10 Foto Perang Pandan di Bali Tenganan, Jadwal Kapan + Tujuan Manfaat Tradisi

Posted on
 Perang pandan di bali tenganan sejarah 2017 dauh tukad berasal dari desa adalah tari nanoe biroe budaya makna cerita tradisi jadwal kapan foto filosofi gambar karangasem kebudayaan lukisan lokasi makalah pegringsingan pengertian upacara video wikipedia tujuan manfaat megere
Perang Pandan di Bali Tenganan, foto: wisata-bali.com

Lokasi: Desa Tenganan, Kecamatan manggis, Kabupaten Karangasem bali
Map: KlikDisini
HTM: free
Buka/Tutup: 10.00-16.00
Telepon: –

Bali memang dikenal selain memiliki banyak tempat wisata menarik, juga terkenal akan budaya dan adat istiadat yang masih kental dan sangat unik. Dimana bali sendiri memiliki banyak sekali budaya, bahwa di setiap daerahnya memiliki beragam adat istiadat yang berbeda-beda bahkan hanya di pulau ini saja. Salah satunya adalah perang padan yang hanya bisa anda temukan di desa tenganan. Mungkin bagi sebagai orang ini belum mengetahui mengenai tradisi unik ini, nah untuk itulah disini kami akan memberikan informasi mengenai perang pandan secara lengkap.

keseruan pada saat tradisi perang dimulai, foto: merdeka.com

Jika berbicara mengenai tradisi perang pandan, maka anda hanya bisa menemukannya di satu tempat yakni di desa tenganan. Dimana desa tenganan merupakan salah satu dari desa utama di pulau bali selain sembiran dan trunyan yang mayoritas penduduknya merupakan orang asli bali atau bali aga. Perlu anda ketahui bahwa bali aga merupakan penduduk asli pulau ini dan sudah ada bahwa sebelum masuknya agama hindu budha. Dimana penduduk tersebut berasal dari masyarakat pulau jawa yang datang ke pulau ini untuk migrasi atau disebut sebagai suku bali majapahit.

Daya Tarik Perang Pandan

para peserta anak kecil, foto: wego.co.id

Perang pandan merupakan balihan-balihan atau tarian sakral, dimana salah satu tradisi yang ada di perang pandan ini adalah makere-kere. Dimana tradisi ini hanya bisa dipentaskan atau di adakan pada saat yang sudah di tentukan, sehingga tidak boleh di rubah-rubah. Hal ini karena tradisi ini merupakan salah saru rangkaian persembahan khusus untuk dewa indra dan juga terhadap ida sang yang widhi wasa. Jika dilihat secara umum mengenai tradisi ini lebih mengarah ke dewa indra, karena upacara di tenganan ini merupakan agama hinddu aliran indra. Dimana aliran tersebut mengetahui bahwa indra merupakan dewa kemakmuran dan juga sebagai dewa perang.

BacaJuga:  10 Gambar Pura Pulaki dan Melanting Bali, Sejarah Temple Singaraja + Alamat Dimana
tradisi mekere-kere, foto: iinjayanthi.files.wordpress.com

Peralatan yang digunakan untuk melakukan tradisi ini berupa tameng atau persia tersebut dari bambu rotan dan daun pandan yakni tumbuhan semak dengan daun berduri sangat tajam. Biasanya tradisi Perang pandan akan dilaksanakan dalam serangkaian aci usaba sambah di desa Tenganan Pagringsingan. Dimana perang pandan ini akan dilakukan sebanyak dua kali, pertama akan dilaksanakan di bale patemu raja dan kedua dilakukan di bale patemu tengah dengan tambahan sebuah panggung yang digunakan untuk atraksi. Hari kedua dari peran pandan ini dikenal masyarakat bali sebagai pengrame sambah.

daya tarik yang dimiliki oelh tradisi ini, foto: balijayatrans.com

Acara pertama sebelum tradisi perang pandan atau mekere-kere ini dimulai, maka akan diawali dengan ritual upacara dengan mengelilingi desa sebagai permohonan keselamatan. Setelah itu ritual dilanjutkan dengan minum tuak yang dituangkan di daun pisang berfungsi sebagai gelas. Seluruh peserta perang akan saling menuangkan tuak ke daun pisang peserta lainnya sebagai rasa kebersamaan. Sedangkan untuk pakaian yang digunakan dalam tradisi perang pandan ini yakni sarung atau kemen, ikat kelapa tanpa baju alias telanjang dada dan juga selendang. Dalam tradisi perang ini tidak ada aturan baku, dimana masing-masing peserta akan membawa senjata berupa seikat daun pandan duri di tangan kanan dan perisai yang terbuat dari anyaman bambu atau rotan pada tangan kiri.

proses pengobatan setelah melakukan tradisi perang, foto: qubicle.id

Setelah ketua adat setempat memberikan aba-aba tan perang dimulai, para peserta perang pandan akan menari-nari dan sesekali menyabetkan senjatanya ke punggung lawannya dengan cara merangkul terlebih dahulu. Setelah berpelukan, kemudian mereka akan saling memukul punggung lawan dengan daun pandang yang penuh duri tersebut. Ya pasti punggung para peserta akan penuh luka akibat duri dari daun pandang tersebut, namun hal tersebut sudah bisanya. Duri pandan tersebut akan menyebabkan luka, namun tenang saja karena hal tersebut tidak akan menyebabkan infeksi. Selain itu nantinya nantinya setiap luka yang dialami oleh para peserta akan diobati dengan obat sakral. Obat tersebut sudah dipersiapkan jauh sebelum tradisi perang pandan dimulai oleh para daha atau pemuda desa tenganan. Luka akan cepat sembuh, bahwa pada waktu terkena serangan tidak akan terasa. Ya meskipun pada waktu saat diobati memang terasa perih, namun hal tersebut hanya beberapa menit saja.

BacaJuga:  10 Gambar Waterbom Bali, Promo Harga Tiket Masuk (Tickets Price Discount) + Review 2017

Sejarah Tradisi Perang Pandan di Desa Tenganan

para masyarakata bali aga, foto: pesonaindo.com

Mungkin anda bertanya-tanya mengenai sejarah perang pandan di desa tenganan ini. Selain itu apa sajakah yang membuat berbeda antara masyarakat bali aga khususnya yang ada di desa tenganan ini dengan desa lainnya di pulau ini. Nah untuk itulah berikut adalah sekilas info mengenai sejarah munculnya tradisi perang pandan, namun sebelum itu kita bahas terlebih dahulu perbedaan antara bali aga dan majapahit.

Hampir keseluruhan masyarakat bali aga merupakan pemuja indra sebagai dewa utama mereka. Sedangkan sebagai besar suku bali majapahit menjadikan siwa sebagai dewa utama mereka. Selain itu jika dilihat dari bentuk bangunan dan posisi pura, kedua suku tersebut memiliki perbedaan. Bali aga juga tidak mengenal sistem kasti yang merupakan budaya kebanyakan masyarakat hindu.

sejarah munculnya tradisi perang pandan, foto: vokamo.com

Nah itulah sekilas info mengenai perbedaan bali aga dan majapahit. Untuk sejarah awal mula munculnya peran pandan ini sebagai salah satu tradisi rutin yang diselenggarakan setiap tahunnya di desa tenganan. Dimana pada jaman dahulu terdapat seorang raja dengan sifat lalim dan kejam yang memerintah masyarakat bali aga sebelum datanya orang-orang majapahit ke pulau ini. Raja tersebut bernama maya denawa, dimana ia memiliki kesaktian yang sangat luar biasa sehingga membuatnya menjadi sombong dan menganggap dirinya sebagai dewa serta melarang rakyatnya untuk menyembah indra. Namun masyarakat bali aga merasa bahwa raja maya denawa sudah diluar batasnya, maka mereka pun akhirnya memohon kepada dewa indra untuk membebaskan dari kekejaman raja maya denawa.

salah satu proses pada saat tradisi dimulai, foto: benarnews.org

Akhirnya permohonan tersebut dikabulkan dengan turunnya dewa indra ke bumi dengan tujuan untuk mengalah raja maya denawa yang sombong tersebut. Pertempuran yang hebat pun terjadi antara dewa indra dan raja maya denawa, namun akhirnya maya denawa dapat dikalahkan dan mati oleh dewa indra karena kesombongannya. Nah Sejak saat itu untuk memperingati matinya Maya Denawa, masyarakat Desa Tenganan mengadakan tradisi perang pandan. Dimana mereka melakukan tradisi tersebut setiap tahunnya untuk mengenang kembali masyarakat bali aga atas kekejaman Raja Maya Denawa dan selain itu untuk menghormati Dewa Indra yang dikenal oleh masyarakat Hindu sebagai Dewa Perang.

BacaJuga:  10 Foto Pura Gunung Kawi Sebatu, Sejarah Candi Bali Tampaksiring + Harga Tiket Masuk

Waktu dan Lokasi Pelaksanaan Perang Pandan

peralatan yang digunakan pada saat melakukan tradisi, foto: beritahati.com

Perlu anda ketahui bahwa tradisi peran pandan di desa tenganan bali ini sudah memiliki jadwal pelaksanaan setiap tahunnya, dimana biasanya dilakukan pada bulan ke lima dalam penanggalan bali aga. Nah pada tahun ini tradisi perang pandan ini akan diadakan para tanggal 13 juli 2017 di desa Tenganan Pegringsingan dan tanggal 11 juli di desa tetangganya yakni Tenganan Dauh Tukad. Sedangkan untuk runtutan acara perang pandan ini akan dimulai dari pukul 10 pagi sampai selesai yang bisanya bisa berlangsung sampai sore hari. Anda bisa datang langsung ke Desa Tenganan, Kabupaten Karangasem bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *