dari manca negara.

Patung Hulk dari Onderdil Motor dan Mobil Bekas di Museum Angkut (foto: jtp.id)

Sekilas Tentang Museum Angkut

Menempati lahan seluas 3,8 hektar, Museum Angkut diresmikan dan dibuka untuk umum pada 9 Maret 2014, serta tercatat sebagai museum transportasi pertama dan terbesar se-Asia.  Museum ini didirikan dengan tujuan untuk memberikan apresiasi terhadap para pencipta berbagai jenis transportasi yang ada di dunia sekaligus mengabadikan proses perkembangan sarana transportasi di Indonesia dan juga di dunia.

Museum yang menjadi bagian dari Jatim Park Group ini memiliki jumlah koleksi sebanyak 525 alat transportasi yang terdiri atas 300 mobil dari berbagai merek dan dari berbagai belahan dunia serta 225 alat transportasi lain, mulai dari alat transportasi tradisional sampai dengan yang modern.

Museum yang memiliki 9 zona plus 2 zona tambahan ini berbeda dari museum-museum yang ada sebelumnya, karena Museum Angkut tidak hanya sekedar memajang koleksi sebagai sarana edukasi dan sumber informasi, tapi juga mempertimbangkan sisi dekoratif, artistik dan rekreatif sehingga pengunjung memperoleh manfaat ganda, yakni tambahan pengetahuan serta hiburan.

Itu sebabnya, selain memajang berbagai alat transportasi untuk dipamerkan, pihak pengelola juga menghadirkan sejumlah pertunjukan yang rutin digelar, ada yang ditampilkan setiap hari, ada yang seminggu sekali, ada juga yang hanya ditampilkan pada momen-momen tertentu. Beberapa jenis pertunjukan yang secara rutin ditampilkan di Museum Angkut diantaranya adalah Welcome to Gangster Town setiap jam 14.00 – 14.30, Super Hero Custome pada jam 15.00 – 15.30, Three Elements Show setiap pukul 19.45, Museum Angkut and Movie Star Studio Parade yang digelar setiap weekend danb highseason pada pukul 17.00 serta pertunjukan-pertunjukan yang lain.

Sajian berbeda baik dari sisi benda yang dipamerkan maupun dari sisi pengelolaan itulah yang membuat Museum Angkut memiliki daya tarik tersendiri. Tidak heran jika setiap harinya museum ini dibanjiri pengunjung tidak kurang dari 1.000 orang dan pada hari-hari libur bisa mencapai 4.000 – 5.000 pengunjung perhari.

Pintu Masuk Museum Angkut (foto: khoirurosida.com)

Selain berbeda dari museum-museum yang lain, bahkan berbeda dari tempat-tempat wisata yang lain, ramainya pengunjung juga disebabkan karena lokasinya yang strategis, tidak jauh dari pusat Kota Batu dan dapat diakses dengan mudah, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutanb umum.

Secara administratif, Museum Angkut beralamat di JL. Terusan Sultan Agung Atas No.2, Desa Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur. Untuk menuju ke lokasi museum, jika menggunakan kendaraan pribadi dari Kota Malang tinggal menyusuri JL. MT Haryono terus lurus menuju ke atah Batu. Sesampai di JL. Pattimura, tepatnya di perempatan Lippo Plaza, belokkan kendaraan ke arah kiri menuju JL. Sultan Agung. Di sana nanti akan Anda temui papan petunjuk arah menuju ke Museum Angkut.

Untuk yang menggunakan transportasi umum, jika naik bus dan turun di Terminal Arjosari Malang, bisa melanjutkan perjalanan dengan naik angkot ADL Jurusan Arjosari – Dinoyo – Landungsari atau angkot AL Jurusan Arjosari – Landungsari dan turun di Terminal Landungsari. Sesampai di Terminal Landungsari, ganti naik angkot warna kuning atau ungu muda yang menuju Kota Batu. Sesampai Terminal Kota Batu ganti lagi dengan naik angkot warna hijau atau orange dan turun di depan museum.

Untuk yang menggunakan transportasi kereta api, dapat turun di Stasiun Kota Baru Malang, dilanjutkan dengan naik angkot ADL atau AL dan turun di terminal Landungsari. Sesampai di Terminal Landungsari, tinggal melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot lain sebagaimana perjalanan menggunakan bus di atas.

Menyaksikan Berbagai Macam Sarana Transportasi di Museum Angkut

Berkunjung ke Museum Angkut tidak hanya sekedar menyaksikan berbagai jenis sarana transportasi dari seluruh penjuru dunia dan dari jaman ke jaman, tapi juga dapat belajar tentang segala sesuatu yang terkait dengan dunia transportasi. Satu lagi yang tidak kalah menarik adalah berfoto ria, karena di setiap zona yang ada memiliki sangat banyak background yang menarik untuk dijadikan latar belakang foto. Hal tersebut disebabkan karena penataan koleksi tidak hanya mempertimbangkan sisi informatif tapi juga sisi artistik, sehingga bagian dalam museum menyerupai lokasi yang dipergunakan untuk shooting film yang ada di berbagai penjuru dunia.

Berbagai Sarana Transportasi di Indonesia di Museum Angkut (foto: wisatanesia.com)

Penataan koleksi dengan mempertimbangkan sisi artistik memungkinkan untuk dilakukan karena area yang ditempati oleh Museum Angkut sangat luas didukung dengan properti modern serta peralatan yang canggih. Area yang luas tersebut terbagi atas 9 zona, yaitu Hall Utama dan Zona Edukasi, Zona Alat Transportasi Indonesia, Zona Runway 27 Airport, Zona Pecinan dan Sunda Kelapa,  Zona Koleksi Mobil Antik (Gudang Batavia), Zona Gangster Town & Broadway Street, Zona Eropa (Italy, Jerman, Perancis dan Inggis), Zona Istana Buckingham serta Zona Las Vegas & Hollywood. Dua lagi Zona tambahan yang tidak ada hubungannya dengan sarana transportasi namun menjadi bagian dari Museum Angkut adalah Pasar Apung Nusantara dan Museum D Topeng.

1. Hall Utama dan Zona Edukasi

Penataan interior dengan lampu-lampu yang bergantungan membuat Hall Utama terlihat cantik dan menarik untuk dilihat. Di sini terdapat koleksi berbagai jenis transportasi yang populer di seluruh dunia, mulai dari delman, sepeda, motor, mobil sampai dengan helikopter. Beberapa dari alat transportasi tersebut, yang dipamerkan bukan hanya untuk memberi gambaran tentang jenis transportasi yang diwakili, tapi juga karena sejarah yang melatarbelakanginya.

Sepeda-sepeda kuna misalnya merupakan produk dari perusahaan-perusahaan yang kini menjadi produsen mobil, kereta-kereta kuda yang dulu digunakan sebagai sarana transportasi raja-raja, helikopter kenegaraan yang pertama kali dimiliki pemerintah RI pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, dan masih banyak lagi sarana transportasi yang memiliki nilai sejarah. Pengunjung bisa mempelajari latar belakang dan sejarah dari masing-masing alat transportasi tersebut melalui papan informasi yang ditempatkan di dekat koleksi.

Di Hal Utama ini juga dapat ditemui miniatur berbagai jenis mobil yang dibuat dengan sangat detail sehingga menyerupai bentuk aslinya. Termasuk miniatur Jembatan Golden Gate yang ada di San Fransisco beserta beberapa buah mobil mini yang sedang melintasi jembatan.

Berada satu ruang dengan Hall Utama, pengunjung dapat menemukan Zona Edukasi yang akan memberikan informasi sekaligus ilmu pengetahuan tentang dunia transportasi yang disajikan dengan display interaktif sehingga menarik dan mudah untuk dimengerti. Mobil Listrik Tucuxi yang dulu pernah dikendarai Dahlan Iskan dipamerkan pula di sini dengan tetap mempertahankan kondisinya usai terjadi kecelakaan.

Miniatur Jembatan Golden Gate di San fransisco Lengkap dengan Replika Mobil (foto: khoirurosida.com)

2. Zona Alat Transportasi Indonesia

Zona ini dapat ditemui di lantai dua dengan terlebih dahulu menaiki tangga atau mempergunakan lift. Berbagai sarana transportasi tradisional menjadi pengisi ruang di Zona Alat Transportasi Indonesia, seperti becak yang digantung, becak dengan background gambar Malioboro, Cikar atau Pegon Situbondo (pengangkut barang yang ditarik sapi), Angkong atau Ricksaw (becak yang ditarik manusia sambil berlari), miniatur Kapal Majapahit, dan beberapa alat transportasi tradisional lainnya, termasuk Merpati Pos yang dahulu dipakai untuk mengantarkan pesan atau surat.

3. Zona Runway 27 Airport

Berada di lantai III, Zona Runway 27 Airport berbeda dengan dua zona sebelumnya karena disajikan dalam bentuk out door. Di sini dapat dilihat replika Pesawat Boeing 737-200 yang merupakan pesawat kepresidenan. Pengunjung yang ingin melihat bagian dalam pesawat dibatasi sebanyak 24 orang setiap kali masuk dan hanya diberi waktu paling lama 30 menit, karena  panjangnya antrean.

Selain Boeing 737-200 terdapat pula beberapa jenis pesawat lain yang dapat dimasuki hingga ke bagian cockpit, baik hanya sekedar untuk melihat-lihat ruang yang ditempati pilot beserta perangkat untuk menerbangkan pesawat maupun untuk dijadikan background pengambilan foto. Selain itu pengunjung juga bisa mencoba Inflight Safety Simulator dan Emergency Exit Slide. Hanya saja, untuk dapat menikmati ketiga aktifitas tersebut pengunjung harus membawa tiket tambahan yang bisa dibeli seharga Rp.10.000 di loket penjualan tiket masuk.

Masih di Zona Runway 27 Airport, pengunjung yang merasa lapar atau haus dapat menuju ke sebuah cafe yang didesain layaknya sebuah kabin pesawat terbang. Menu-menu yang ditawarkan di sini, semua berbau pesawat, seperti: Flying, Concorde Chicken Sirip, Jet Potato Wedges, Turbulance Noodle dan Black Box Sausage untuk menu makanan, sedang menu minuman diantaranya adalah Ice Cessna Jelly, Pilot Jiuce serta yang lain. Harga untuk makanan mulai dari Rp.30.000 sedang minuman mulai dari Rp.15.000.

4. Zona Pecinan dan Sunda Kelapa

Memasuki Zona Pecinan dan Sunda Kelapa, pengunjung akan disuguhi suasana Jakarta Tempo Doeloe lewat latar belakang Gedung Stasiun Kota, deretan toko-toko China yang didominasi warna merah serta Gedung Kantor Pelabuhan Sunda Kelapa dengan dinding berlukiskan suasana pelabuhan, lengkap dengan gambar kapal-kapal yang berjajar dan gambar para nelayan yang sedang melakukan aktifitas.

Zona Batavia dan Pecinan di Museum Angkut (foto: renidwiastuti.com)

Sarana transportasi yang menghiasi zona berkonsep out door  ini, juga berbagai macam kendaraan yang mengisi jalan-jalan di wilayah Jakarta pada masa lampau, seperti sepeda, cikar, dokar, gerobak, becak, bajaj, oplet, praoto serta yang lain.

Di Zona ini juga terdapat sebuah ruangan dengan dinding berwarna merah dan orange yang dihiasi berbagai mata uang dari seluruh penjuru dunia dan benda-benda pos, seperti perangko, kartu pos, wesel, sampul surat, warkat, dan benda-benda pos lainnya yang dahulu merupakan sarana utama untuk berkomunikasi dan berbagi informasi.

5. Zona Koleksi Mobil Antik (Gudang Batavia)

Berbeda dengan Zona Pecinan dan Sunda Kelapa, Gudang Batavia berada di dalam ruangan yang berisi berbagai macam motor dan mobil antik dari berbagai merek, seperti Sundap, berbagai jenis Volk Wagen, Holden, serta motor dan mobil lainnya yang kini sudah menjadi barang langka, bahkan beberapa diantaranya sudah tidak lagi memiliki pabrik karena sudah tidak berproduksi lagi alias tutup. Motor dan mobil antik tersebut tidak kotor dan kumuh, apalagi karatan. Semua terawat baik dengan body mengkilat dan sebagian ada yang mesinnya masih berfungsi normal serta bisa berjalan dengan sempurna.

6. Zona Gangster Town & Broadway Street

Bagi penggemar film bertema gangster seperti The Godfather, American Gangster, Casino, Scarface, Once Upon a Time in America, serta film gangster yang lain, tentu akan sangat akrab dengan suasana yang tersaji di zona ini. Layaknya latar belakang sebuah film, suasana lingkungan yang kelam dari dunia gangster disulap menjadi pemandangan yang menakjubkan lewat tatanan artistik dari ban-ban bekas, barel-barel kosong, stiker, pamflet dan grafitti serta mobil-mobil kuna. Banyak yang mengatakan zona inilah tempat terbaik untuk berburu latar belakang foto di Museum Angkut, karena di hampir semua sudutnya menyuduhkan pemandangan yang instagramable.

Zona ini semakin membawa pengunjung pada pemandangan yang tersaji di gambar-gambar film, karena dilengkapi beberapa bangunan dengan desain ala Amerika Tempo Dulu atau seperti properti-properti yang terdapat dalam film-filmn gangster, seperti souvenir shop, theter, barber shop, police station, snack bar, fire station, bank dan beberapa bangunan yang lain.

Area Gangster Town di Museum Angkut (anekatempatwisata.com)

Pada area yang sama dapat dijumpai pula Brodway Street yang tidak kalah menarik. Sekedar untuk menambah informasi, menurut Wikipedia, Broadway merupakan sebuah jalan yang terbentang  sepanjang Pulau Manhattan sampai dengan wilayah utara Westchester County di New York City. Broadway selama ini dikenal karena theaternya dan di Museum Angkut dapat dilihat replika dari theater tersebut termasuk panggung untuk pertunjukan.

Sementara di kanan kiri Broadway Street pengunjung dapat menjumpai store dalam arti yang sebenarnya. Maksudnya, store tersebut bukan merupakan property sebagaimana yang terdapat pada zona-zona sebelumnya, melainkan store seperti halnya mini market yang menjual berbagai macam makanan ringan dan minuman. Jadi jika merasa lapar atau haus, tinggal masuk ke salah satu store dan membeli makanan atau minuman yang diinginkan.

7. Eropa (Italy, Jerman, Perancis dan Inggis)

Setelah menikmati suasana outdoor di Zona Gangster Town & Broadway Street, pengunjung akan dibawa masuk lagi ke dalam ruangan untuk menikmati koleksi yang ada di Zona Eropa. Berbeda dengan zona lainnya, Zona Eropa dibuat seperti suasana pada malam hari dengan banyak lorong yang sempit yang konon dibuat semirip mungkin dengan lorong-lorong jalan yang ada di Eropa. Suasana malam yang berpadu dengan desain interior yang apik serta penataan cahaya yang lembut menciptakan nuansa romantis saat berada di dalamnya.

Memasuki area Italy, pengunjung akan bertemu dengan sebuah rumah makan yang menyajikan pizza serta sebuah kendaraan khas Italy, yaitu Vespa produk dari Piaggio. Untuk menguatkan kesan Italy, pada salah satu dindingnya terpampang lukisan raksasa berbentuk Menara Pissa dan Colloseum atau arena gladiator. Tidak jauh dari area Italy terdapat area Perancis yang ditandai dengan replika Menara Effel. Di sini pengunjung juga bisa bersantap menu-menu ala Perancis dengan harga yang terjangkau, karena tersedia Brasserie, nama lain dari cafe atau restoran kecil.

Beranjak dari area Perancis, akan ditemui area Jerman dengan replika Tembok Berlinnya yang menarik untuk dijadikan background foto. Area berikutnya adalah area Inggris yang dilengkapi toko buah ala Inggris dan Peron 9 ¾ yang dalam film Harry Potter dijadikan sebagai pintu gerbang untuk masuk ke dunia sihir.

8. Zona Istana Buckingham

Zona Istana Buckingham di Museum Angkut (foto: jtp.id)

Sesuai dengan namanya, desain eksterior zona ini merupakan replika istana ratu Inggris yang megah lengkap dengan tamannya yang indah. Pada bagian dalam, pengunjung bisa menyaksikan replika Ratu Elizabeth sedang duduk di singgasana, dan sebuah mobil Landrover yang dulu pernah dipakai Ratu Elizabeth saat melakukan parade di Australia. Selain itu, beberapa jenis mobil buatan pabrikan dari Inggris tertata indah di beberapa sudut ruang, seperti Mobil Mini Cooper, Francis Barnet, Rolls Royce, Austin dan beberapa mobil yang lain, termasuk bus tingkat yang biasanya digunakan sebagai sarana transportasi wisata di Inggris.

9. Zona Las Vegas & Hollywood

Dibanding zona yang lain, Zona Las Vegas & Hollywood terbilang paling kecil, namun memiliki cukup banyak sudut yang menarik untuk dijadikan background foto karena penataan interiornya disesuaikan dengan gemerlap kehidupan dunia malam di Las Vegas dan suasana pusat perfilman dunia. Di zona ini dapat dilihat beberapa testimoni dan tanda tangan para artis serta tokoh-tokoh ternama di Indonesia.

10. Pasar Apung Nusantara

Setelah keluar dari pintu gerbang Museum Angkut, pengunjung dapat menuju ke Pasar Apung Nusantara dengan melewati sebuah lorong yang didesain seperti bagian dalam kereta api. Uniknya, saat dilewati, lorong tersebut bergoyang-goyang layaknya berada di atas kereta api yang sedang berjalan dilengkapi dengan backsound suara kereta api.

Sesampai di Pasar Apung Anda bisa menjelajah setiap stand yang ada di pasar tersebut dengan menggunakan kano atau perahu yang didayung dengan tarif Rp.10.000. Berbagai jenis makanan utamanya makanan khas Jawa Timur dapat ditemui di Pasar Apung. Terdapat pula beberapa stand yang menjual souvenir, hasil kerajinan, fashion dan pernik-pernik yang bercirikan Museum Angkut.

Pasar Apung Nusantara di Museum Angkut (foto: jtp.id)

11. Museum D Topeng Kingdom

Museum yang berlokasi di area Pasar Apung ini dibuka untuk umum sejak 23 Mei 2014. Koleksi utamanya berupa 2.000 macam topeng dari seluruh penjuru tanah air. Melalui topeng-topeng tersebut, pengunjung bisa belajar tentang kebudayaan Nusantara, karena topeng yang dibuat suatu suku berbeda dengan topeng buatan suku yang lain. Salah satu koleksi topeng yang tertua dan disakralkan adalah topeng kematian bernama Patung Tao-Tao dari Sulawesi. Konon Patung Trao-Tao merupakan penjaga makam. Pada zaman dahulu, raja yang meninggal wajahnya harus ditutupi Topeng Kematian, karena raja adalah titisan dewa yang tidak boleh menampakkan wajah duka.

Selain topeng yang jumlahnya ribuan, Museum D Topeng Kingdom juga memiliki koleksi berbagai macam benda kuna yang berbau mistik, seperti patung pewayangan, ratusan keris, Al-Qur’an yang usianya sudah lebih dari 400 tahun, keramik berbentuk piring dari abad XIII – XIX yang bertuliskan Surat Yaasin dan beberapa kaligrafi, beberapa jenis wayang peninggalan Sunan Kalijaga, kursi yang dipakai di Kerajaan Singasari, dan berbagai koleksi benda antik lainnya yang tidak ternilai harganya.

Harga Tiket Masuk dan Fasilitas di Museum Angkut

Harga tiket untuk memasuki Museum Angkut relatif murah, karena di dalamnya pengunjung tidak hanya melihat koleksi berbagai jenis sarana transportasi dari seluruh penjuru dunia dan dari zaman ke zaman, tapi juga bisa belajar dan berfoto dengan latar belakang alat-alat transportasi yang sebagian besar terbilang unik dan langka tersebut. Harga tiket tersebut sebesar Rp.70.000 untuk weekeday dan Rp.100.000 untuk weekend. Jika ingin melihat koleksi berbagai macam topeng yang ada di Museum D Topeng, ada tambahan biaya sebesar Rp.10.000.

Selain itu tersedia Tiket Sakti ytang dapat digunakan untuk memasuki seluruh tempat wisata dibawah naungan Jatim Park Group yaitu Museum Angkut, Jatim Park 1, Jatim Park 2 (Batu Secret Zoo, Museum Satwa dan Eco Green Park), Museum Tubuh, BNS dan Predator Fun Park. Tiket Sakti terdiri atas 2 jenis seharga Rp.375.000 untuk 2 hari kunjungan dan Rp.450.000 untuk 3 hari kunjungan.

Berada di lokasi berbalut suasana broadway di tahun 1970an atau suasana Eropa, dan dengan latar belakang berbagai jenis mobil yang langka serta alat-alat transportasi yang unik, tentu sangat disayangkan jika tidak mengambil gambar dengan background yang menarik tersebut. Karena itu pastikan Anda membawa ponsel dengan kamera yang canggih. Kenapa harus ponsel? Karena untuk jenis kamera lain, baik kamera pocket, kamera pro-summer, DSLR, handycam,  maupun action camera dikenakan biaya tambahan sebesar Rp.30.000 perkamera.

Museum Angkut juga memberikan fasilitas khusus untuk pengunjung yang ingin melakukan photo session atau sesi pemotretan di lokasi museum dengan tarif Rp.2,5 juta. Dengan biaya tersebut, pengunjung akan memperoleh 5 free entry serta dapat memulai pemotretan sebelum jam buka museum, tepatnya sejak pukul 07.00 – 12.00 WIB, sehingga lebih leluasa dalam pengambilan gambar. Selepas sesi pemotretan mereka diperbolehkan untuk menghabiskan waktu dengan melihat-lihat seluruh koleksi yang ada di museum atau melanjutkan pemotretan sampai museum tutup.

Dengan membeli tiket masuk, pengunjung tidak hanya dapat menikmati seluruh koleksi yang ada, tapi juga dapat memanfaatkan seluruh fasilitas umum yang tersedia di lokasi museum. Beberapa fasilitas tersebut diantaranya adalah:

– Shuttle Car dan Dotto Train

Tidak perlu takut lelah untuk mengelilingi seluruh kompleks museum yang luasnya mencapai 3,8 hektar, karena pihak pengelola sudah menyiapkan fasilitas transportasi gratis untuk berpindah-pindah dari satu area ke area lain dengan menggunakan Shuttle Car dan Dotto Train, yaitu mobil dan kereta mini dengan bentuk yang lucu.

Zona Mobil Antik di Meseum Angkut (foto: khoirurosida.com)

– Lift

Kaki Anda juga akan dimanjakan dengan tidak menapaki anak-anak tangga saat harus berpindah dari satu lantai ke lantai berikutnya, karena tersedia lift untuk naik turun lantai. Lift tersebut sebenarnya disediakan untuk lansia dan penyandang disabilitas, namun bagi pengunjung yang bertubuh normal juga tidak dilarang untuk memanfaatkannya.

– Information Centre

Apapun yang ingin ditanyakan oleh pengunjung terkait Museum Angkut, petugas yang berada di ruang Pusat Informasi, akan dengan senang hati memberikan penjelasan, termasuk membantu mencari jika ada barang pengunjung yang ketinggalan atau jika ada pengunjung yang terpisah dari rombongan.

– Loker

Tersedia loker yang dapat dimanfaatkan dengan gratis, sehingga pengunjung yang membawa barang banyak tidak perlu harus menenteng barang-barangnya kesana-kemari karena dapat disimpan dengan aman di loker.

– Charging Station

Habiskan memori dalam HP Anda untuk mengambil foto sebanyak mungkin dan tidak perlu takut kehabisan baterai, karena di beberapa titik tersedia Charging Station dan di masing-masing titik terdapat puluhan soket pengisi daya ponsel yang dapat digunakan secara gratis.

– ATM Center

Bagi pengunjung yang membutuhkan uang cash untuk jajan atau berbelanja, di beberapa tempat yang strategis di dalam museum dapat dijumpai mesin-mesin ATM.

– Smoking Area

Selama berada di lokasi museum, pengunjung memang dilarang merokok. Namun ada area publik yang disediakan khusus bagi para perokok dengan suasana yang tidak kalah nyaman, karena sambil merokok dapat menikmati pemandangan mobil-mobil kuna yang diparkir di tepi jalan.

– Mushollah

Menghabiskan waktu sehari penuh di dalam lokasi museum bukan menjadi penghalang bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah sholat 5 waktu, karena di dalam museum tersedia mushollah yang bernama Ar-Rizky untuk mengerjakan sholat.

– Food Court dan Cafe

Nikmati jajanan dan kuliner khas Jawa Timur di food court dan cafe yang terdapat di beberapa titik di dalam museum.

– Area Parkir

Area parkir yang sangat luas membuat pengunjung dapat leluasa memarkir kendaraan yang dibawa dengan ongkos parkir Rp.2.000 untuk motor, Rp.5.000 untuk mobil dan Rp.10.000 untuk bus.

– Pasar Apung Nusantara

Setelah meninggalkan pintu keluar museum, pengunjung dapat menikmati jajanan dan kuliner khas Jawa Timur sekaligus membeli souvenir dalam bentuk kerajinan, fashion dan berbagai pernak-pernik bernuansa Museum Angkut di sebuah pasar apung yang dapat dijelajahi dengan menggunakan perahu atau kano dengan membayar Rp.10.000. Pasar Apung ini terdiri atas beberapa stand yaitu Jawa, Papua, Kalimantan, Lombok, Toraja, Madura,  Resto Cheng Ho

– Hotel dan Penginapan

Bagi pengunjung dari luar kota yang ingin menghabiskan malam di sekitar Museum Angkut, tidak sulit untuk mencari hotel dan penginapan, karena lokasi museum ini berada di kawasan perkotaan. Beberapa hotel dan penginapan yang bisa dijadikan alternatif diantaranya adalah: Pondok Jatim Park Hotel & Cafe, Pohon Inn Hotel, Klub Bunga Butik Resort, The Singhasari Resort Batu, Golden Tulip Holland Resort Batu, Apple Green Hotel dan sejumlah hotel yang lain. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *