10 Gambar Candi Cangkuang Garut, Tiket Masuk Wisata + Sejarah Peninggalan Kerajaan Cerita Rakyat Legenda

Posted on
Candi cangkuang garut sejarah gambar peninggalan kerajaan cerita rakyat terletak di letak legenda tiket masuk wisata lokasi foto pendiri jawa barat leles tentang alamat kabupaten daerah kampung pulo berasal dari adalah agama ada dimana bercorak akulturasi arca bangun pada abad berada bahasa sunda mana bandung sasakala dalam inggris cerpen dibangun tahun oleh raja penjelasannya masa dibuat fungsi fasilitas kota mitos kisah makalah hasil kebudayaan htm
Area Candi Cangkuang dan makam. Foto: inilahgarut.com

Lokasi: Leuwigoong, Karanganyar, Cangkuang, Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44119
Maps: Klik Disini
HTM: Rp. 15.000
Buka/Tutup: 07.00 – 17.00 WIB
Telepon: +62 22 7273209

Garut tidak hanya terkenal dengan hasil kulit dan juga kawasan wisata alam di dalamnya. Ada hal lain yang bisa diketahui oleh para wisatawan yang sedang berwisata ke Garut ini. Salah satunya adalah kisah sejarah, historis dan juga peninggalan masa lalu dari kerajaan-kerajaan Sunda yang pernah memimpin Garut.

Garut ini mempunyai sederetan kawasan wisata sejarah yang menjadi saksi bisu mengenai perkembangan budaya dan juga kisah sejarah di Jawa Barat dan juga Garut itu sendiri. Salah satunya adalah kawasan wisata Candi Cangkuang yang mempunyai kisah dan cerita tersendiri. Kawasan wisata sejarah Candi Cangkuang ini mempunyai sasakala atau kisah dongeng dari Sunda yang sudah sangat terkenal. Dan bukan hanya Bandung saja yang memiliki dongeng dan cerita rakyat yang sudah dikenal di Indonesia.

Keindahan Candi Cangkuang. Foto: wikipedia.com

Mengenal Candi Cangkuang

Kawasan wisata Candi Cangkuang ini adalah salah satu kawasan wisata yang sangat terkenal yang diincar oleh para wisatawan ketika mengunjungi kota Garut tersebut. Candi yang merupakan peninggalan masa kejayaan agama Hindu tersebut terletak di daerah Leles. Atau lebih tepatnya alamat, lokasi dan juga letak dari candi ini berada di Leuwigoong, Karanganyar, Cangkuang, Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44119. Dan tentu saja memiliki akses yang sangat mudah dari ibukota Garut.

Tentu saja Candi Cangkuang ini memiliki cerita atau kisah legenda, mitos, misteri dan juga cerita tentang pendiri dari Garut dan juga di masa kejayaan kota ini di Jawa Barat. Apalagi sudah banyak penelitian dan juga makalah yang menghasilkan rincian analisa mengenai kebudayaan yang dibawa ke kota Garut tersebut.

Kawasan wisata Candi Cangkuang ini letaknya berada di sekitar danau kecil Cangkuang yang sudah terkenal di kalangan para wisatawan. Dan yang menarik adalah adanya kawasan kampung adat tradisional yang bernama Kampung Pulo. Kampung ini menjadi salah satu pesona yang ditawarkan oleh Candi Cangkuang tersebut. Kawasan wisata candi ini didirikan pada abad ke 8 M. Dan candi ini adalah peninggalan dari kebudayaan Hindu yang tersebar di Jawa Barat.

Guna mengunjungi kawasan wisata candi ini para wisatawan harus menggunakan rakit untuk menyeberang ke kawasan candi yang berada di tengah danau. Dan rakit ini bisa menampung banyak penumpang yang ingin mengunjungi candi tersebut. Di sini para wisatawan bisa menikmati pesona alam yang ditawarkan oleh candi yang sangat indah dan juga asri.

Selain itu jangan lupa untuk berkunjung dan juga melihat keadaan di Kampung adat Pulo yang letaknya tidak jauh dari kawasan wisata Candi Cangkuang tersebut. Tentu saja sudah bisa ditemukan catatan sejarah mengenai pemugaran candi tersebut dan juga adanya peninggalan benda-benda yang ada di sekitar candi. Dan ternyata bukan hanya peninggalan dari agama Hindu saja. Ada peninggalan agama Islam di dalamnya.

Pesona Candi Cangkuang. Foto: piknikasik.com

Sejarah Candi Cangkuang

Kawasan wisata Candi Cangkuang yang berada di Kecamatan Leles ini jaraknya memang hanya sekitar 18 kilometer dari Garut. Candi Cangkuang ini merupakan peninggalan sejarah dari kedua agama yang pernah ada di Garut. Yaitu Hindu dan Islam. Salah satu peninggalan dari agama Hindu adalah adanya patung atau arca Dewa Siwa yang menurut cerita berasal dari abad ke 8. Sedangkan peninggalan Islam yang menurut penelitian berasal dari abad ke 17 ini adanya makam dari Eyang Embah Dalem Arief Muhammad. Dialah yang memiliki jasa sebagai penyebar agama Islam pertama di Garut.

BacaJuga:  10 Gambar Curug Seribu Bogor Jawa Barat + Misteri Angker Air Terjun Menelan Korban

Makalah mengenai kisah sejarah Candi Cangkuang ini memang sudah cukup terkenal. Bahkan sudah diterbitkan pula dalam bentuk bahasa Inggris. Artefak yang ada di Candi Cangkuang ini ditemukan oleh Uka Tjandrasasmita. Dan penemuan kedua artefak tersebut menjadi bukti akulturasi budaya dan juga gaya arsitektur yang ditampilan di Candi Cangkuang tersebut.

Ketika dilakukan penelitian dan juga penggalian pada tahun 1966 ini, para peneliti menemukan pondasi candi yang bersebalahan dengan makam Eyang Arief Muhammad denan ukuran 4,5 x 4,5 meter persegi. Dengan tinggi mencapai 8,5 meter ketika itu. Dan proses penggalian diteruskan hingga menemukan batu candi asli. Namun ini baru 40 persen saja dari bangunan asli dari Candi tersebut.

Sisa batu yang lainnya kabarnya digunakan oleh masyarakat sekitar dan juga di Kampung Pulo sebagai nisan bagi kuburan masyarakat. Pasalnya mereka tidak mengetahui adanya makam dan juga patung Dewa Siwa serta candi yang bercorak khas Hindu dan merupakan peninggalan kerajaan pada jaman dulu.

Kawasan wisata Candi dan makam. Foto: detik.com

Bentuk dari Candi Cangkuang ini memang hanya sisa-sisa batu saja. Namun dari bentuk dan juga corak dari candi ini bisa dilihat bahwa candi ini bercerita tentang kejayaan Hindu dimana pada saat itu Hindu memang berjaya di Indonesia. Sayangnya bagian atas dari candi ini sudah hilang dan tidak ditemukan.

Sementara arca Dewa Siwa sendiri masih bisa disaksikan oleh para wisatawan. Arca ini dimasukkan ke dalam candi yang berfungsi untuk menutup lubang diarea candi yang mencapai sekitar 7 meter. Lubang ini dahulu fungsinya digunakan untuk menyimpan abu dari jenazah. Penelitian dan juga proses penggalian dari Candi Cangkuang ini belum selesai hingga sekarang. Jadi belum ada keterangan pasti mengenai siapa kah yang membangun atau dibangun pada masa kerajaan apa. Ditambah lagi tidak ada prasasti yang memberikan informasi tersebut.

Yang sekarang ini diketahui adalah gaya arsitektur dan juga waktu pembangunan dari Candi tersebut berdasarkan penemuan artefak tersebut. Hal ini disampaikan oleh masyarakat Garut. Menurut penjelasannya penemuan artefak ini sesuai dengan penemuan-penemuan lain di abad yang sama. Meski begitu kawasan wisata sejarah ini tetap memiliki nilai tersendiri. Bahkan sempat masuk ke dalam makalah hingga cerita pendek atau cerpen mengenai sejarah dari Candi tersebut.

Kawasan wisata sejarah Candi Cangkuang. Foto: triptrus.com

Bukti penyebaran Islam

Candi Cangkuang seperti yang sudah disebutkan adalah perpaduan antara penyebaran agama Hindu dan Islam di Garut dan juga Jawa Barat. Hal ini bisa terlihat dari penemuan artefak dan masa dibuatnya arca serta makam yang menjadi bukti penyebaran agama tersebut. Sementara bukti lainnya adalah adanya perkampungan di sekitar Candi Cangkuang tersebut.

Kampung Pulo yang letak dan lokasinya tidak jauh dari Candi Cangkuang ini adalah desa tempat para penyebar agama Islam yang pertama di Sekitar Garut dan juga Cangkuang. Ketika itu Eyang Embah Dalem Arief Muhammad ini mendirikan peradaban dan juga kehidupan masyarakat di sekitar candi tersebut. Ketika itu Eyang Embah Dalem Arief Muhammad ini membangun kampung bernama Kampung Pulo.

BacaJuga:  10 Gambar Pantai Puncak Guha Garut Selatan + Penginapan Camping Dimana?

Pada awalnya Eyang Embah Dalem Arief Muhammad ini merupakan salah satu panglima perang yang sangat tangguh dari Kerajaan Mataram. Dirinya mendapatkan tugas dari sang raja yaitu Sultan Agung guna menghadapi serangan dari tentara VOC yang terdapat di Batavia. Sayangnya Eyang Embah Dalem Arief Muhammad harus kalah diakibatkan kekurangan pasokan. Dirinya kemudian enggan kembali ke Mataram dikarenakan takut mendapatkan sangsi. Akhirnya Eyang Embah Dalem Arief Muhammad ini pergi ke Garut dan bersembunyi di daerah Cangkuang.

Para wisatawan di Candi Cangkuang. Foto: reservasi.com

Dikala Eyang Embah Dalem Arief Muhammad ini mengunjungi daerah Cangkuang ini masyarakat di sekitar Cangkuang masih menganut agama Hindu dan juga kepercayaan animisme dan dinamisme. Baru di abad ke 17 masyarakat di sekitar Kampung Pulo ini masuk Islam. Dan Eyang Embah melakukannya dengan cara bertahap bukan secara langsung. Dalam proses penyebaran Islam ini masih diadakan upacara menggunakan sesaji untuk mudah masuk ke kalangan masyarakat Kampung Pulo pada masa itu.

Untuk melihat bukti penyebaran dan juga ajaran agama Islam yang dilakukan oleh Embah Dalem Arief Muhammad ini, para wisatawan bisa melihatnya di museum kecil yang letaknya tidak jauh dari makam keramat Eyang Embah Arief Muhammad tersebut. Di sini pula sudah ada ada manuskrip Alquran yang digunakan pada abad ke 18 yang terbuat dari kertas yang berasal dari pohon saeh atau Broussanetia papyrifera vent.

Yang menarik adalah adanya manuskrip khutbah Idul Fitri yang digelar di abad ke 18. Manuskrip ini memiliki panjang sekitar 167 cm. Isi dari manusrkip ini adalah mengenai puasa dan zakat fitrah yang sangat utama dan bisa memberikan pahala kepada umat Islam. Kampung Pulo ini bisa dikunjungi oleh para wisatawan. Apalagi di sini masih ada penduduknya yang berjumlah kurang lebih 23 warga. Dan mereka kabarnya merupakan generasi ke 10 dari Eyang Embah Arief Muhammad.

Jalur ke museum Eyang Embah Dalem Arief Muhammad. Foto: analisadaily.com

Apa sih Kampung Pulo itu

Di Kampung Pulo ini hanya terdiri dari 6 rumah dan hanya ada 1 musholla. Dan jumlah ini kabarnya adalah simbol dari anak Embah Dalem Arief Muhammad yang hanya mempunyai 6 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Yang menarik dari peraturan dari Kampung Pulo ini adalah komunitas di kampung ini tidak boleh menambah kepala keluarga. Jadi jika ada warga adat yang menikah diwajibkan untuk keluar dan membangun keluarga dari Kampung Pulo.

Mereka baru diperbolehkan untuk masuk jika orang tua seperti ayah atau ibu meninggal. Mereka nantinya akan mengisi kekosongan tersebut. Dan yang mendapatkan hak waris adalah anak perempuan. Hal ini disebabkan untuk melanjutkan warisan yang ada di Kampung Pulo.

Di Kampung Pulo ini juga menerima larangan. Larangan yang masih berlaku adalah larangan adat yang cukup unik di sekitar masyarakat kampung tersebut. Larangan ini merupakan amanat dari Eyang Embang Dalem Arief Muhammad yang menjadi pendiri dari kampung tersebut. Masyarakat di Kampung Pulo tidak diperbolehkan untuk berziarah di hari Rabu.

Pesona Candi Cangkuang. Foto: triptrus.com

Pada hari Rabu masyarakat di Kampung Pulo biasanya menggelar pengajian dan juga memperdalam ilmu agama. Hari Rabu menjadi hari yang pas bagi masyarakat untuk memperdalam ilmu agama di sekitar kampung. Selain itu warga setempat dilarang untuk memelihara hewan berkaki empat seperti sapi, kerbau dan juga kambing. Hal ini untuk menjaga kebersihan kampung dan juga makam. Apalagi ditakutkan bisa merusak ladang dan juga membuat area makan jadi kotor.

BacaJuga:  10 Foto Trans Studio Bandung, Promo Harga Tiket Wahana Untuk Anak 2017 Buy 1 Get 1 Dunia Lain

Sementara larangan berikutnya adalah tidak boleh menabuh gong yang terbuat dari perunggu. Hal ini disebabkan Eyang Embah Dalem pernah mengalami kehilangan anak laki-laki yang meninggal akibat dikhitan. Ketika itu sang anak diarak dengan tandu. Tandu yang berbentuk prisma ini diiringi gamelan dengan gong yang besar. Ketika itu datang angin topan  yang membuat anak dari Eyang Embah Dalem Arief Muhammad meninggal. Sehingga muncullah larangan tersebut.

Larangan lainnya adalah warga setempat tidak diperkenankan untuk membuat atap rumah dengan bentuk jure atau prisma. Harus dengan bentuk memanjang. Belum diketahui dengan pasti alasan larangan tersebut. Untuk larangan terakhir adalah tidak boleh menambah dan mengurangi bangunan pokok dari kepala keluarga di Kampung Pulo. Pasalnya bangunan di kampung ini sesuai dengan anak dari Eyang Embah Dalem Kampung Pulo tersebut.

Daerah Candi dan Makam. Foto: jelajahgarut.com

Pesona di Candi Cangkuang dan Kampung Pulo

Para wisatawan yang berlibur ke kawasan wisata sejarah Candi Cangkuang dan juga Kampung Pulo ini dipastikan akan mendapatkan pengetahuan sejarah dan juga pengalaman budaya yang sangat berguna. Disarankan untuk mengunjungi kawasan wisata ini di pagi hari atau bisa juga di sore hari. Hal ini disebabkan sinar matahari masih sejuk dan tidak akan membuat para wisatawan kepanasan. Ditambah lagi sinar matahari di pagi dan sore hari membuat pemandangan di Candi Cangkuang semakin indah.

Candi Cangkuang ini memiliki gaya arsitektur khas Hindu dan juga Islam yang sangat kental. Hal ini bisa terlihat dengan perpaduan gaya candi tersebut. Bahkan para wisatawan juga bisa menemukan makam keramat dari Eyang Embah Dalem Arief Muhammad yang berada tidak jauh dari candi tersebut.

Eyang Embah Dalem Arief Muhammad ini merupakan salah satu penyebar agama Islam di sekitar kawasan Jawa Barat. Dan para masyarakat di sekitar Candi Cangkuan dan Kampung Pulo ini dipercaya adalah keturunan langsung dari Eyang Embah Dalem Arief Muhammad tersebut.

Area makam Eyang Embah Dalem Arief Muhammad. Foto: nativeindonesia.com

Fasilitas di Candi Cangkuang

Fasilitas yang sudah didapatkan di kawasan wisata Candi Cangkuang adalah transportasi umum yang bisa mengantarkan para wisatawan menuju ke kawasan candi dari terminal Garut. Angkutan ini akan berangkat ke Leuwigoong dan juga Kecamatan Leles. Fasilitas lainnya yang bisa didapatkan di sekitar kawasan wisata ini adalah rakit yang akan mengantarkan para wisatawan menuju Candi Cangkuang.

Selain itu sudah ada area parkir yang sangat luas bagi para pengunjung yang datang membawa kendaraan sendiri. Ada pula warung dan juga tempat makan bagi para wisatawan yang lapar dan ingin bersantai dan juga beristirahat setelah mengelilingi Candi Cangkuang tersebut. Untuk fasilitas umum sendiri sudah ada toilet dan juga Mushala yang lengkap. Ada pula tempat belanja yang juga sangat lengkap di sekitar candi. Para wisatawan harus membayar tiket masuk seharga 15 ribu untuk melihat dan mengambil foto atau gambar keindahan Candi Cangkuang tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *