10 Gambar Pasar Beringharjo Malioboro Jogja, Tutup Jam Berapa? Alamat, Sejarah Yogyakarta Online Belum ada Bintang

Posted on
Pasar beringharjo yogyakarta jogja malioboro lantai 2 3 alamat batik online store tutup jam berapa sejarah harga gambar denah lokasi map peta pengertian adalah pawartos souvenir tradisional
Pintu Gerbang Pasar Beringharjo. Foto: wikiwand.com

Lokasi: Jalan Jend. Ahmad Yani No. 16, Ngupasan, Gondomanan, Daerah Istimewa Yogyakarta 55122, Indonesia
Maps: Klik Disini
HTM: Gratis
Buka/Tutup: 05.00 – 17.00
Telepon: +62 274 515871

Pasar menjadi salah satu penggerak roda ekonomi bagi masyarakat di semua kalangan. Tentu saja di pasar bisa ditemukan banyak hal yang membantu kehidupan sehari-hari di kalangan masyarakat. Selain sebagai tempat berbelanja, pasar ternyata bisa digunakan tempat wisata. Salah satunya adalah pasar Beringharjo atau bisa disebut Pasar Gede Bringharjo. Ada banyak hal yang bisa ditemukan di sini.

Suasana di Pasar Beringharjo. Foto: antaranews.com

Mengenal Pasar Beringharjo

Pasar Beringharjo ini merupakan pasar tradisional tertua dan juga terbesar di Jogjakarta. Tidak salah jika Beringharjo sudah pasti mendapatkan tempat tersendiri di hati para wisatawan terutama masyarakat Jogja. Bahkan tidak sedikit pula yang menyebut Beringharjo ini merupakan pasar tradisional terindah di pulau Jawa. Dan yang penting lagi adalah Beringharjo ini mempunyai ikatan sejarah yang sangat erat dengan Kraton Jogja serta budaya Jawa. Sekaligus menjadi ikon wisata di Jogja bersama Malioboro.

Alamat Pasar Beringharjo ini berada di Jalan Malioboro atau lebih tepatnya di sebelah selatan dekat dengan Gedung Agung dan di samping Benteng Vredeburg. Ketika para wisatawan sedang mengunjungi kawasan wisata belanja Jalan Malioboro, tidak ada salahnya mengunjungi Pasar Beringharjo dengan bergerak ke arah selatan. Di sebelah kiri terdapat pasar tradisional khas Jogja. Cukup mudah dikenali pasar Beringharjo ini. Ada papan petunjuk besar di pintu depan. Selain itu banyak terdapat pedagang buah dan cemilan khas Jogja di depannya.

Bangunan Pasar Beringharjo. Foto: yogya-backpacker.com

Sejarah Pasar Beringharjo

Pasar Beringharjo memiliki ikatan penting dengan Kraton dan Jogja. Hal ini terlihat dari peta Keraton Yogyakarta di tahun 1765 dimana lokasi dari pasar tradisional ini adalah tanah kosong yang berada di tanah tegalan dengan adanya beberapa padukuhan di sekitarnya. Kala itu Beringharjo ditetapkan sebagai pasar temporari bukan permanen. Sementara dengan perkembangan jaman, di peta tahun 1876 ini pasar Beringharjo sudah menampakkan bentuk bangunan dengan adanya los atau kios yang memanjang dari arah utara ke selatan yang berdekatan dengan jalan utama Malioboro.

Pasar Beringharjo ini mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi bagi kerajaan Kesultanan di Jogja. Pasar ini ini mulai didirikan pada saat pendirian kerajaan. Di tahun 1758 ini pasar memang belum bersifat permanen. Hanya temporari saja. Keberadaan pasar sendiri dipercaya menjadi salah satu pilar dalam aspek “catur tunggal”, yang terdiri dari Keraton, Alun-Alun Utara,  Pasar Beringharjo dan juga Masjid Keraton. Catur Tunggal sendiri merupakan pola tata kerajaan yang didirikan guna mendukung pola pemerintahan kerajaan di kota Jogjakarta ini.

Area lokasi dari pasar Beringharjo ini adalah hutan belantara yang ketika itu sangat sulit untuk dipugar. Namun untuk mempertahankan konsep dari catur tunggal tersebut, maka lahan hutan tersebut dibuka dan menjadi salah satu roda perekonomian yang membuat para warga terfasilitasi dengan adanya pasar untuk transaksi.

BacaJuga:  10 Foto Makam Imogiri Raja Jogja, Sejarah + Harga Tiket Masuk
Pasar Beringharjo tempo dulu. Foto: panoramio.com

Di pasar ini dulunya banyak pohon beringin di sekitar area hutan. Pepohonan besar ini dulu dijadikan untuk tempat berteduh dan juga para masyarakat untuk membuka kios di sekitar pepohonan. Pada era kepemimpinan Sri Sultan HB IX, pasar ini akhirnya dinamakan Pasar Beringharjo yang memiliki keyakinan dan juga arti akan adanya harapan dari kehidupan masyarakat di Jogja. Apalagi dengan kondisi pasar pada waktu itu yang menjadi inti dari perekonomian Jogja. Pengertian Beringharjo berasal dari kata “bering” yaitu pohon beringin. Sementara “harjo” berarti sejahtera. Sehingga sangat wajar jika berharap kepada kesejahteraan di pasar Beringharjo ini.

Penamaan pasar Beringharjo ini dilakukan pada tahun 1925. Ketika itu Sri Sultan HB IX membangun pasar menjadi permanen dan bukan lagi temporari seperti pada masa dulu. Meskipun sudah dipugar beberapa kali, akan tetapi bangunan asli dan juga letak dasar dari pembangunan pasar ini masih ada hingga sekarang. Dan para wisatawan masih bisa melihat bagaimana bentuk bangunan heritage di pasar Beringharjo ini.

Pasar Beringharjo usai renovasi. Foto: smilejogja.com

Memuaskan hasrat berbelanja

Tidak heran jika pasar Beringharjo ini menjadi tempat untuk memuaskan hasrat berbelanja di kota Jogja ini. Sangat wajar mengingat di sini sekarang ini sudah banyak barang-barang yang bisa ditemukan di sini. Tidak heran para pelancong akan bisa memuaskan hasrat berbelanja mereka ketika mengunjungi kawasan wisata belanja ini. Meskipun sekarang ini dunia online semakin marak, akan tetapi Beringharjo tidak tergantikan

Di sini para wisatawan bisa menemukan aneka busana atau pakaian modern seperti jeans, gaun, baju hingga aksesoris yang lengkap dan murah serta souvenir. Selain itu para pengunjung juga bisa menemukan aneka macam batik serta busana tradisional yang lengkap. Koleksinya memang sangat lengkap. Bahkan suvenir dan aneka pernak-pernik untuk keperluan nikah juga bisa ditemukan di sini.

Bukan hanya untuk para pengunjung dewasa saja, di sini para pengunjung anak-anak juga bisa menemukan aneka pakaian dan aksesoris yang lengkap. Selain busana, Di sini para wisatawan juga bisa menemukan sepatu, sandal dan juga tas yang memiliki harga lebih murah dibandingkan dengan toko. Dan asyiknya lagi adalah harga yang ditetapkan oleh penjual masih bisa ditawar lebih rendah. Tergantung kepandaian para pengunjung untuk menawar.

Para penjual di pasar Beringharjo. Foto: yogya-backpacker.com

Pemetaan dari pasar Beringharjo ini memang cukup menarik. Di area depan dan juga belakang sebelah barat menjadi tempat bagi para pengunjung yang mencari aneka kuliner khas Jogja dan cemilan-cemilan jaman Kraton.  Di gerbang depan para wisatawan sudah disambut pawartos basa jawa yang kental. Dengan corak warna emas dan hijau menjadi ciri khas dari pasar ini.

Tentu saja sudah bisa memanjakan lidah ketika mengunjungi kawasan wisata ini. Di area depan di sebelah utara ini para pengunjung bisa menemukan cemilan lawas seperti brem dengan bentuk bulat yang memiliki tekstur jauh lebih lembut keitmbang brem dari Madiun. Bagi masyarakat Jogja tentu saja sudah tidak asing dengan krasikan yang memiliki bentuk seperti dodol dengan terbuat dari tepung beras, gula Jawa dan juga wijen yang dihancurkan. Tentu saja makanan ini jarang ditemui di tempat lain.

BacaJuga:  10 Foto Wisata Watu Payung Gunung Kidul Jogja + Rute Jalan Menuju Lokasi

Bergerak ke area selatan, ada banyak penjual bakpia dengan aneka macam isi seperti kacang hijau, coklat, keju hingga vanilla dan durian. Tentu saja harganya bervariasi tergantung isi dari bakpia tersebut. Dan bakpia di sini masih hangat serta lezat. Selain itu bisa ditemukan kue basah seperti hung kwe dan juga nagasari yang merupakan cemilan jaman lawas di Jogja. Semuanya masih ada dan dijual di sini. Di area bagian belakang sendiri bisa ditemukan aneka snack atau cemilan seperti ting-ting hingga makanan sedang seperti sate kere dan juga pecel.

Sementara bagi yang ingin mencari aneka kain dan juga kuliner seperti makanan berat, bisa dicari di seantero pasar Beringharjo dan juga di lantai 2. Di lantai 2 ini para pengunjung bisa menemukan bahan baku untuk masak seperti sayuran, bumbu dan juga kios-kios yang menjual aneka makanan berat yang lezat.

Di sini para pengunjung bisa menemukan soto, bakmi Jawa, pecel, gado-gado hingga petis yang sudah sangat terkenal di pasar Beringharjo dan juga Jogja. Tidak heran jika para pengunjung selalu menuju ke area ini kala mengunjungi pasar tradisional khas Jogja tersebut.

Area depan Pasar Beringharjo. Foto: tripadvisor.com

Rute menuju ke Pasar Beringharjo

Rute untuk menuju ke pasar Beringharjo memang lebih mudah. Jika dari Stasiun Tugu, bisa dilanjutkan berjalan kaki melewati Jl Malioboro menuju pasar Beringharjo. Jaraknya sekitar 1 km menuju ke pasar tersebut. Meskipun cukup jauh, akan tetapi selama perjalanan para wisatawan bisa melihat lokasi khas Malioboro ini.

Sementara jika dari Terminal Bus Giwangan, bisa menggunakan Bus Kota yang menuju ke Malioboro atau Trans Jogja dengan jalur ke halte Hotel Garuda atau ke Beringharjo langsung. Senada jika dari bandara. Bisa memakai taksi atau juga Trans Jogja yang bisa membawa ke arah Malioboro. Bisa juga menggunakan aplikasi Google Map yang menyajikan peta atau denah kota Jogja yang mempermudah para wisatawan.

Para pedagang batik di Beringharjo. Foto: kompasiana.com

Jam Operasional

Pasar Beringharjo sendiri sebenarnya sudah dibuka sejak pukul 05.00. Bahkan jam 3 pagi di sekitar Beringharjo sudah ramai para penjual yang mempersiapkan dagangan mereka di sini. Dan pada pukul 17.00 wib pasar Beringharjo akan tutup. Uniknya di sekitar Beringharjo akan semakin ramai menjelang 18.00 hingga tengah malam nanti. Pasalnya di depan Beringharjo ini ada banyak penjual gudeg, cenil, klepon, hingga sate kikil serta varian oseng-oseng mercon yang siap menggoyang lidah. Sambil menikmati kuliner, para wisatawan bisa melihat suasana Malioboro di malam hari dan bersantai bersama teman dan juga keluarga

Penjual pisang di Beringharjo. Foto: jalanjogja.com

Aneka Kuliner di Pasar Beringharjo

Seperti yang sudah disebutkan di awal bahwa Pasar Beringharjo ini memiliki aneka macam kuliner yang lezat. Di sini para pengunjung bisa menemukan aneka macam pilihan menu yang beraneka ragam. Dan juga nikmat. Bagi yang menggemari nasi pecel di sini sudah ada banyak pedagang kuliner  yang menjajakan nasi pecel dengan sayuran kembang turi yang lezat. Selain itu di sini juga bisa ditemukan makanan khas masyarakat jadul seperti gatot thiwul hingga cenil serta lupis. Tentu saja memberikan kenangan tersendiri.

BacaJuga:  10 Foto Pantai Cemara Sewu Jogja, Letak di Kretek Bantul

Di area depan para pengunjung bisa menemukan aneka macam jajanan es seperti es cendol  yang dilengkapi dengan cam cau atau biasa disebut cincau berupa agar-agar yang bahannya terbuat dari daun cam cau. Selain itu ada cendol putih yang berasal dari bahan tepung beras. Jamu juga sudah tersedia di sini seperti kunyit asam dan beras kencur. Benar-benar kuliner klasik.

Ketika sore hari pasar Beringharjo juga menggelar pasar sore yang letaknya berada di dekat area parkir Beringharjo di sebelah selatan dari pasar. Di sini para pengunjung bisa menemukan aneka aksesoris, pakaian hingga aneka macam barang yang dijual di sini. Pada malam hari tidak heran jika area ini akan penuh oleh anak-anak muda.

Suasana di Beringharjo dan Malioboro. Foto: tripadvisor.com

Memuaskan penggemar hobi barang antik

Selain aneka kuliner dan pakaian, pasar Beringharjo juga bisa memuaskan bagi para penggemar barang antik. Di sini para wisatawan juga bisa ikut berburu barang antik. Para pengunjung bisa menuju ke lantai 3 di bagian timur dari pasar. Di sini ada banyak barang antik yang bisa ditemui. Mulai dari mesin ketik tua yang terbuat dari tahun 40 hingga 60-an dan masih berfungsi. Tentu saja harganya bisa ditawar sesuai keinginan.

Selain itu ada helm klasik yang sangat terkenal di tahun 60-an seperti di film-film aksi pada era tersebut. Lalu ada tape dan radio klasik yang masih berfungsi hingga pakaian-pakaian klasik dari tempo dulu yang masih layak pakai.

Selain barang antik, barang bekas juga ada di sini. Letaknya tidak jauh dari area barang antik. Di sini para pengunjung bisa menemukan sepatu bekas import  yang harganya bisa mencapai jutaan jika dijual di toko. Tentu saja harus pintar-pintar memilih barang kala berkunjung ke pasar Beringharjo ini.

Bagi yang menggemari musik, di sini juga dijual aneka kaset klasik atau tua seperti kaset dari tahun 50-an yang masih utuh dan bisa berfungsi dengan baik. Harganya juga relatif murah. Sekitar 20 ribu hingga 50 ribu saja. Bagi yang menggemari dunia patung, banyak patung dari bahan kuningan  yang juga klasik. Senada juga dengan uang klasik dari berbagai negara. Tentu saja bisa memanjakan para pecinta barang antik.

Berapa Bintang yang Pantas Untuk Tempat Diatas?

Ada yang salah? Punya kritik dan saran? Sampaikan di kolom komentar dibawah ini ya kakak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.