10 Gambar Candi Ijo Jogja, Tiket Masuk Lokasi, Sejarah + Letak Peta Prambanan Yogyakarta

Posted on
Candi ijo jogja prambanan sunset tutup jam berapa sunrise rute sejarah alamat barong yogyakarta sleman buka wikipedia wonosari wikimapia wiki wajah weleri web website webtoon wisata entrance fee ratu boko review raja retribusi relief dari klaten royo tiket tebing breksi tample tarif tanjakan terdapat terletak temple tinggi tosca tokopedia denah yang bagus usul instagram images daerah istimewa informasi dibangun oleh piyungan pdf perpusnas peta peninggalan kerajaan puncak posisi lokasi legenda kalasan berbah lain letak lumut lucu lingga yoni kabupaten kalimantan selatan kecamatan keindahan kutukan kuliner gunung kidul kisah komplek koordinat kompleks jalan jawa tengah jembatan gantung juara juni jinak filosofi harga htm sore hari malam hutan humor histeris hotel dekat gambar google map maps gundukan giras gitar gowes foto fungsi fasilitas femina dan dimana sejarahnya desa sambirejo deskripsi download sambisari situs solo adalah arah artikel akses akulturasi abang afrika bercorak agama mitos magelang menuju mula misteri mojokerto night nama nembak negara news nusakambangan nomor telepon biaya berada bantul bayar bukit teletubbies vector video vidio com cerita ciri corak percandian hindu pesawat runway misterius
Pintu Masuk Candi Ijo. Foto: kompasiana.com

Lokasi: Sambirejo, Prambanan, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta 55572, Indonesia
Maps: Klik Disini
HTM: Gratis
Buka/Tutup: 07.30 – 17.00
Telepon: +62-274-496510

Jogjakarta menyimpan banyak cerita di dalamnya. Terutama penggalan kisah sejarah yang menyelimuti mantan ibukota Indonesia di jaman kemerdekaan ini. Bagi yang kerap mengunjungi kota Jogjakarta, tentu tidak asing dengan kawasan wisata sejarah yang bisa ditemukan di sini. Salah satunya adalah candi. Di Jogja terdapat kawasan wisata candi yang memberikan warna tersendiri.

Di sini para wisatawan bisa menemukan Candi Prambanan, Borobudur hingga Ratu Boko yang sangat terkenal di kalangan para wisatawan terutama mancanegara. Akan tetapi ada beberapa candi yang memiliki pesona tersendiri dan juga cerita sejarah yang berhubungan erat dengan perkembangan budaya di Jogjakarta. Salah satunya adalah Candi Ijo.

Gerbang Pintu Masuk ke Candi Ijo. Foto: yukpiknik.com

Mengenal Candi Ijo

Jika para wisatawan menyusuri area selatan dari kompleks Istana Ratu Boko tentu saja akan sangat mengasyikkan. Pasalnya di sini para wisatawan bisa melihat deretan candi yang unik dan juga memiliki ciri khas tersendiri. Dan salah satu candi yang bisa ditemui dan sedang menjadi perhatian para wisatawan dan juga masyarakat sekitar yaitu Candi Ijo. Candi ini letaknya berada di area yang paling tinggi di antara candi yang berada di lingkungan kawasan wisata Ratu Boko ini.

Candi Ijo menurut sejarahnya di bangun pada abad ke-9. Candi ini dibangun di atas bukit yang bernama Bukit Hijau atau Gumuk Ijo dengan ketinggian sekitar 410 m dari atas permukaan laut. Tentu saja letaknya yang berada di ketinggian, tentu saja membuat para wisatawan bisa melihat keindahan candi. Dan bukan hanya kemegahan candi saja yang bisa dinikmati oleh para wisatawan. Akan tetapi keindahan pemandangan alam yang berada di sekitar candi seperti areal pertanian yang memiliki sudut kemiringian yang sedikit curam serta pemandangan kota Jogja juga bisa dinikmati di sini.

Suasana Sunrise di Candi Ijo. Foto: yukpiknik.com

Bangunan Sakral di Candi Ijo

Kompleks dari candi ini sendiri terdiri dari 17 struktur bangunan yang dibagi menjadi 11 teras berundak. Di area teras pertama ini menjadi pintu gerbang halaman untuk menuju pintu masuk ke kawasan candi. Sementara teras berundak yang ada di arah barat ke timur ini juga menjadi pintu gerbang candi. Sedangkan di area teras ke-11 ini merupakan pagar keliling yang menutupi candi dari arah luar. Selain itu ada sekitar 8 buah lingga patok serta 4 bangunan candi utama serta 3 candi perwara. Peletakan bangunan di setiap teras tidak asal atau sembarangan meletakkannya. Ada nilai reliji dan juga kesakralan yang tertuang di dalamnya. Dan bangunan di area teras yang tinggi merupakan yang paling sakral.

Jika mengunjungi kawasan wisata sejarah ini, para wisatawan bisa melihat aneka macam bentuk seni rupa yang bisa ditemui semenjak pintu masuk bangunan yang termasuk ke dalam candi warisan agama Hindu ini. Tepat di pintu masuk terutama di bagian atasnya terdapat kala makara yang memiliki motif kepala ganda dan juga dilengkapi aneka atribut di dalamnya. Motif kepala ganda ini ternyata juga bisa dijumpai di aneka candi Buddha yang memberikan petunjuk bahwa candi ini adalah percampuran atau akulturasi dari kebudayaan Hindu dan Buddha. Dan bukan hanya Candi Ijo saja yang memiliki motif tersebut. Di Candi Ngawen, Plaosan dan Sari juga memiliki motif tersebut.

Kemegahan Candi Ijo. Foto: telusurindonesia.com

Di Candi Ijo ini juga terdapat arca yang memiliki bentuk sosok perempuan dan juga laki-laki yang melayang dan juga memberikan petunjuk arah. Ada beberapa makna yang tersirat dalam arca tersebut. Makna pertama dipercaya sebagai suwuk yang berfungsi untuk mengusir roh jahat di sekitar kota Jogja dahulu kala. Sementara makna kedua ini dipercaya sebagai lambang persatuan dari Dewa Siwa dan Dewi Uma. Persatuan ini dipercaya sebagai perwujudan dari alam semesta. Arca di Candi Ijo berbeda dengan di Candi Prambanan. Hal ini terlihat tidak ada motif atau corat erotisme seperti halnya di Prambanan dan Borobudur.

Sementara di candi perwara yang berada di teras ke-11, di sini para wisatawan bisa menemukan bak tempat api pengorbanan atau biasa di sebut homa. Di bagian atas dari bak bisa ditemukan adanya ventilasi atau lubang udara yang memiliki bentuk jajaran genjang dan juga segitiga. Bentuk yang tidak lazim. Bak tempat api pengorbanan ini semakin dipercayai bahwa masyarakat Hindu memuja Brahma di sekitar Candi ini. Tiga candi perwara ini sendiri memberikan informasi bahwa masyarakat jaman dulu menghormati Hindu Trimurti yang terdiri dari Brahma, Siwa, dan Whisnu.

Di kawasan wisata sejarah ini terdapat 2 buah prasasti yang berada di area teras ke-9. Salah satu prasasti ini memiliki kode dengan tulisan F yang memiliki tulisan Guywan atau Bluyutan yang mempunyai arti pertapaan. Prasasti lain yang ada di kawasan wisata ini terbuat dari batu dengan tinggi sekitar 14 cm dan juga tebal 9 cm. Di dalam prasasti ini terdapat mantra-mantra yang dipercaya sebagai kutukan. Mantra di dalam prasasti ini terdapat kata-kata sebanyak 16 kali yang tertulis jelas di sini. Sayangnya belum ada bukti apakah prasasti tersebut berpengaruh kepada situasi Jawa pada saat itu atau tidak.

Candi Utama di Kawasan Candi Ijo. Foto: jogja.co

Eksotisme Candi Ijo

Selain kisah sejarah yang ada di dalamnya, ternyata Candi Ijo memberikan pesona tersendiri. Para wisatawan bisa melihat pemandangan indah yang tentu saja bisa memanjakan setiap pengunjung yang datang. Jika melihat ke arah barat, para wisatawan bisa langsung melihat landasan Bandara Adisutjipto. Tidak perlu heran jika banyak pesawat berlalu lalang di sekitar kawasan Candi Ijo. Bahkan para wisatawan bisa melihat proses take off dan landing pesawat di sini.

Keindahan pemandangan dan panorama yang bisa didapatkan di sini memang cukup umum. Pasalnya kawasan wisata Candi Ijo ini merupakan batas bagian timur dari bandara Adisucipto ini. Dan disebabkan adanya Candi Ijo ini pula bandara internasional Jogja ini tidak bisa diperpanjang ke arah timur.

Tentu saja Candi Ijo ini menyuguhkan sesuatu yang sangat detail dan tentu saja menyajikan kisah sejarah dan juga keindahan candi yang siap memanjakan para wisatawan. Apalagi di candi ini sendiri banyak ditemukan karya seni rupa yang sangat hebat dan juga memberikan pandangan kepada masyarakat sekitar bahwa pesan moral yang disampaikan seni di candi ini sangat penting.

Bird View Candi Ijo. Foto: telusurindonesia.com

Akses ke Candi Ijo

Bagi para wisatawan yang ingin menikmati liburan yang berbeda dan ingin melihat pesona dari Candi Ijo, tentu saja harus ekstra hati-hati dan juga menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Candi Ijo ini berada di daerah Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman.

Akses yang sangat mudah untuk menuju ke kawasan wisata Candi Ijo ini dengan memasuki kawasan Jalan Solo yang menuju ke arah Pasar Prambanan. Jalur masuknya berada di seberang Kompleks Candi Prambanan. Dari arah pasar, para wisatawan lurus saja ke arah tenggara sekitar 7 km. Dan sudah ada papan petunjuk Candi Ijo dan juga Desa Wisata Nawung yang menandakan bahwa sudah dekat dengan candi ini. Bisa juga dengan menggunaka Google Maps. Para pengunjung hanya perlu mengikuti papan petunjuk untuk masuk ke gerbang Desa Sambisari. Dari sini perjalanan akan menanjak. Dan harus berhati-hati jika membawa kendaraan pribadi.

Untuk menuju ke kawasan wisata ini diperlukan waktu sekitar 1,5 jam untuk menuju ke kawasan candi dengan menggunakan mobil atau motor. Sementara untuk harga tiket masuknya sendiri gratis alias tidak dipungut biaya. Hanya saja masyarakat sekitar meminta sumbangan sukarela. Biasanya para wisatawan hanya perlu membayar parkir dan mengisi buku tamu di pos satpam.

Pesona Keindahan Candi Ijo. Foto: tribunnews.com

Sejarah Candi Ijo

Nama Candi Ijo ini sendiri diambil dari nama daerah dimana candi ini ditemukan. Candi ini berada di daerah Ijo yang terletak di dusun Groyokan, kelurahan Sambirejo. Minimnya informasi mengenai nama dari candi ini membuat masyarakat dan juga para arkeolog memberikan nama sesuai nama daerah ditemukannya candi ini.

Selain nama daerah, nama ijo juga diambil dari nama yang terdapat di dalam prasasti Poh yang berasal dari 906 Masehi.  Di dalam prasasti yang terdapat di kawasan wisata Candi Ijo ini, dikabarkan ada masyarakat yang berasal dari desa Ijo yang kala itu menghadiri upacara keagamaan. Oleh sebab itu diberi nama Ijo.

Kompleks Candi Ijo memiliki pola yang sedikit berbeda dibanding candi peninggalan Hindu lainnya. Menurut sejarah candi ini memiliki bentuk dengan pusatnya menuju  ke arah Timur.  Berbeda dengan rata-rata kompleks percandian yang akan berpusat ke seperti halnya candi Prambanan atau juga candi Sewu.  Konon hal ini dipengaruhi dengan adanya konsep penataan ruang yang memiliki sifat kosmis yang dipercaya bahwa pusat yang berbentuk puncak gunung  maru ini merupakan tempat tinggal para Dewa di agama Hindu.

Eksotisme Candi Ijo. Foto: piknikdong.com

Di kawasan wisata Candi Ijo ini, pola yang meninggi ke belakang seperti yang diperlihatkan di kawasan wisata Candi Ijo ini merupakan keunikan tersendiri. Pasalnya pola seperti yang dipertunjukkan oleh Candi Ijo ini lazim dijumpai di area Jawa Timur. Di Jawa Timur rata-rata candi memiliki pola yang meninggi ke bagian belakang.

Liburan ke Candi Ijo. Foto: jelajahjogja.com

Candi Ijo ini meski berbeda bentuk arsitekturnya, akan tetapi memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan para dewa yang mencerminkan bentuk karya arsitektur dan juga seni rupa yang menjadi ciri khas di abad ke 9 hingga abad ke-10 Masehi.  Didalam candi-candi tersebut tentu saja para wisatawan bisa melihat adanya beberapa arca-arca dewa yang memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Dan tentu saja menjadi tempat pemujaan bagi masyarakat pada masa tersebut.

Bahkan kitab India kuno menyatakan pemilihan Candi Ijo di kawasan wisata tersebut dan juga perletakan arca atau status dari candi ini memiliki peran yang sangat penting. Dan pemilihan area candi atau kuil ini sendiri ternyata sangat penting. Bahkan lebih penting daripada isi dari candi itu sendiri seperti prasasti atau arca yang ada di sini. Hal ini berhubungan dengan lahan  yang subur atau adanya sumber mata air di sekitar kawasan ini.

Suasana siang di Candi Ijo. Foto: javaindonesia.com

Tips Berlibur ke Candi Ijo

Mengunjungi kawasan wisata Candi Ijo tentu saja memberikan pengalaman tersendiri. Apalagi di sini para wisatawan bisa melihat keindahan candi dan juga mengenal sisi sejarah dari kota Jogja terutama di bidang seni, budaya dan juga reliji serta perkembangan masyarakatnya. Jika para wisatawan tertarik untuk mengunjungi Candi Ijo ada beberapa tips yang bisa diikuti.

Disarankan untuk mengunjungi Candi Ijo ini pada pagi atau sore hari. Pasalnya ketika siang hari cuaca akan sangat panas dan juga terik. Jarang terdapat pepohonan rindang di sekitar kawasan candi ini. Jika ingin mengunjungi Candi Ijo pada siang hari, disarankan untuk membawa topi atau penutup kepala serta kaca mata hitam. Pasalnya cuaca yang terik bisa membuat para wisatawan akan merasa pusing.

Jika hujan dengan intensitas yang tinggi, disarankan untuk tidak ke Candi Ijo. Akses yang curam dan menanjak bisa membahayakan para wisatawan terutama yang menggunakan kendaraan roda 2. Tunggu hingga reda dan tidak terlalu licin. Selain Candi Ijo, para wisatawan juga bisa mengunjungi Tebing Breksi yang letaknya tidak terlalu jauh dari kawasan wisata candi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *