10 Gambar Waduk Cirata Purwakarta, Sejarah Misteri Mistik + Lokasi Alamat Wisata

Posted on
Waduk cirata purwakarta cianjur misteri lokasi sejarah jawa barat gambar mistik wisata alamat foto map jangari terdapat di provinsi terletak jatiluhur bandung calingcing berada adalah angker dari atas kualitas air arah asal bendungan bpwc berita biaya rute calincing peta dimana dan saguling ke jakarta menuju fungsi fasilitas google maps hantu hotel ikan mati kondisi saat ini jonggol kabupaten kering kedalaman kisah kuliner keanehan keindahan korban
Waduk Cirata (foto: tempatwisatadiindonesia.blogdetik.com)

Lokasi: Desa Tegal Waru, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat
Map: KlikDisini
HTM:  Sepeda Motor Rp.3.000, Mobil Rp.5.000
Buka/Tutup: 24 Jam

Tidak hanya Waduk Jatiluhur, Purwakarta juga memiliki Waduk Cirata yang menjadi kebanggaan kabupaten ini. Jika Jatiluhur tercatat sebagai bendungan terbesar di Indonesia, maka Waduk Cirata merupakan bendungan PLTA (Pembangkit Tenaga Listrik) terbesar di Asia Tenggara.

Kapasitas listrik sebesar 1.428 GWH pertahun yang dihasilkan, disalurkan melalui sistem interkoneksi ke Jamali (Pulau Jawa, Madura dan Bali) lewat transmisi bertegangan tinggi sebesar 500 kV.

Deskripsi singkat tentang Waduk Cirata tersebut sudah dapat memberikan gambaran, seberapa megahnya bendungan ini, sehingga meski tidak dimanfaatkan secara langsung sebagai objek wisata, bendungan ini tetap memberikan daya tarik bagi para wisatawan.

Kawasan Utama Waduk Cirata (foto: nativeindonesia.com)

Pada kenyataannya, PLTA ini memang tidak hanya megah, tapi juga menyuguhkan panorama alam yang indah sebagaimana bendungan-bendungan raksasa lainnya yang ada di Indonesia. Selain itu, terdapat beberapa aktifitas menarik yang dapat dilakukan di tempat ini yang menjadi daya pikat dan nilai lebih dari Waduk Cirata.

Sejarah dan Deskripsi Singkat tentang Waduk Cirata

Bendungan Cirata dibangun dalam 2 tahap, yaitu pada tahun 1983 – 1988 dan tahun 1995 – 1997. Secara topografi bendungan ini dibangun diantara bukit-bukit yang menjadi penghubung 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Cianjur, Bandung dan Purwarkarta. Namun, secara administratif lokasi Waduk Cirata masuk ke dalam wilayah Purwakarta dengan alamat di Desa Tegal Waru, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat.

Kawasan bendungan ini memiliki luas total 43.777,6 hektar yang terbagi atas 37.577,6 hektar wilayah daratan serta 6.200 hektar wilayah perairan. PLTA Cirata berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dan genangan airnya berasal dari Waduk Saguling yang posisinya lebih tinggi.

Sementara aliran air dari Bendungan Cirata selanjutnya akan menuju Bendungan Jatiluhur. Sehingga air dari Bendungan Saguling dimanfaatkan secara terus menerus untuk  menghasilkan listrik, mulai dari Bendungan Saguling, Cirata hingga Jatiluhur.

PLTA Cirata terbagi atas 4 bangunan utama, yaitu bendungan atau waduk yang digunakan untuk tempat menampung air, saluran air, gedung unit pembangkit atau powerhouse serta switchyard yang merupakan unit transmisi untuk menyalurkan energi listrik. PLTA ini juga dilengkapi sebuah terowongan yang digunakan sebagai akses jalan ke powerhouse yang berada di dalam perut bumi.

Switchyard Waduk Cirata (foto: sindonews.com)

Berbeda dengan bendungan raksasa lainnya yang multi fungsi, bendungan ini dibangun dengan fungsi utama sebagai PLTA dengan tujuan awal untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Jawa dan Bali.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, aktifitas yang lain turut berkembang dan ikut mewarnai. Dimulai dengan pengaplikasian budidaya jaring apung pada tahun 1986 dengan maksud untuk memberi lapangan kerja bagi penduduk sekitar.

BacaJuga:  Curug Panganten Pangalengan Dari Cimahi Bandung + 10 Foto Air Terjun Kembar Yang Eksotis

Keramba apung ini semakin berkembang bahkan dengan jumlah yang melebihi ambang batas sehingga memberikan pengaruh negatif terhadap kualitas air. Karena itu, pada tahun 2016, kawasan perairan Waduk Cirata dibuat bersih dari kolam jaring apung (KJA), termasuk yang ada di Bendungan Jatiluhur.

Terowongan Waduk Cirata (foto: wongkentir.blogdetik.com)

Kebijakan tersebut hanya berlaku sementara waktu, karena petani masih diijinkan untuk membuat KJA, namun dengan jumlah yang dibatasi. KJA memang mustahil untuk ditutup sepenuhnya, karena selain menjadi lahan ekonomi masyarakat sekitar juga menjadi pemasok 30 persen ikan air tawar di Provinsi Jawa Barat.

Tidak hanya KJA saja aktifitas yang mewarnai kawasan bendungan, tapi juga aktifitas wisata. Meski tidak ada area khusus yang dijadikan sebagai tempat wisata, namun keindahan alam  yang ada di kawasan ini memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai industri pariwisata.

Waduk Cirata sebagaimana bendungan-bendungan raksasa lainnya di Indonesia, juga berselimut kisah-kisah mistik dan misteri yang memberi gambaran bahwa kawasan ini merupakan wilayah yang angker, dimana pengunjung harus memperhatikan sejumlah pantangan yang merupakan salah satu kearifan lokal.

Beberapa kisah misteri tersebut diantaranya adalah adanya sebuah hotel bagus berbentuk villa kuna di dekat bendungan yang bertarif murah. Namun tidak ada orang yang berani menginap di hotel tersebut kecuali terpaksa karena konon seringkali muncul penampakan.

Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata (foto: panoramio.com)

Penduduk sekitar juga mempercayai bahwa kawasan waduk, baik di darat maupun di perairan dihuni oleh berbagai jenis makhluk halus dalam jumlah yang banyak dan dengan berbagai bentuk. Sosok hantu yang konon paling sering menampakkan diri adalah banaspati yang berujud seperti manusia namun tubuhnya mengeluarkan api.

Keanehan lainnya yang ada di kawasan ini berkaitan dengan debit air yang secara tiba-tiba bisa meluap dan dalam waktu singkat surut secara ekstrim. Peristiwa  ini kerap terjadi pada saat bulan purnama.

Rute Menuju Waduk Cirata

Tidak sulit untuk menuju ke PLTA terbesar di Asia Tenggara ini, bahkan meski tidak berbekal peta dan membuka google maps sekalipun dipastikan tidak akan tersesat, karena terletak di perlintasan utama Bandung – Jakarta. Selain itu hampir semua penduduk Purwakarta tahu, dimana letak PLTA tersebut.

Wisatawan yang datang dari Jakarta dapat menempuh beberapa jalur untuk tiba di lokasi, baik dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Jalur pertama adalah melewati Bogor menuju ke Puncak hingga sampai di Cianjur dan Cikalong Kulon sebelum akhirnya tiba di lokasi. Jalur kedua adalah melewati Jonggol menuju Cikalong Kulon baru tiba di Cirata. Cara lainnya adalah dengan melewati Tol Cikampek dan keluar di pintu Tol Jatiluhur sebelum melanjutkan perjalanan ke arah Plered.

BacaJuga:  10 Gambar Gedung Merdeka Bandung Asia Afrika Indonesia Sekarang dan Dari Masa Ke Masa
Jalan Menuju Waduk Cirata (foto: macantua.com)

Wisatawan yang datang dari Bandung bisa melewati Tol Cipularang dan keluar di pintu Tol Cikalong Wetan sebelum menuju ke arah Plered. Untuk pengunjung dari Cianjur dapat melewati Cikalong Kulon. Sedang yang datang dari Purwakarta dapat menyusuri jalan Cikalong Wetan.

Karena berada di daerah perbukitan, jalan yang harus dilalui menanjak dan penuh dengan tikungan, sehingga perlu sikap hati-hati dan waspada. Hanya saja tidak perlu khawatir karena kondisi jalan sudah beraspal halus dan dengan badan jalan yang lebar sehingga dapat dilalui kendaraan-kendaraan besar.

Daya Pikat Waduk Cirata

Hamparan permukaan air yang berhias tempat pembudidayaan ikan jaring terapung serta perahu-perahu nelayan, menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan mata saat dilihat dari pinggir danau buatan ini.

Keindahan tersebut masih ditambah dengan  hijaunya bebukitan yang memagarinya. Terlebih pada sore hari, sunset yang dilihat dari  pinggir waduk, menyuguhkan pemandangan yang sangat memukau.

Indahnya Senja di Waduk Cirata (foto: thearoengbinangproject.com)

Kenikmatan berwisata di tempat ini akan semakin lengkap dengan menjelajahi kawasan perairan menggunakan perahu, serta melihat dari dekat tempat pembudidayaan ikan jaring terapung. Untuk berperahu selama 2 – 3 jam mengelilingi perairan waduk, ongkos yang dikeluarkan hanya sebesar Rp.30.000.

Bagi mereka yang memiliki hobby memancing, Waduk Cirata adalah tempat yang pas untuk memuaskan kegemaran, karena di tempat ini hidup berbagai jenis ikan air tawar dengan berbagai ukuran dalam jumlah yang besar.

Terdapat banyak spot memancing yang sudah akrab di telinga mancing mania yang kerap datang ke kawasan ini, diantaranya adalah Calincing, Jangari, Palumbon, Pasir Ucing, Palalangon dan  Babakan Garut serta pasir Geulis atau Cipicung.

Satu lagi yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Waduk Cirata adalah menikmati kuliner khas tempat ini. Di pinggir-pinggir jalan sepanjang lokasi wisata, banyak dijumpai warung-warung yang menjual makanan, termasuk makanan khas Purwakarta yaitu Sate Maranggi.

Perahu Nelayan di Pinggir Waduk Cirata (foto: lexyleksono.com)

Namun jika ingin bersantap di pusat kuliner Waduk Cirata, wisatawan dapat menuju ke Buangan. Di kawasan ini terdapat banyak warung dan rumah makan yang menyuguhkan berbagai hidangan. Hanya saja, meski memberikan pilihan berbagai menu, ada menu yang sama yang terdapat di semua warung yang ada di sini, yaitu Nasi Liwet dan Ikan Bakar.

Keunikan dari kuliner khas tersebut tidak dihitung perporsi, melainkan berapa liter beras untuk nasi liwetnya dan berapa kg ikan yang dipesan. Begitu selesai memesan, pengunjung masih harus menunggu makanan tersebut diolah sekitar 30 – 40 menit, karena semua bahan untuk memasak benar-benar masih fresh. Sebelum digoreng atau dibakar, kan-ikan masih dalam keadaan hidup, sayurpun juga langsung dipetik dari pohonnya.

Keunikannya tidak berhenti sampai di situ, tapi juga dari cara penyajian. Makanan yang dihidangkan bagi pengunjung yang datang bersama rombongan, tidak ditempatkan di piring atau mangkok, melainkan di sebuah nampan besar.

BacaJuga:  10 Foto Museum Peta Bogor, Sejarah, Lokasi Terletak di Kota?

Di dalam nampan itulah diletakkan nasi sesuai dengan banyaknya beras yang dipesan, berikut ikan-ikan yang telah diolah, sayur mayur serta sambal. Jadi, pengunjung dalam satu rombongan bersantap bersama dalam satu nampan besar, sehingga saat bersantap, akan mengingatkan siapapun dengan suasana kenduri.

Sunset di Waduk Cirata (foto: nativeindonesia.com)

Harga nasi liwet dengan lauk ikan bakar tersebut tergantung dari jenis ikan yang dipesan serta tambahan lauk lainnya, seperti tahu, tempe atau telur. Jika dihitung secara global untuk bersantap 5 orang dengan memesan beras 1 liter dan ikan 1 kg ditambah minuman, rata-rata sseharga Rp.140.000 – Rp.150.000. Harga tersebut sama untuk semua warung yang ada di Buangan.

Untuk sebuah kawasan wisata dan dengan sajian ikan yang masih segar, harga makanan yang berlaku di Buangan Waduk Cirata ini relatif murah plus dengan rasa yang lezat.

Harga Tiket Masuk dan Fasilitas di Waduk Cirata

Untuk memasuki kawasanWaduk Cirata, harga tiket masuk yang dikenakan tidak berdasarkan jumlah orang yang masuk ke kawasan tersebut melainkan dihitung berdasarkan jenis kendaraan yang digunakan.

Kawasan Kuliner Waduk Cirata (foto: noniq.co)

Pengunjung yang mengendarai motor, dikenakan tiket masuk seharga Rp.3.000 sedang mobil Rp.5.000. Meski dihitung berdasarkan jenis kendaraan yang digunakan, namun tidak termasuk ongkos parkir. Jadi untuk parkir dikenakan biaya sendiri yang besarnya sama dengan tiket masuk.

Harga tiket masuk yang sangat murah tersebut disebabkan karena Waduk Cirata memang bukan diperuntukkan sebagai kawasan wisata, meski pada akhirnya saat ini kawasan tersebut banyak dikunjungi wisatawan.

Karena bukan kawasan wisata, maka fasilitas yang tersediapun tidak selengkap fasilitas yang ada di objek-objek pariwisata. Meski demikian wisatawan tidak perlu khawatir kalau hanya untuk kebutuhan dasar seperti kamar mandi, MCK dan mushollah, sebab semuanya sudah tersedia di lokasi.

Untuk mengisi perut dan menghilangkan haus, di kawasan Waduk Cirata terdapat tempat kuliner yang disebut Buangan. Sedang bagi wisatawan yang ingin bermalam di sekitar bendungan, terdapat sejumlah hotel dengan fasilitas dan tarif yang bervariasi. Bahkan BPWC (Badan Pengelola Waduk Cirata) juga memiliki hotel sendiri yang disewakan kepada para wisatawan.

Ada yang salah? Punya kritik dan saran? Sampaikan di kolom komentar dibawah ini ya kakak

Jika ingin menyewa penginapan dengan tarif yang murah, rumah-rumah penduduk yang dijadikan homestay dapat dijadikan pilihan dengan tarif sewa kamar permalam seharga Rp.75.000 – Rp.100.000.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *