10 Gambar Taman Sari di Jogja (Yogyakarta Wisata) Harga Tiket Masuk Lokasi, Sejarah Mitos + Alamat

Posted on
Taman sari jogja buka jam alamat adalah istana berapa sampai tempat wisata angker arah quiling tanjungsari queensland wikipedia wiki yogyakarta water castle pre wedding wuluhan jember wonosobo wonosari entrance fee in english review rute resto rawang rasa retribusi rumah makan dekat dari malioboro riwayat ringgung tiket masuk tutup tempo dulu masjid bawah tanah terletak tentang di stasiun tugu tower tol cipali asal usul angkutan umum isi is bahasa inggris peta pantai pemandian perumahan purimas puri pintu pontianak lokasi letak lorong denah sejarah kraton kisah kuliner kampung batik keraton yogya kunjung komplek kontak jaman jalan naik trans harga royal heritage htm spa history opening hours hotel google map gambar goa tarif guide sumur gumuling fitness foursquare farm fasilitas festival fungsi filosofi foto dimana description deskripsi singkat sekitar situs soto tamansari akses artikel area amarta apartemen ada apa animasi mekarsari menuju murah mitos misteri pasar ngasem nusa dua nusantara nilam nitako niaga biaya benteng berkunjung booking body peeling horor cottages pemuteran kebun ngayogyakarta raya bogor air spot
Taman Sari Jogja (foto: apriliaerlita.wordpress.com)

Lokasi: JL.Komplek Taman Sari, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 55133
Map: KlikDisini
HTM: Wisatawan lokal Rp.5.000, Wisatawan Manca Rp.12.000
Buka/Tutup: 08.00 – 17.00 WIB

Gaya arsitektur unik yang memadukan arsitektur Jawa dengan Portugis menjadi daya tarik utama dari Taman Sari Keraton Yogyakarta atau Taman Sari Jogja, sehingga meski kondisinya sudah tidak utuh lagi sebagaimana saat difungsikan dulu, namun tetap mengundang perhatian para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun manca.

Terlebih, meskipun landmark ini merupakan bagian dari bangunan Keraton Yogyakarta, gaya arsitektur yang diusung berbeda dengan bangunan utama, baik dari sisi artistik maupun sisi fungsionalitas, karena Taman Sari lebih tematik dengan menonjolkan bagian pemandian yang membuatnya mendapat julukan Water Castle atau Istana Air.

Istana Air Taman Sari Jogja (foto: noyvesto.net)

Perbedaan itulah yang membuat para wisatawan yang telah berkunjung ke Keraton Yogyakarta masih merasa belum lengkap sebelum singgah ke Taman Sari, karena apa yang disuguhkan Taman Sari memang berbeda dengan yang ada di Keraton Jogja.

Selain itu, banyaknya pengunjung yang memenuhi Taman Sari setiap harinya, terlebih pada saat weekend dan musim liburan, juga disebabkan karena lokasi landmark ini memang cukup strategis yaitu di JL.Komplek Taman Sari, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta yang sejak dulu hingga kini dijadikan sebagai tempat rekreasi. Hanya saja pada jaman dahulu tidak hanya sekedar menjadi tempat rekreasi, tapi juga difungsikan sebagai benteng pertahanan.

Halaman Taman Sari Jogja (foto: manusialembah.blogspot.co.id)

Untuk berkunjung ke Taman Sari juga tidak sulit, karena dari Keraton Jogja jaraknya hanya sekitar 1 km, tepatnya di dekat alun-alun Selatan Yogyakarta. Jika berangkat dari Jalan Malioboro tinggal membawa kendaraan menuju ke arah Keraton atau Alun-alun Utara Jogja, selanjutnya mengambil jalan yang ada di Barat Alun-alun. Saat bertemu dengan perempatan pertama, ambil jalan yang berbelok ke kiri dan ikuti jalan tersebut hingga tiba di lokasi.

Jika tidak ingin repot, Anda bisa menitipkan kendaraan di tempat parkir Keraton yang lokasinya di sebelah Timur Alun-alun, kemudian naik becak dengan tarif Rp.10.000 – Rp.15.000. Di atas becak disepanjang jalan menuju Water Castle, Anda bisa menikmati keindahan bangunan-bangunan kuna yang menghiasi beberapa titik jalan.

Gerbang Masuk Istana Air Taman Sari Jogja (foto: blog.reservasi.com)

Taman Sari yang dibuka untuk umum pada jam 08.00 – 17.00 WIB ini, menarik tiket masuk seharga  Rp.5.000 untuk wisatawan lokal dan Rp.12.000 untuk wisatawan asing. Jika ingin mengetahui lebih lengkap sejarah Taman Sari dan fungsi dari setiap bangunan yang ada di tempat ini, Anda dapat menyewa pemandu wisata dengan tarif Rp.25.000 – Rp.30.000. Pastikan guide yang memandu kunjungan Anda berlisensi, karena tidak sedikit pemandu wisata di Taman Sari yang tidak memiliki lisensi, sehingga informasi yang disampaikannya bertolak belakang dengan fakta sejarah dan cenderung menyampaikan cerita-cerita bombastis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Sejarah Sekilas Taman Sari Jogja

Situs bersejarah ini, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I sekitar tahun 1758 – 1765. Awalnya, taman yang berjuluk “The Fragrant Garden” ini luasnya 10 hektar lebih dengan jumlah bangunan yang berdiri di atasnya sebanyak 57 bangunan, yang meliputi gedung, kolam pemandian, danau serta pulau buatan beserta lorong bawah air, kanal air, jembatan gantung dan beberapa jenis bangunan yang lain.

Taman Sari Pada Tahun 1859 (gambar: C.Buddhing)

Taman Sari yang secara efektif dimanfaatkan sekitar tahun 1765 – 1812, konon dibangun di atas puing-puing Pesanggrahan Garjitawati atau bekas keraton lama yang didirikan dan dimanfaatkan oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai peristirahatan kereta kuda yang akan dibawa ke Imogiri.

Seluruh biaya pembangunan Taman Sari ditanggung oleh Tumenggung Prawirosentiko yang kala itu  menjabat sebagai Bupati Madiun. Sebagai imbalannya, penduduk Madiun dibebaskan dari kewajiban membayar pajak.

Pimpinan proyek pembangunan Taman Sari, awalnya dipegang oleh Tumenggung Mangundipuro. Namun ditengah jalan dia mengundurkan diri sehingga diganti oleh Pangeran Notokusumo. Sedang yang bertindak selaku arsitek adalah seorang berkebangsaan Portugis yang dikenal dengan nama Demang Tegis. Karena itulah gaya arsitektur dari Taman Sari merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Jawa dan Portugis.

Tempat Tidur Sultan di Taman Sari Jogja (foto: TripAdvisor)

Meski fungsi utama dari Taman Sari sebagai taman istana, namun jika dilihat dari model bangunannya juga difungsikan sebagai benteng pertahanan terakhir, manakala istana mendapat serangan dari musuh. Kedua fungsi yang menyatu dalam satu wujud bangunan tersebut, menjadikan landmark ini memiliki nilai lebih dibanding bangunan-bangunan kuna yang lain, utamanya yang ada di Yogyakarta.

Kompleks Taman Sari terbagi atas 4 bagian, yaitu: danau beserta pulau buatan di sisi sebelah Barat, Pemandian Umbul Binangun di sebelah Selatan danau buatan, Kolam Garjitawati dan Pasarean Ledok Sari yang juga berada di bagian Selatan, serta beberapa bangunan yang berdiri di sisi sebelah Timur danau buatan hingga kearah Timur dan Tenggara Kompleks Magangan.

Salah Satu Sudut Taman Sari Jogja (foto: tribunnews.com)

Namun, sebagian besar dari kompleks bangunan yang sangat fenomenal pada jamannya tersebut saat ini kondisinya sangat memprihatinkan, ada yang hanya tinggal puing-puingnya saja, bahkan ada bangunan yang hanya tinggal namanya saja karena telah beralih wujud dan juga beralih fungsi. Sisa-sisa kemegahan dan keindahan Taman Sari yang saat ini masih dapat dinikmati hanya tinggal bangunan yang berada di sebelah Barat Daya Kompleks Kedhaton.

Daya Pesona Taman Sari Jogja

Meski tidak seindah dan semegah pada waktu masih difungsikan, daya pesona yang dipancarkan Taman Sari masih dapat dinikmati hingga saat ini, utamanya dari sisi artistik dan keunikan bangunannya. Pesona tersebut sudah dipancarkan di depan pintu gerbang masuk lewat ornamen pada dinding gapura yang berbentuk ukiran-ukiran cantik.

Sumur Gemuling di Taman Sari Jogja (foto: blog.reservasi.com)

Melewati dua pintu ke dalam, akan terlihat dua buah kolam dengan airnya yang berwarna kebiru-biruan menyambut kedatangan Anda. Karena objek wisata ini merupakan cagar budaya dan bukan kolam pemandian, sudah barang tentu kolam berair jernih tersebut tidak boleh digunakan mandi dan berenang, kecuali hanya untuk dipandang.

Kedua kolam tersebut adalah salah satu bagian dari tiga area kolam pemandian yang ada di Taman Sari. Ketiga area kolam pemandian tersebut masing-masing bernama Umbul Kawitan untuk kolam putri-putri raja, Umbul Pamuncar untuk kolam para selir raja, serta Umbul Panguras yang merupakan kolam khusus raja. Di area kolam ini dihiasi ornamen menyerupai air mancur dengan bentuk kepala naga dan disekelilingnya dihiasi pot-pot bunga untuk menambah daya tarik interior.

Suasana di Dalam Masjid Soko Guru di Taman Sari Jogja (foto: akusenang.com)

Masih di sekitar area kedua kolam, terdapat sebuah gapura panggung yang dahulu hanya boleh dimasuki Sultan dan keluarganya. Diatas ketinggian gapura inilah Sultan menikmati indahnya pemandangan Taman Sari yang dahulu masih dilengkapi dengan danau buatan serta taman yang menghampar berhias berbagai macam jenis bunga. Disini pula Sultan sekali waktu  menikmati tarian yang diiringi musik gamelan.

Di area yang dulu menjadi tempat pribadi Sultan tersebut dapat dilihat sebuah periuk yang dulu digunakan oleh istri-istri raja untuk bercermin serta almari pakaian Sultan. Gapura panggung itu sendiri dilengkapi dengan tangga yang terbuat dari kayu jati dengan kondisi yang masih kokoh dan berkesan antik.

Bangunan berikutnya yang ada di Taman Sari adalah Gapura Agung yang menjadi tempat pemberhentian kereta kencana yang dinaiki Sultan dan keluarganya. Gapura yang menjadi pintu masuk keluarga Sultan ini didominasi ornamen berbentuk bunga dan sayap burung.

Tidak jauh dari Gapura Agung, terdapat pesanggrahan yang dahulu digunakan Sultan sebagai tempat untuk bersemedi dan menyusun strategi perang, serta untuk menyimpan baju perang, senjata dan menyucikan keris. Di depan Pesanggrahan terdapat pelataran yang digunakan para prajurit untuk berlatih perang.

Pintu Belakang Taman Sari Jogja (foto: blog.reservasi.com)

Tempat menarik lainnya yang ada di Taman Sari adalah Sumur Gumuling yang berfungsi sebagai masjid bawah tanah. Masjid ini terdiri atas dua tingkat berbentuk melingkar 360 derajat dengan bagian tengah berlubang dan didesain untuk menghasilkan tata akustik yang baik. Sehingga pada saat imam memimpin sholat, suaranya bisa terdengar ke seluruh penjuru ruangan. Pada bagian tengah masjid yang berlubang terdapat space berbentuk persegi yang di sekelilingnya dihubungkan 5 anak tangga. Kemungkinan dahulu digunakan untuk mengumandangkan adzan.

Karena bangunan masjid bawah tanah ini sangat unik dan artistik, membuatnya kerap dijadikan sebagai lokasi pengambilan foto prewedding. Hanya saja untuk menuju masjid bawah tanah ini, Anda harus berjalan menuruni anak tangga dan melewati lorong-lorong yang panjang.

Tempat terakhir yang masih tersisa di Taman Sari adalah Gedung Kenongo. Gedung tertinggi di Taman Sari ini dahulu berfungsi sebagai tempat bersantap raja. Di sini dapat Anda nikmati indahnya golden sunset dan seluruh bagian dari Taman Sari, termasuk dinding tebal berwarna putih dengan tinggi antara 2 – 4 meter yang mengelilingi seluruh bangunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *