10 Foto Patung Kuda Arjuna Wijaya / Wiwaha, Teknik Pembuatan, Ukuran + Fungsi

Posted on
Patung arjuna wijaya jakarta boyolali dan keterangannya dibuat oleh beserta penjelasannya ukuran makna wijaya asta brata atau apresiasi arti aliran alamat asal usul cara pembuatan fungsi foto gambar jumlah kuda keterangan keunikan lokasi latar belakang misteri simbolik dari seniman yang membuat media nama pembuat peresmian pengertian pencipta bahan proses renovasi sejarah teknik tentang tahun wikipedia
Patung Kuda Arjuna Wijaya, Foto: news.csr.id

Alamat: Jl. Medan Merdeka Barat RT05/RW02, Gambir, Jakarta Pusat 10110
Map: Klik Disini
HTM: Gratis (tidak dipungut biaya)
Buka/Tutup: 24 jam
Telepon:

Siapa yang tidak mengenal Patung Arjuna Wijaya? Masyarakat Jakarta pasti familiar dengan patung yang satu ini. Patung dengan artistik seni yang tinggi dan dikelilingi oleh air mancur di sekitarnya. Tidak jarang dari masyarakat Jakarta yang mengabadikan keindahan artistik Patung Arjuna Wijaya dengan memotret atau berselfie ketika sedang melintasi patung ini. Patung yang juga disebut dengan Patung Arjuna Wiwaha atau Patung Asta Brata ini terletak di ujung selatan Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat atau di sebelah utara bundaran air mancur ujung Jl. MH Thamrin. Patung Arjuna Wijaya juga didirikan di Taman Siaga atau yang lebih dikenal sebagai simpang limanya Boyolali, tepatnya berada di lokasi Jl. Pandanaran, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Patung Arjuna Wijaya sendiri kini telah menjadi ikon kota Boyolali.

Teknik Pembuatan, Foto: kompas.com

Patung Arjuna Wijaya menggambarkan sosok seorang Arjuna dan Batara Kresna dalam kisah klasik Mahabharata yang tengah berkendara di atas kereta kuda dalam perang Baratayudha, melawan Adipati Karna. Patung Arjuna Wijaya ini memiliki arti bahwa hukum harus ditegakkan tanpa memandang bulu. Sejarah misteri dibalik arti tersebut adalah terjadinya perang Baratayudha yang mempertemukan kubu Pandawa melawan kubu Kurawa. Arjuna beserta Batara Kresna berasal dari kubu Pandawa. Arjuna harus melawan Adipati Karna, saudaranya sendiri. Awalnya, Arjuna ragu untuk melawan saudaranya swndiri, Adipati Karna. Namun, demi kebaikan orang banyak, dia harus menentukan sikap untuk mengalahkan Adipati Karna yang berada di pihak Kurawa.

Lokasinya Strategis, Foto: wikimedia.org

Asal usul atau latar belakang didirikannya Patung Arjuna Wijaya adalah saat Presiden Soeharto melakukan kunjungan ke Turki pada tahun 1987. Disana, Soeharto melihat banyak monumen atau patung yang mengandung cerita masa lalu di dalamnya, di sekitar jalan-jalan protokol Turki. Presiden Soeharto sadar bahwa hal tersebut tidak ia jumpai di jalan-jalan protokol di Jakarta. Soeharto pun mulai menggagas pembangunan sebuah monumen yang mengandung filsafat Indonesia. Bersama dengan Nyoman Nuarta, seorang seniman patung asal Bali, yang menggagas kisah perang Baratayudha sebagai ide untuk membuat patung sekaligus sebagai pembuat patung, maka Patung Arjuna Wijaya selesai dibangun dan peresmian dilakukan pada tanggal 16 Agustus 1987.

BacaJuga:  10 Foto Pulau Air Kepulauan Seribu Jakarta + Dimana Resort Wisata Besar
Paling Populer, Foto: jakarta.go.id

Arjuna Wijaya memiliki pengertian sebagai ungkapan nama atas kemenangan Arjuna dalam membela kebenaran dan keberaniannya, secara simbolik memberikan apresiasi terhadap sifat-sifat kesatriannya. Jumlah delapan ekor kuda yang menarik kereta perang memiliki makna sebagai lambang Asta Brata (delapan falsafah hidup seorang pemimpin dalam ajaran Hindu Jawa) yaitu Matahari (Surya Brata) yang bermakna bahwa seorang pemimpin harus memberi semangat, kekuatan, dan kehidupan bagi rakyatnya, Bumi (Kuwera Brata) yang bermakna bahwa seorang pemimpin harus memiliki watak yang jujur, teguh, dan murah hati kepada rakyatnya, Api (Agni Brata) yang bermakna bahwa seorang pemimpin harus tegas dan berani dalam menegakkan keadilan dan kebenaran, Bintang (Yama Brata) yang bermakna bahwa seorang pemimpin harus menjadi contoh dan teladan bagi rakyatnya, Samudra (Baruna Brata) yang bermakna bahwa seorang pemimpin harus luas, menimbang persoalan sebelum memutuskan, Angin (Bayu Brata) yang bermakna bahwa seorang pemimpin harus dekat dengan rakyat tanpa membedakan derajat dan martabatnya, Hujan (Indra Brata) yang bermakna bahwa seorang pemimpin harus berwibawa dan mampu mengayomi rakyatnya, dan Bulan (Chandra Brata) yang bermakna bahwa seorang pemimpin harus mampu memberi penerangan dan membimbing rakyatnya yang berada dalam kegelapan.

Fakta dan Kisah Dibalik Patung-patung di Jakarta, Foto: dzargoninfo.blogspot.com

Teknik Pembuatan Patung Arjuna Wijaya

Proses pembuatan Patung Arjuna Wijaya pertama kali dimulai dengan proses pembuatan gambar sosok Arjuna dan Batara Kresna yang mengendarai kereta kuda dengan berjumlahkan delapan ekor kuda. Kemudian dilanjutkan dengan proses pembuatan maket. Setelah itu, dilakukan proses pembuatan model patung. Tahap selanjutnya adalah dilakukan proses pencetakan. Setelah selesai cara di atas, dilanjutkan dengan proses pengecoran menggunakan fiber. Setelah pengecoran pertama selesai dilanjutkan dengan pengecoran menggunakan bahan tembaga.

Menghiasi Kota, Foto: kratonpedia.com

Proses pembangunan Patung Arjuna Wijaya dibuat oleh Nyoman Nuarta dengan dibantu oleh 40 pekerja seniman lainnya. Menurut keterangannya, Nyoman Nuarta, pembangunan patung ini telah menghabiskan biaya sekitar 290 hingga 300 juta rupiah sesuai harga pada tahun 1987.

BacaJuga:  15 Restoran di Ancol Yang Murah Bagus Romantis Enak : Tempat Makan Dalam Pesawat, Beach City Mall, Le Bridge
Patungnya Cantik, Foto: her814.wordpress.com

Patung Arjuna Wijaya ini sempat mengalami renovasi pada awal Oktober 2014 dan patung ini diresmikan kembali pada tanggal 11 Januari 2015 oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dengan didampingi Nyoman Nuarta, selaku pencipta Patung Arjuna Wijaya dan jajaran direksi Bank OCBC, selaku pihak yang melakukan renovasi. Berdasarkan penjelasannya, Bank OCBC, mereka turut serta mengambil peran dalam melakukan renovasi Patung Arjuna Wijaya dengan harapan agar elemen estetika kota Jakarta akan senantiasa tampil indah, prima, dan terpelihara. Pasca renovasi, Patung Arjuna Wijaya mengalami beberapa perubahan seperti adanya penambahan bayangan gerak kuda, perbaikan instalasi air mancur, dan penempatan tempat untuk berpose di bagian depan patung. Dengan adanya tempat untuk berpose, masyarakat Jakarta bebas berekspresi dan berfoto ria di bagian depan Patung Arjuna Wijaya.

Salah Satu Ikon Kota Jakarta, Foto: faculty.ece.illinois.edu

Ukuran dan Fungsi Patung Arjuna Wijaya

Patung Arjuna Wijaya memiliki panjang total 25,8 meter dengan panjang patung 25,77 meter dan sisanya dengan panjang 0,03 meter. Untuk tingginya, figur kuda memiliki tinggi 2,87 meter dan figur Arjuna memiliki tinggi 2 meter. Patung Arjuna Wijaya ini dibangun dengan total lebar 2,8 meter dimana barisan kuda memiliki lebar 2,1 meter dan sisanya dengan lebar 0,7 meter.

Kisah Pembuatan Patung Arjuna Wijaya, Foto: tribunnews.com

Patung Arjuna Wijaya dibuat dengan menggunakan media bahan tembaga dan kuningan. Pewarnaan untuk patung ini menggunakan patina. Sedangkan rangka pada patung ini dirangkai menggunakan stainless steel. Berat total pada Patung Arjuna Wijaya sekitar kurang lebih 3,5 ton. Aliran karya pada Patung Arjuna Wijaya ini bersifat representatif.

Patung Arjuna Wijaya sendiri mempunyai fungsi sebagai monumen yang mengandung filsafat atau cerita masa lalu Indonesia dengan mengambil gambaran perang Baratayudha, peperangan dahsyat antara keturunan Barata di Padang Kurusetra. Saat diresmikan pertama kali pada tahun 1987, patung ini dijadikan sebagai hadiah dari Gubernur DKI Jakarta kepada warga DKI dan juga bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-42 yang akan dirayakan keesokan harinya.

BacaJuga:  15 Restoran di Taman Anggrek Jakarta Enak Murah : Tempat Makan Unik Baru Favorit
Di Pusat Kota Jakarta, Foto: panoramio.com

Keunikan yang dapat dilihat dari sisi Patung Arjuna Wijaya adalah di bawah patung yang menghadap ke arah selatan ini, terdapat prasasti yang bertuliskan “Kuhantarkan kau melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan yang tiada mengenal akhir”. Konsep efek transparan pada kuda memberikan kesan ringan dan menyatu dengan latar belakang langit. Fogging yang dilakukan memberikan kesan bahwa barisan patung kuda seolah berlari di atas awan. Pada malam hari, efek gerak yang berasal dari paduan antara bayangan-bayangan patung dan efek fogging serta diperkuat oleh efek lighting yang diarahkan tepat ke objek dan efek bayang-bayang patung membuat suasana sekitar menjadi lebih indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *