Berapa Jumlah Anak Tangga Pura Lempuyang? Simak ini

Diposting pada
Pura lempuyang luhur bali sejarah madya temple jalan menuju map karangasem asal usul lokasi gambar foto denah tinggi gunung kabupaten door indonesia tiket masuk tour in puerta en from ubud lempuyangan karang asem agung dasar adalah address ayu tripadvisor penataran pasar alamat wikipedia location letak climb cerita dimana
gambar by @hvley

Lokasi: Bunutan, Abang, Seraya Bar., Kec. Karangasem, Kabupaten Karangasem, Bali 80852
Map: Klik Disini
HTM: Rp.5.000 per Mobil
Buka Tutup: 24 Jam
Telepon:

Bali merupakan salah satu pulau yang dimiliki oleh Indonesia. Warga pulau ini mayoritas beragama Hindu. Tak mengherankan jika sangat mudah ditemui pura-pura di sini. Kebudayaan yang sangat kuat adalah ciri khas dari Pulau Bali.

Banyak sekali arsitektur yang sangat unik dan tentu hanya bisa ditemui di pulau ini. Warganya yang ramah serta keindahan alam yang dimilikinya membuat pulau ini sering menjadi destinasi wisata.

Baik dari wilayah dataran tinggi hingga wilayah pesisirnya, keindahan alam Pulau Bali seakan tak terbatas.

Pengunjungnya pun juga tidak tanggung-tanggung, wisatawan mancanegara juga terlena dengan keindahan alam serta kebudayaan yang ada di Pulau bali.

Pura-pura di Pulau Bali juga sering dikunjungi wisatawan. Salah satu pura ini adalah Pura Lempuyang. Sebelum membahas lebih jauh mengenai pura ini sebagai destinasi wisata, mari membahas terlebih dahulu mengenai sejarahnya.

Asal Usul Nama

Lempuyang Madya dari Kejauhan (foto: dwimistyriver.wordpress.com)
Lempuyang Madya dari Kejauhan (foto: dwimistyriver.wordpress.com)

Setiap penamaan suatu tempat terkadang memiliki makna atau arti tersendiri atau memiliki dasar penamaan, tidak terkecuali Pura Lempuyang.

Nama pura ini berasal dari dua kata yaitu lampu dan hyang. Lampu memiliki arti sinar dan hyang memiliki arti penyebutan Tuhan. Dua kata ini bersatu menjadi lempuyang yang berarti sinar suci Tuhan yang terang-benderang.

Namun, arti kata lempuyang ini juga ternyata ada versi lainnya. Ada yang menyebutkan jika lempuyang merupakan tanaman yang dipakai sebagai bumbu masak. Nama ini juga terkait dengan nama banjar di sekitar pura ini yaitu Bajar Bangle dan Gamongan.

Bangle dan Gamongan adalah tanaman obat yang juga digunakan sebagai bumbu masakan.

Namun ada juga yang menyebutkan jika lempuyang adalah Bhatara Hyang Pasupati yang mengutus tiga putranya untuk turun guna menjaga kestabilan Bali dari berbagai guncangan bencana alam.

Dari versi ini disebutkan jika lempuyang berasal dari kata empu atau emong yang memiliki arti menjaga.

Sejarah dan Legenda

Mengacu pada Lontar Utara Kanda Dewa Purana Bangsul yang menyatakan bahwa Sang Hyang Parameswara membawa gunung-gunung yang ada di Bali dari jambudwipa yaitu di India ke Gunung Mahameru.

Potongan-potongan Gunung Mahameru tersebut dibawa ke Bali dan dipecah kembali menjadi tiga buah bagian besar, kemudian dipecah kembali menjadi bagian-bagian kecil.

Bagian tengah menjadi Gunung Batur dan Rinjani sedangkan pada puncaknya menjadi Gunung Agung, yang dimana Gunung Agung sekarang ini adalah gunung tertinggi di Pulau Bali.

Pecahannya yang jauh lebih kecil menjadi deretan gunung-gunung yang berhubung satu sama lain.

Gunung-gunung yang berhubungan ini antara lain Gunung Pengalengan, Beratan, Nagaloka, Pulaki, Puncak Sangkur, Bukit Rangda, Trate Bang, Padang Dawa, Andhakasa, Sraya, Uluwatu, Tapsahi dan Gunung Lempuyang.

Gunung-gunung yang telah disebutkan tadi digunakan sebagai istana para dewa manifestasi Tuhan untuk menjaga Bali dalam kepercayaan agama Hindu.

Cuacanya Cerah, Pemandangannya Indah (foto: tempatwisatadibaliii.blogspot.co.id)
Cuacanya Cerah, Pemandangannya Indah (foto: tempatwisatadibaliii.blogspot.co.id)

Dilanjutkan bahwa Sang Parameswara menugaskan putranya yang bernama Sang Hyang Agni Jaya Sakti guna turun ke Bali dengan tujuan menjaga kesejahteraan Pulau ini.

Dan putra dari Sang Parameswara ini ber-stana di Gunung Lempuyang bersama dengan dewa dewa lainnya sesuai dengan kepercayaan umat Hindu.

Beranjak ke tahun 1950 terdapat suatau hal yang baru yaitu tumpukan batu serta sanggar Agung yang dibuat dari pohon hidup yang didirikan di sekitar Pura Lempuyang. Dulu terdapat sebuah pohon Sidhakarya yang sangat besar akan tetapi saat ini sudah tidak ada lagi.

Pohon tersebut dulunya berada di bagian timur. Keberadaan pohon ini hilang karena diduga pohon tersebut tumbang atau mati secara perlahan tanpa ada generasi baru yang menggantikannya.

Beranjak ke tahun 1960 dibangunlah dua padma kembar dan sebuah padma tunggal bale piyasan di lokasi pura ini.

Pura Lempuyang Luhur bukan seperti pura pada umumnya. Menurut kepercaaan umat Hindu Bali, pura ini memiliki status yang penting sama seperti dengan Pura Besakih.

Umat Hindu memiliki kepercayaan bahwa baik dalam konsep Padma Bhuana Catur Lokapala ataupun Dewata Nawa Sanga, pura ini sudah disebutkan di berbagai sumber Lontar atau prasasti-prasasti kuno.

Terdapat tiga pura besar yang selalu disebutkan di prasasti tersebut, yakni Pura Ulun Danu Batur, Pura Besakih dan tentunya Pura Lempuyang.

Aturan yang Harus Diketahui

Oleh karena itu, karena sifatnya yang memang suci atau sangat disakralkan bagi umat Hindu Bali, maka terdapat pantangan-pantangan yang harus diketahui oleh para wisatawan sebelum memasuki door Pura Lempuyangan.

Hal ini harus dilakukan, karena menurut kepercayaan umat Hindu jika melanggar pantangan tersebut maka akan berdampak buruk bagi si pelanggar. Jika kita melihat dari sisi agama maka kita tidak boleh mencampurkan norma-norma yang ada di agama lain ke agama kita.

Oleh karena itu, diambil jalan tengah layaknya kita memasuki masjid.

Alangkah baiknya kita menggunakan jilbab dan lain sebagainya atau dengan kata lain mengikuti dan melakukan apa yang harus dilakukan sebelum memasuki masjid ataupun gereja maupun tempat-tempat ibadah yang lain.

Tetapi adanya kepercayaan dampak buruk jika kita melanggar tidak harus dipercayai, namun dalam batas toleransi atau mematuhi peraturan yang ada saja. Berikut ini adalah beberapa pantangan atau aturan yang harus dipatuhi sebelum memasuki pura.

  1. Tidak boleh berkata kasar saat perjalanan
  2. Sejak awal pikiran perkataan dan perbuatan harus disucikan atau diluruskan
  3. Wanita haid, sedang menyusui, orang cuntaka, anak yang belum tanggal gigi susu, alangkah baiknya tidak masuk ke pura atau bagi yang beragama Hindu tidak melakukan sembahyang di pura
  4. Membawa makanan ataupun makan daging babi saat berada di pura
  5. Tidak boleh membawa perhiasan yang terbuat dari emas karena menurut informasi yang beredar perhiasan tersebut sering kali hilang secara misterius

Objek Wisata Menarik

Setelah kita membahas bersama mengenai sejarah asal usul dan pantangan-pantangan sebelum memasuki area Pura Lempuyang, maka saatnya kita membahas Pura Lempuyang sebagai tujuan wisata Bali yang harus dimasukkan di daftar tempat yang harus dikunjungi.

Berwisata di Bali tanpa mengunjungi Pura Lempuyang seakan belum lengkap rasanya, karena di pura ini kita dapat melihat keindahan Gunung Lempuyang yang mengerucut dan pemandangannya sangat pas ketika dilihat dari gapura pura ini.

Panorama gunung yang ayu dapat membius mata, serta udara yang sejuk menjadi pesona utama yang ditawarkan dari Pura Lempuyang Luhur.

Belum diketahui secara pasti, siapa yang mengklaim bahwa Pura Lempuyang merupakan pura tertua yang ada di Bali, namun terdapat dugaan bahwa pura ini sudah ada sejak zaman Pra Hindu Budha.

Anak Tangga di Pura Lempuyang (foto: liapicauly.wordpress.com)
Anak Tangga di Pura Lempuyang (foto: liapicauly.wordpress.com)

Berkunjung ke Pura Lempuyang juga memaksa diri kita untuk berolahraga karena kita harus menapaki tangga dengan jumlah anak tangga sebanyak lebih dari 1.700 buah anak tangga. Memang jika kita membayangkan jumlahnya itu adalah jumlah yang cukup banyak.

Namun ketika kita menapaki anak tangga hingga ke menuju puncaknya, maka hal itu akan terbayarkan dengan suara satwa, udara yang sejuk serta pemandangan alam akan menjadi gaji yang tak ternilai harganya.

Sesampainya di atas maka dapat berfoto dan tentu menghasilkan gambar yang indah.

Kera-kera liar juga bergelantungan di pohon-pohon, ketika kita sedang menapaki anak tangga.

Ini merupakan sebuah paket olahraga yang menyenangkan, karena tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan, namun juga mendapatkan kepuasan batin dengan melihat keindahan alam dari sang Maha Pencipta yang dititipkan di daerah sekitar pura ini.

Cerita Masyarakat Sekitar

Terdapat sebuah cerita yang unik yang beredar di kalangan masyarakat sekitar. Cerita ini menyatakan bahwa jika di ujung timur pulau Bali terdapat sebuah cahaya terang yang muncul dan hanya terlihat dari luar angkasa.

Masyarakat sekitar percaya bahwa sinar terang atau cahaya terang tersebut adalah datang dari arah gunung Lempuyang.

Terbagai Menjadi Tiga Mandala

Pura Lempuyang bukanlah satu bagian utuh, melainkan terbagi lagi menjadi tiga Mandala. Tiga Mandala ini antara lain Lempuyang Sor, Lempuyang Madya dan Lempuyang Luhur.

Jika mengacu pada Lontar Markandeya Purana, pura ini didirikan oleh Rsi Markandeya pada sekitar abad ke-8 Masehi.

Tujuan pembangunan ini adalah sebagai tempat ibadah tentunya sekaligus untuk menyebarkan ajaran Hindu di Pulau Bali khususnya di daerah sekitar pura ini.

Candi Penataran di Pura Lempuyang

Candi Penataran (foto: lilianlau.com)
Candi Penataran (foto: lilianlau.com)

Di Pura Lempuyang juga terdapat sebuah temple yang bernama Candi Penataran. Candi ini terbilang sangat unik dan tentunya memiliki pemandangan yang indah. Untuk sampai ke Candi ini juga harus menyusuri anak tangga jadi mari berolahraga lagi.

Candi ini memang menjadi salah satu denah dari Pura Lempuyang dan terpilih menjadi salah satu candi yang tertinggi di Bali.

Berdasarkan informasi dari Wikipedia dan Tripadvisor, candi ini terletak di ketinggian 600 meter diatas permukaan laut dan lokasinya berada di lereng gunung Lempuyang.

Ritual di Pura Lempuyang

Ritual di Pura Lempuyang (foto: wisatabali2010.wordpress.com)
Ritual di Pura Lempuyang (foto: wisatabali2010.wordpress.com)

Pura merupakan tempat ibadah, oleh karena itu Pura Lempuyang tidak lepas dari ritual-ritual ibadah. Terdapat beberapa ritual ibadah yang ada di Pura Lempuyang.

Ritual ini seperti ritual piodalan atau puja wali yang ditujukan untuk merayakan kelahiran pura yang dilakukan setiap 6 bulan sekali, yakni satu hari setelah Galungan atau setiap Waraspati atau hari Kamis.

Tips Sebelum Mengunjungi

Bagi para wisatawan yang memang ingin sekali berkunjung ke Pura Lempuyang maka diharuskan memiliki ketahanan fisik.

Tentunya hal ini berkaitan juga dengan umur, karena untuk mencapai puncaknya seperti yang diketahui harus menaiki anak tangga yang berjumlah 1.700 anak tangga.

Olahraga ringan sebelum berkunjung ke pura ini, seharusnya atau sepatutnya dilakukan karena agar terdapat pemanasan dari sendi-sendi serta otot tulang kita.

Mungkin ini yang Dirasakan

Umat Hindu sedang Bersembahyang (foto: tripadvisor.co.id)
Umat Hindu sedang Bersembahyang (foto: tripadvisor.co.id)

Pura Lempuyang tentu menjadi pura yang sangat disakralkan bagi warga Hindu khususnya di daerah Bali. Hal ini dikarenakan untuk bisa sembahyang di pura ini maka umat Hindu harus berjuang menapaki anak tangga.

Bisa dibilang ini merupakan salah satu perjalanan spritual yang menantang serta menjadikan sebuah pengalaman yang menarik bagi setiap umat yang beragama Hindu. Tidak hanya melakukan kegiatan ibadah melainkan juga dapat merasakan alam lebih dekat.

Hutan yang Masih Terjaga

Berbagai jenis tumbuhan dapat tumbuh dengan subur di daerah sekitar kawasan ini.

Ciutan serta kicauan burung seakan menjadi sebuah irama yang sangat susah ditemukan di daerah perkotaan.

Dan tentunya setiap orang pasti tidak akan pernah menolak bahwa suara alam dari kicauan dan cuitan tersebut merupakan melodi yang dapat membuat suasana menjadi nyaman.

Hijaunya Hutan (foto: reservasi.com)
Hijaunya Hutan (foto: reservasi.com)

Kawasan hutan yang juga terjaga dengan baik tentunya menjadi sebuah pemandangan yang sangat memukau.

Apalagi masih terdapat kera-kera liar yang bebas bergelantungan, bermain kesana kemari, meloncat, seakan tanpa batas, tidak ada yang melarang.

Alam di sini masih menyediakan ruang bagi satwa-satwa untuk mengekspresikan segala bentuk aktivitasnya dengan bebas.

Keindahan yang Tak Terbantahkan

Sunrise di Pura Lempuyang (foto: adventurestep.com)
Sunrise di Pura Lempuyang (foto: adventurestep.com)

Keindahan Pura Lempuyang sudah tidak dapat terbantahkan lagi. Terdapat beberapa dan mungkin sudah ribuan pendapat dari orang-orang yang pernah mengunjungi Pura Lempuyang, bahwa Pura Lempuyang memang menawarkan suatu hal yang sangat khas.

Hal ini bisa diketahui dari beberapa website ataupun situs yang memang menawarkan atau memberikan informasi kepada orang lain dengan pendapat-pendapat orang dari suatu tempat wisata salah satunya seperti TripAdvisor.

Cocok Bagi Pecinta Alam

Berkunjung ke Pura Lempuyang merupakan hal yang harus dilakukan bagi para pecinta climbing. Walaupun pendakian di sini sebenarnya bukan pendakian yang menaiki lereng, melainkan lebih mengarah ke mendaki anak tangga.

Walaupun sensasi yang ditawarkan berbeda, tetapi yang pasti risiko juga jauh lebih minim serta pemandangan juga dapat dinikmati dengan nyaman.

Jalan Menuju Lokasi

Dikala Mentari Malu (foto: indonesia.tripcanvas.co)
Dikala Mentari Malu (foto: indonesia.tripcanvas.co)

Pura Lempuyang dapat ditempuh sekitar 2 jam dengan mobil dari pusat Kota Denpasar. Pura ini terletak di Desa Tista, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali.

Untuk mencapai pura ini maka dapat melalui kawasan wisata Candi Dasa yang melewati kota Amlapura.

Terdapat jalan lain untuk menuju ke pura ini. Jalur lain ini yaitu melalui Kecamatan Selat Karang asem kemudian melalui kota Semarapura dan mengambil arah ke Jalan Besakih.

Selain itu juga bisa diakses dari tour in puerta en from ubud di address atau alamat atau location pura ini.

Harga Tiket Masuk

Harga tiket masuk Pura Lempuyang sebenarnya tidak ada, melainkan hanya digantikan sebagai biaya parkir. Biaya parkir di sini adalah Rp. 5.000 per mobil.

Jadi sebelum sampai ke Pura Lempuyang maka wisatawan harus berjalan dari tempat parkir kemudian menyusuri anak tangga sebanyak 1.700 anak tangga dan barulah sampai ke Puncak Pura Lempuyang.

Aspek Kesejarahan yang Belum Valid

Memang di awal kita sudah menjelaskan mengenai sejarah asal usul ataupun hal-hal yang berkaitan dengan Pura Lempuyang. Namun keakuratan data ini memang belum dapat dipastikan secara pasti.

Tetapi dari informasi yang beredar dan informasi yang telah disebutkan di atas adalah yang paling sering diutarakan oleh orang-orang. Namun yang jelas pura ini memiliki keindahan alam yang luar biasa serta nuansa alam yang masih begitu terasa.

Memang memahami sejarah dari berdirinya suatu tempat merupakan sebuah hal yang amat penting karena kita bisa mengetahui alasan dari berdirinya tempat itu.

Tetapi hal ini telah disebutkan pada informasi yang telah diatas bahwa tujuan pura ini adalah statusnya sebagai tempat sembahyang dan menyebarkan ajaran Hindu.

Walaupun informasi ini belum dapat dijadikan sebagai acuan yang paling benar karena informasi dari sejarah ataupun asal-usulnya diambil dari beberapa sumber yang kemudian dirangkum menjadi satu.

Semua catatan di atas adalah data terakhir pada saat tulisan ini dibuat. Jika ada perubahan terbaru yang Kamu ketahui, silakan informasikan kepada kami pada kolom komentar di bawah ini ya. Begitu juga jika ada yang salah, punya kritik dan saran. Terima kasih.

One thought on “Berapa Jumlah Anak Tangga Pura Lempuyang? Simak ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.